«

»

Silat Minang

26 November 2014

Pada 11 November lalu, saya menghadiri acara yang diinisiasi oleh Fadli Zon di Padang Panjang. Di acara tersebut berkumpul delegasi sembilan aliran silat Minang dan empat aliran pencak Sunda.
Sembilan aliran silat Minang itu adalah silat Kurami, Sungai Patai, Pauh, Kumango, Sitaralak, Tuo, Batumandi, Paingan, dan Sunua. Sedangkan empat aliran pencak Sunda adalah Cimande, Bela, Sang Saka Buana dan Panglipur.
Acara ini sangat menarik, karena sepengetahuan saya belum pernah diadakan pertemuan antara pelaku silat Minang dan pencak Sunda. Pertemuan ini selain menguatkan silaturahim antar budaya juga ikut melestarikan budaya Indonesia, bahkan bisa memberi inspirasi kepada generasi muda untuk gemar olahraga beladiri.
Jika ditelusuri asal-muasalnya, silat Minang berkembang dengan cara guru menurunkannya ke murid. Salah satu sumber yang bisa ditelusuri, silek tuo yang berasal dari daerah Pariangan, Tanah Datar. Silek Tuo ini dikembangkan oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang.
Kemudian para muridnya yang mewarisi ilmu silat tersebut mengembangkannya di nagari Agam Bawah dan Sungai Pua.
Selain Silek Tuo, ada pula Silek Kumango Sungai Pua, Silek Lintau, dan Silek Kumango. Silek Kumango Sungai Pua diciptakan Angku Kumango, dan diturunkan kepada Angku Kecih di Sungai Pua, dan berlanjut hingga kini.
Sedangkan Silek Lintau diciptakan oleh Tuanku Berapi dari nagari Lintau Buo, lalu diturunkan dan dikembangkan hingga kini. Sementara Silek Kumango diciptakan oleh Abdurrahman Al Khalidiyah dari nagari Kumango kecamatan Sungai Tarab, Tanah Datar.

Para perantau Minang telah membawa ilmu silat Minang ini hingga ke mancanegara, terutama Asia Tenggara. Silat Minang dalam sejarahnya menyatu dalam upacara adat Minang. Di masa penjajahan, silat Minang menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan bela negara selain sebagai ilmu beladiri dan seni (adat).
Dalam pandangan saya, silat Minang saat ini sudah kurang pamornya di kalangan generasi muda. Padahal jika melihat sejarahnya, silat Minang merupakan ajang pembentukan karakter kaum lelaki Minang. Dulu ketika budaya surau sangat kuat, silat Minang diajarkan bersama dengan ilmu agama. Silat dan ilmu agama ibarat dua sisi dalam satu mata uang pada saat itu.
Silat Minang maupun pencak Sunda sama-sama menjadikan kekuatan spiritual sebagai basis kekuatan beladiri. Misalnya, aliran Cimande yang merupakan cikal bakal pencak Sunda. Kata Cimande mengandung filosofi agar hidup seimbang dunia dan akhirat, pribadi dan sosial, lahir dan batin, serta materi dan nilai. Cimande memiliki filosofi ketergantungan hanya kepada Allah SWT.
Semakin banyak generasi muda yang aktif mengikuti kegiatan ilmu beladiri, akan semakin berkembang berbagai karakter positif pada diri mereka seperti sportifitas, kemandirian, kejujuran dan lainnya.
Pendidikan ala surau yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu beladiri saat ini memang sudah langka, namun kita bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada saat ini. Umar bin Khattab r.a pernah berpesan agar orang tua mendidik anak-anak mereka sesuai jamannya karena anak-anak tersebut tidak hidup di jaman orang tuanya.
Saya memberikan apresasi kepada para kepala daerah maupun sekolah yang menjadikan silat Minang sebagai sebuah kegiatan ekstra kurikuler di wilayah/sekolahnya, apalagi jika ada yang mewajibkannya. Semoga silat Minang tetap terpelihara dan harapan saya semakin banyak pihak yang termotivasi untuk memeliharanya. (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 26 November 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>