«

»

Porprov XII

28 Desember 2012

Catatan penting Porprov XII adalah munculnya komitmen sejumlah daerah bahwa; tak masalah tak juara, asal atlet yang diturunkan  asli produk daerah sendiri.

Oleh Irwan Prayitno

Jalan raya sekitar gelanggang olahraga Singa Harau Kabupaten 50 Kota nyaris macet total. Jejeran mobil dan sepeda motor sepanjang belasan kilometer seolah tak sabar ingin menembus kemacetan tersebut.  Sasaran utama yang ingin dituju adalah gelanggang olahraga Singa Harau. Hari itu adalah saat dimulainya pagelaran helat besar Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) XII Sumatera Barat.

Kami ikut terjebak dalam kemacetan itu. Meski  sudah dipandu oleh kendaraan patroli kawal di barisan depan, namun kendaraan rombongan, termasuk Bupati 50 Kota Alis Marajo, Walikota Payakumbuh Reza Pahlevi dan rombongan lainnya dari unsur Muspinda, masih terperangkap macet. Kendaraan bergerak lambat, seperti beringsut.

Tak heran jika kawasan Sarilamak – Tanjung Pati tersebut menjadi sesak. Sebanyak 9000 atlet, official dan keluarga atlet, dari seantero Sumatera Barat berkumpul di sana untuk adu prestasi di 30 cabang olahraga (cabor). Tak kurang 585 medali emas, perak dan perunggu diperebutkan dalam iven provinsi sekali dua tahun ini. Masyarakat Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh juga  seperti tumpah ikut meramaikan suasana.

Sport (olahraga) berasal dari bahasa Latin ”disportare” atau “deportare”,  artinya menyenangkan, menghibur,  bergembira, sekaligus memelihara kesehatan jasmaniah. Dapat dikatakan bahwa sport ialah aktifitas manusia untuk menghibur diri sambil memelihara kesehatan jasmaniah. Dengan kata lain, olahraga adalah kegiatan yang menyenangkan, bergembira, menghibur sambil meningkatkan kesehatan jasmaniah.

Banyak bukti sejarah menunjukkan bahwa kegiatan olahraga telah dilakukan manusia sejak 30.000 tahun lalu. Bukti zaman prasejarah tersebut berupa lukisan yang ditemukan di goa-goa batu yang menggambarkan atifitas olahraga yang dilakukan nenek moyang manusia tempo dulu. Olahraga yang digambarkan diantaranya renang dan memanah.

Di Cina olahraga telah dilakukan masyarakat setempat sejak 4000 tahun sebelum masehi. Olahraga yang terkenal di Cina saat itu adalah senam. Karena itu hingga kini olahraga senam, pertunjukan akrobatik, masih didominasi oleh Cina. Berikutnya, cabang olahraga makin banyak berkembang di  jaman Kerajaan Yunani Kuno. Diantaranya gulat, lari, tinju, lempar lembing, lempar cakram, dan balap kereta kuda. Dari sini pulalah lahirnya cikal bakal iven olahraga dunia Olympiade, berasal dari nama sebuah gunung di Yunani, yaitu Gunung Olympus.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan umat Islam untuk berolahraga. Nabi menganjurkan ummat Islam untuk berolahraga berkuda, memanah dan berenang, karena olahraga itulah yang cocok saat itu. Olahraga dirasakan penting karena bermafaat untuk mempertahankan kesehatan jasmani, sedangkan kesehatan jasmani penting untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Olahraga penting bagi umat Islam, sejauh tidak menyalahi syariat Islam.

Tentu saja iven olahraga seperti Porprov di Sumatera Barat menjadi penting dan mendapat  perhatian besar dari masyarakat.  Seperti diuraikan di atas tadi, iven olahraga selalu menyedot perhatian karena memiliki unsur menghibur serta menciptakan suasana gembira. Sedangkan bagi atlet, kegiatan olahraga penting untuk meningkatkan kesehatan jasmani, sekaligus menjadi ajang untuk mengukir prestasi.

Atlet-atlet yang terseleksi mulai dari tingkat kelurahan, nagari lalu kecamatan, kabupaten, lalu berkompetisi di tingkat provinsi.  Juara di tingkat provinsi selanjut akan berkompetisi di tingkat nasional dan slenajutnya internasional bahkan tingkat dunia, jika mereka mampu.

Dalam pembinaan prestasi atlet inilah diminta keseriusan semua pihak, baik atlet, pelatih, official maupun pembina. Kaderisasi atlet, melahirkan juara, bukan perkara yang bisa selesai semalam atau dua malam. Melahirkan juara sejati butuh pembinaan sejak dini, mungkin butuh waktu yang cukup panjang. Namun hal itu takkan terasa jika dilakukan secara rutin dan terus menerus.

Catatan penting Porprov XII adalah munculnya komitmen sejumlah daerah bahwa; tak masalah tak juara, asal atlet yang diturunkan  asli produk daerah sendiri. Apa yang mereka lakukan sudah benar dan tepat sekali.  Seperti kata pribahasa, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kita yakin, jika masing-masing daerah membina atletnya dengan serius dan sungguh-sungguh, pastilah mereka akan menjadi juara sejati yang nantinya tidak hanya menjadi juara porprov, tetapi juga juara nasional bahkan internasional, bukan juara dadakan atau sesaat.

Siapa yang tak akan senang dan bangga jika putra daerahnya menjadi juara nasional bahkan internasional? Yosita Hapsari, peraih 3 medali emas pada PON XVIII di Riau baru-baru ini adalah salah satu contoh. Ia memperoleh bonus lebih dari setengah miliar rupiah, ia juga mendapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat dan sejumlah fasilitas lainnya. Siapa menyusul berikutnya…?. ***

Singgalang 26 Desember 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>