«

»

Irwan Prayitno dan Sampah

20 Juni 2012

BEBERAPA waktu yang lalu saya membaca komentar Gubernur, Bapak Irwan Prayitno, tentang sukses story Tour de Singkarak (TdS). Event balap sepeda internasional yang dilaksanakan dengan etape yang didisain menyentuh/singgah di daerah-daerah pilihan di Sumatra Barat. Pak Irwan mengutip fakta, hampir di seluruh daerah persinggahan para pembalap yang datang dari berbagai belahan dunia itu terkesan dengan keindahan, keramah-tamahan dan suguhan tuan rumah, baik berupa kesenian maupun kuliner.

Puas sampai di situ? Belum. Gubernur menyentuh hal yang amat fundamental dalam dunia pariwisata, yang sama seekali nyaris belum dimiliki oleh hampir semua kabupaten/kota di Sumatra Barat, yaitu soal kebersihan.

Siapapun pasti sepakat, seindah apapun pemandangan, seenak apa pun makanan dihidangkan, tapi kalau lokasi pemandangan dan makanan yang dihidangkan itu jorok, apalagi bau dan berlangau, lokasi wisata tersebut takkan didatangi orang dan hidangan takkan disentuh sama sekali.

Dalam hal kebersihan, ambil contoh Singapura. Di negara pulau/kota itu tak ada satupun, sekali lagi : tak ada satupun, keindahan alam yang bisa menarik perhatian wisatawan. Namun karena kota itu sangat-sangat bersih, bangunan kota dan jalan rayanya tertata demikian rupa, dan pusat-pusat rekreasi serta pusat belanja ditata dengan amat baik, kini kota itu menjadi salah satu tujuan wisata dunia.

Kebersihan Singapura ditopang tiga tonggak. 1. Aturan yang jelas. 2. Hukum yang tegas, dan 3. Masyarakat yang dispilin.

“Aturan yang jelas/regulasi,” dibuat oleh eksekutif dan legislatif. Dalam menegakkan regulasi, hukum yang tegas dijalankan tanpa kompromi dan tidak pandang bulu. Tak ada sogok menyogok. Akibatnya disiplin menjadi budaya dan bahagian hidup yang amat penting di tengah masyararakat, termasuk disiplin bersih di rumah sampai dimanapun. Antara lain tidak membuang sampah di sembarang tempat. Budaya dan disiplin ini dipatuhi mulai dari anak-anak sampai orang yang akan masuk liang lahat.

Bagaimana dengan masyarakat Sumatra Barat? Budaya kita tentang kebersihan dapat disimpulkan dalam sebuah pemeo: “emangnya gue pikirin. Kan ada pemerintah yang menggaji petugas kebersihan.

Maka sampahpun terserak dan berselemak peak mulai dari rumah, jalan bahkan kantor-kantor pemerintah dan swasta. Padahal, apapun agama yang dianut oleh warga Sumatra Barat, pasti menganjurkan hidup bersih. Pasti. Apalagi penduduk Sumatra Barat “mayoritas mutlak” adalah Islam, yang mengajarkan, “Kebersihan adalah Setengah dari Iman.”

Artinya, yang berpendapat “emangnya gua pikirin soal kebersihan, berarti langsung atau tidak langsung, dia juga menganut paham “emangnya gua pikirin ajaran-ajaran agama itu.” Nah, sadis dan sarkatis jadinya, kan?

Tapi begitulah, kita sepakat dengan Pak Irwan Prayitno, soal kebersihan negeri ini memang sudah sampai pada tingkat “amat memprihatinkan.” Seharusnya, di negeri yang berbudaya amat tinggi ini, negeri indah dan masyarakatnya mencintai keindahan ini, yang tercermin lewat lagu, pantun petatah-petitih, sajak dan pidato, dan agamanya mengajarkan bahwa “kebersihan merupakan sebagaian dari iman” itu, kebersihannya akan mengalahkan Singapura. Sebab, mayoritas penduduk Singapura adalah “kapie”, yang tak mengenal ajaran “kebersihan adalah sebagian dari iman,” sebagaimana jadi anutan muslim di Sumatra Barat yang jumlahnya merupakan mayoritas mutlak.

Tapi baiklah, sementara nasi masih belum menjadi bubur, dimana peran pers dalam soal ini? Kritik adalah bahagian dari tugas dan tanggung jawab pers. Tapi kenapa koran hanya dipenuhi kritik tentang korupsi, rampok, rampas, bunuh, dan selingkuh melulu? Bukankah mendorong agar masyarakat hidup bersih, dari rumah sampai ke manapun, baik anak-anak apalagi orang dewasa, adalah juga tugas pers yang tak kalah pentingnya, dan terklasifikasi dalam tugas pers yang berbunyi “ikut mencerdaskan kehidupan bangsa?”

Bagaimana bangsa akan cerdas, kalau dari rumah sampai ke pasar hidupnya dikerubuti langau? Jelas tidak seekstrim itu benar tapi, sekali lagi, tidak dispilinnya masyarakat dalam hal sampah menyampah ini, yang menyebabkan sampah bertebaran dimana saja dan kapan saja, sudah sampai ke tingkat yang amat memprihatinkan.

Barangkali, Pak Gubernur, seluruh pegawai negeri sipil sampai ke isteri dan anak-anaknya, bisa dijadikan pionir atau pilot proyek dalam hal ini. Mereka tidak saja “dipaksa” hidup bersih mulai dari lingkungan rumah, di jalan dan di kantor, tapi sekaligus juga diberi “wewenang” untuk menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Siapapun, kapanpun dan dimanapun, sebagaimana dilakukan warga Singapura sampai hari ini.

Bupati dan walikota bisa memasukkan “program kebersihan” ini untuk ditaati anak sekolah di seluruh tingkat. Sekaligus kepada anak-anak sekolah itu diberi pula “wewenang” untuk menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Siapapun, kapan pun dan dimanapun, termasuk guru atau ayah dan ibu mereka sendiri. Hanya dengan cara ini hidup bersih, dan bersih di mana-mana, bisa menjadi budaya dalam masyarakat Sumatra Barat.

Selanjutnya, armada pengangkut sampah dan petugas kebersihan memang perlu dilipatgandakan, di seluruh kabupaten/kota. Hal ini jelas akan menyedot anggaran yang tidak kecil. Namun hal itu amat diperlukan, untuk menjadikan negeri ini bersih. Manfaat yang utama adalah untuk anak negeri sendiri, syukur-syukur dengan kebersihan itu wisatawan semakin banyak yang datang, dan betah di sini berlama-lama.

Sampah dan kebersihan nampaknya soal yang sepele. Padahal kebersihan adalah bahagian dari “tiang kehidupan.” Itu sebab seorang gubernur, Iwan Prayitno, sampai merasa perlu membahasnya di surat kabar (ini).
Salam. (*)

Makmur Hendrik

Singgalang 20 Juni 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>