«

»

Mengenal Irwan Prayitno

23 Agustus 2015

Selama dua minggu terakhir, media cetak di Sumbar memuat informasi tentang sisi lain kehidupan seorang Irwan Prayitno. Termasuk POSMETRO Padang, yang juga menyajikan informasi tentang sosok Mantan Gubernur Sumbar itu. Informasi tersebut digali melalui wawancara dari orang-orang terdekat di sekeliling Irwan Prayitno, mengamati aktivitas Irwan Prayitno sehari-hari dan berbagai literature tentang Irwan Prayitno.

Hadirnya informasi tentang sosok Irwan Prayitno itu, karena selama ini cukup banyak kehidupan pribadinya yang belum terungkap ke publik.  Hal ini dikarenakan selama menjabat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno selalu disibukan dengan jadwal kegiatannya yang begitu padat.  Ketertarikan POSMETRO mengungkap sisi lain kehidupan Irwan Prayitno, karena Mantan Gubernur Sumbar tersebut tergolong unik. Irwan Prayitno  seorang kepala daerah yang multi talenta atau serba bisa.

Di bidang seni, Irwan Prayitno memiliki skill bermain drum dan pandai bernyanyi. Irwan Prayitno juga seorang yang bernyali dengan memilih olahraga yang menantang maut mengendari motor trail. Dia juga seorang atlet karate sabuk hitam. Tidak hanya itu, seorang Irwan Prayitno saat taat beribadah, pandai berceramah dan berdakwah. Selain itu, juga sangat cerdas karena telah menyelesaikan kuliha hingga program S3 di Negeri Jiran.

Dari sekian banyak sisi lain kehidupan Irwan Prayitno yang terungkap melalui informasi Sosok IP yang disajikan setiap. Kali ini POSMETRO mengulas rangkuman perjalanan hidupnya.

Irwan Prayitno lahir 20 Desember 1963, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Djamrul Djamal yang berasal dari Simabua Kabupaten Tanahdatar. Ibunya Sudarni berasal dari Pauh IX, Kecamatan Kuranji Kota Padang.  Kedua orangtua Irwan Prayitno, lulusan PTAIN Yogyakarta dan berprofesi sebagai dosen IAIN Imam Bonjol. Sebelum tinggal di Padang, keluarga Djamrul Djamal menetap di Semarang, hingga Irwan Prayitno berusia tiga tahun. Kemudian pindah ke Cirebon saat Irwan Prayitno memasuki usia sekolah dasar.

Tahun 1970 hingga 1976, Irwan Prayitno menjalani pendidikan di SDN 4, Kebon Baru, Cirebon. Setelah tamat SD, Irwan Prayitno pulang ke Padang dan menjalani pendidikan di SMP 1 Padang, tahun 1976 – 1979.Setelah tamat SMP, Irwan Prayitno melanjutkan sekolahnya ke SMA 3 Padang. Selama belajar di SMA 3 Padang inilah, Irwan Prayitno mulai aktif dalam kegiatan organisasi sekolah. Dirinya menjalani dua kali kepengurusan OSIS.

Selain aktif di organisasi sekolah. Irwan Prayitno juga termasuk salah seorang siswa yang cerdas. Pada tahun kedua dan ketiga, dirinya berhasil meraih juara pertama di kelasnya. Jiwa dan bakat kepemimpinan yang terdapat dalam dirinya sudah terlihat sejak sekolah. Dirinya selalu dipercaya oleh teman-teman sekelasnya untuk menjadi ketua kelas.

Setelah tamat SMA tahun 1982, Irwan Prayitno melanjutkan pendidikan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Selama kuliah, dirinya mulai melakukan pengembangan potensi diri dengan aktif dalam diskusi-diskusi, dakwah dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Dirinya bergabung dan aktif dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta “Semua aktivitas saya ikuti, demi ingin mengembangan diri saya. Saya aktif dalam kegiatan diskusi, dakwah dan ikut bergabung dalam organisasi HMI,” terang Irwan Prayitno.

Bahkan pada pada 1984, Irwan Prayitno diangkat menjadi Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Irwan Prayitno juga aktif dalam pergerakan Islam, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlak. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus.

Saat masih kuliah, di usianya yang ke- 22 tahun, Irwan Prayitno menikah dengan Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga. Selama menjadi mahasiswa, Irwan Prayitno bahkan sudah dikarunia dua orang anak, hasil pernikahannya.

Cukup berat perjuangan Irwan Prayitno untuk dapat menyelesaikan kuliahnya. Selain aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan dakwah. Irwan Prayitno harus bakureh dengan mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Kerja kerasnya mencari nafkah dilakukan untuk dapat membiayai uang kuliah, menghidupi dirinya bersama istri dan dua anaknya.

Meskipun cukup berat perjuangan yang dilaluinya. Namun, Irwan Prayitno berhasil menamatkan kuliahnya. Meskipun dirinya cukup lama menyelesaikannya, yakni enam tahun dan dengan IPK rendah 2,02. Tamat kuliah, aktivitas dakwah Irwan Prayitno berlanjut dengan mengembangkan kegiatan dakwah di kampus Universitas Andalas dan IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang).

Karena IPK rendah, Irwan Prayitno memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Irwan Prayitno memilih jalan yang berbeda dari mereka yang lebih memilih mulai berjuang mencari kerja setelah tamat kuliah. Hal ini dibuktikannya dengan menolak tawaran kerja sebagai karyawan di PT Semen Padang. “Semen Padang waktu itu membutuhkan tenaga psikologi. Karena tamatan psikologi langka waktu itu. Saya menolak,” terang Irwan Prayitno.

Dirikan Yayasan Pendidikan Adzkia

Irwan Prayitno justru memilih mendirikan bimbingan belajar. Walaupun dengan hanya Rp15 ribu. Cukup nekad dan berani memang. Namun, Irwan Prayitno justru melihat sebuah peluang besar dari kenekatannya itu. “Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal. Saya melihat peluang itu,” terang Irwan Prayitno.

Dengan modal pas-pasan Rp15 ribu yang dimilikinya, Irwan Prayitno mulai mencetak brosur, yang memuat pengumuman penerimaan siswa baru untuk bimbingan belajar. “Brosur tersebut saya cetak satu rim. Kemudian saya pergi ke sekolah-sekolah. Di depan gerbang sekolah saya bagikan satu per satu kepada siswa yang lewat,” terang Irwan Prayitno.

Untuk menjalankan rencananya mendirikan lembaga bimbingan belajar tersebut, Irwan Prayitno mengajak kawan-kawannya yang dapat bekerjasama. Semangatnya bersama teman-teman, lalu akhirnya terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial.

Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan Prayitno berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan. “Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,” ujarnya.

Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, diantaranya, Prof Syukri Arief. Mereka umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.

Perjuangan untuk membuat Adzkia tetap eksis cukup berat. Bahkan tidak jarang, tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama, di PGAI pindah ke Jalan Raden Saleh, kemudian ke Jalan Diponegoro. Selanjutnya pindah lagi ke Jalan Belakang Olo, Simpang Damar.  Setelah sering berpindah-pindah, Irwan Prayitno akhirnya mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kecamatan Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah mulai dibangun. Kemudian membeli tanah di sekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi tujuh cabang yang tersebar di Kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SDIT, SMPIT, SMAIT dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi. “Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,” sebutnya.

Tuntaskan Pendidikan hingga S3

Seiring berkembangnya Yayasan Pendidikan Adzkia, kehidupan Irwan Prayitno mulai mapan. Namun, kesuksesan dirinya mengembangkan Yayasan Pendidikan Adzkia, tidak membuat dirinya lupa akan arti penting ilmu pengetahuan. Dirinya melanjutkan pendidikan dengan mengambil program S-2 di Universiti Putra Malaysia, Selangor. Irwan Prayitno mengambil program Pendidikan Bidang Human Resource Development Untuk mengambil kuliah S2 di Negeri Jiran itu bukan tanpa cobaan. Irwan Prayitno yang membawa serta istri dan anaknya ke Malaysia.

Namun, karena IPK rendah, lamarannya untuk mengambil S2 sempat beberapa kali ditolak. Irwan Prayitno kemudian bertemu dengan Pembantu Rektor UPM. Kepada Prof. Hasyim Hamzah. Irwan Prayitno menyatakan kesanggupan menyelesaikan studi dalam tiga semester. Irwan Prayitno berhasil membuktikan janjinya. Dirinya tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal, tiga tahun pada 1996.

Tidak puas hanya menyelesaikan S2, Irwan Prayitno melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama. Selama di Selangor, selain kuliah, Irwan Prayitno harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke Eropa dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.

Di tengah kesibukannya tersebut, Irwan Prayitno kemudian terjun ke dunia politik. Dirinya dicalonkan oleh Partai Keadilan sebagai anggota legislatif DPR. Padahal saat itu Irwan Prayitno tengah mempersiapkan ujian akhir S-3. Dirinya dapat merampungkan kuliahnya untuk gelar PhD dengan IPK cumlaude 3,97 pada tahun 2000. Dirinya kemudian kembali ke Indonesia, ia berbagi tugas di legislative sebagai anggota DPR-RI dan kegiatannya di bidang akademisi.

Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008. Pada tahun 2010, Irwan Prayitno bertarung pada pelaksanaan Pemilihan Gubernur Sumbar. Dirinya berhasil memenagkan pertarungan tersebut dan menjadi Gubernur Sumbar sejak dilantik 15 Agustus 2010 hingga 15 Agustus 2015.

Hobi Menulis

Irwan Prayitno memiliki hobi suka menulis. Dalam perjalanan hidupnya, Irwan Prayitno mampu menghasilkan sekitar 500 lebih karya artikel. Hampir seluruh karya artikelnya telah dimuat di berbagai media cetak. Tidak hanya artikel, Irwan Prayitno juga telah menghasilkan karya 34 buku.

Walau pun sedang banyak menghadiri kegiatan selama menjadi gubernur, di sela-sela kegiatan dirinya menyempatkan mengetik artikel melalui handphone miliknya. “Kadang ketika di sela-sela acara itu, muncul sebuah ide pemikiran. Saya tuangkan saja ide itu dengan mengetik di handphone saya,” terangnya.

Setelah ketikan selesai, Irwan Prayitno meminta sekretaris pribadinya untuk menuangkan ketikan ke atas kertas. “Ya, hasilnya seperti kertas artikel ini. Saya baca lagi, saya edit. Kemudian saya minta anggota saya mengirim ke media,” ungkapnya.

Diungkapkan Irwan Prayitno, kebiasaannya menulis sudah dilakoninya sejak duduk di bangku SMA 3 Padang. Waktu masih SMA, dirinya sering menulis apapun tentang kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Termasuk hal-hal baru yang ditemukannya. “Seperti saat saya pulang jalan-jalan waktu SMA, saya tulis apa saja pengalaman saya waktu jalan-jalan. Kadang-kadang karya tulisan yang dibuat saya tempel di majalah dinding sekolah,” terang Irwan Prayitno.

Kebiasaan tersebut, menurutnya berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya menulis artikel, dirinya juga membuat berbagai karya buku. Irwan Prayitno mengakui, ada kepuasan bathin yang dirasakannya setelah menulis. Kepuasan bathin tersebut memunculkan sebuah perasaan bahagia dalam dirinya. “Bathin saya puas setelah menulis. Ada kebahagiaan yang muncul dalam diri, ketika melihat hasil karya saya,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengungkapkan, dirinya pertama kali menulis buku, saat menyelesaikan kuliah S-1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1982-1988). Buku karya pertamanya berjudul “Anakku, Penyejuk Hatiku”. Buku tersebut memuat tentang ilmu bagaimana mendidik anak dari perspektif ilmu psikologi. Ide lahirnya buku itu berangkat dari pengalaman Irwan Prayitno yang sudah memiliki anak.

Selain itu, juga memuat tentang bagaimana pendidikan anak di PAUD. Buku karya pertamanya tersebut, setebal 700 halaman. Irwan Prayitno tidak menyangka, buku karya pertamanya yang dicetak tahun 1990 tersebut, laris manis. Bahkan, sudah lima kali cetakan, sudah habis terjual.

Selain buku berjudul Anakku, Penyejuk Hatiku, ada beberapa judul buku psikologi anak lainnya yang ditulis Irwan Prayitno, yakni buku berjudul “Ajaklah Anak Bicara”, “Ketika Anak Marah”, ”24 Jam Bersama Anak”, “Membangun Potensi Anak” dan “Tips Bergaul dengan Anak”. Tidak hanya menulis buku tentang psikologi anak, Irwan Prayitno juga menulis beberapa buku tentang pendidikan Islam, pendidikan masyarakat dan management SDM.

Irwan Prayitno menulis buku, sesuai dengan apa saja kegiatan dan lingkungan yang dihadapinya. Dia mencontohkan, saat dirinya melaksanakan kegiatan sosial dan dakwah, maka dirinya membuat buku tentang dakwah dan pendidikan Islam. Saat dirinya sedang mengikuti pendidikan untuk meraih gelar doctor bidang SDM, maka dirinya membuat buku tentang SDM. Begitu juga ketika dirinya mulai memasuki dunia politik, maka dirinya akan membuat buku tentang politik.

Namun, diakui Irwan Prayitno, selama dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumbar, belum satupun karya buku yang dilahirkannya. Kondisi ini terjadi karena dirinya cukup sibuk dengan pekerjaan melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno berniat suatu saat nanti akan membuat sebuah buku tentang pengalamannya menjadi Gubernur Sumbar. “Mungkin nanti. Saya akan menulis buku tentang pengalaman saya menjadi Gubernur Sumbar,” harapnya.

Dikarunia 10 Anak

Irwan Prayitno bersama istrinya Nevi Zuairina, dikarunia 10 anak. Masing-masing, Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan Taqiya Mafaza. Kebahagiaan Irwan Prayitno terasa lengkap. Karena selain 10 anak, Irwan Prayitno juga dikarunia tiga cucu, yakni Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya, Syakira Aulia.

Sebuah keluarga besar memang. Sebagai kepala keluarga, Irwan Prayitno memiliki tanggungjawab besar membesarkan dan mendidik 10 anak-anaknya, khususnya pendidikan dan membimbing menjadi anak yang sholeh.

Tidak dipungkirinya, dirinya harus bekerja ekstra keras, membagi waktu melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar, di sisi lain dirinya harus mencurahkan perhatian untuk anak-anaknya.

Namun, Irwan Prayitno berhasil melaksanakan amanah itu dengan memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Anak-anaknya mampu kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dan luar negeri. Anak pertama Irwan Prayitno, Jundi Fadhlillah yang telah menikah Aisyah Ramadhani, berhasil menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Jurusan Manajemen dan Southern New Hampshire University, Amerika Serikat.

Berikutnya, anak kedua Irwan Prayitno, Waviatul Ahdi yang menikah dengan Irfan Aulia Saiful menamatkan kuliah di FKG Universitas Indonesia (UI). Kemudian, Dhiya’u Syahidah yang menikah dengan Fallery, menamatkan kuliah di SBM ITB dan Westminster University. Anwar Jundi, kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB dan Atika saat ini kuliah di FE UI, Ibrahim (kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI).

Sementara, Shohwatul Islah, sekolah di SMA 1 Padang, Farhana (SMA 1 Padang, Laili Tanzila (SDIT Adzkia) dan si bungsu Taqiya Mafaza (SDIT Adzkia). Bagaimana bisa seorang Irwan Prayitno bersama Istri Nevi Zuairina berhasil memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya.

Kepada POSMETRO, Irwan Prayitno menuturkan, rahasianya, selalu membangun komunikasi. Irwan Prayitno mengakui, dirinya selalu memantau perkembangan 10 anaknya. “Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, saya selalu memantau perkembangan anak-anak saya,” terang Irwan Prayitno.

Manjada Wa Jadda

Semua kesuksesan Irwan Prayitno baik dalam karirnya tidak terlepas dari  nasehat orang tuanya. “Almarhumah waktu saya kecil berpesan, apo se nan di karajoan harus basungguah-sungguah. Kato Nabi jo di dalam Al Quran, kalau basungguah-sungguah, pasti dapek hasilnyo. Manjada Wa Jadda” ungkap Irwan Prayitno, mengenang pesan Almarhumah Ibundanya Sudarni Sayuti.

Kesungguh-sungguhan itulah kuncinya. Serta tidak lupa selalu bersyukur dan banyak beribadah. Irwan Prayitno mengungkapkan, selama ini dirinya selalu ruitn melaksanakan  badah puasa Senin dan Kamis. Pria yang pernah mengikuti Kursus Singkat Angkatan (KSA) XIII, Lemhannas RI itu. Puasa tersebut sudah menjadi kebiasaannya, sehingga semuanya dijalaninya dengan baik.

Selain puasa, Irwan Prayitno menyebutkan, di pagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh, dirinya memulai aktivitas dengan zikir ma’tsurat. Zikir setelah shalat subuh tersebut, tidak pernah ditinggalkannya. “Dengan mengamalkan zikir tersebut, saya mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Zikir ini juga dapat menjauhkan kita dari niat buruk orang terhadap kita,” sebutnya.

Tidak hanya zikir ma’tsurat. Masih banyak ibadah lainnya. Salah satunya shalat dhuha. Di tengah kesibukannya melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno tidak pernah melalaikan kewajibannya menunaikan shalat dhuha, demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Meski tidak jarang kadang mencuri waktu di sela agenda kerjanya yang sangat padat saat jadi gubernur.

Shalat dhuha dilaksanakannya ketika aktivitasnya telah dimulai di pagi hari. Terkadang, ketika ada perjalanan ke luar daerah, Irwan Prayitno meminta sopirnya berhenti di jalan guna menunaikan shalat dhuha. Sehingga ibadahnya yang satu itu tetap dapat dijalankannya. “Kalau shalat dhuha saya juga selalu laksanakan. Bahkan sering saya minta sopir untuk singgah di jalan agar saya dapat menjalankan ibadah dhuha,”sebutnya.

Irwan Prayitno juga rutin menggelar shalat malam (tahajud). Shalat tahajud menjadi media baginya mengadu pada Allah SWT. Pada keheningan malam, semakin mendekatkannya dengan Allah SWT. Setelah melewati rutinitas siang yang padat, hiruk pikuk kehidupan siang Irwan Prayitno selalu menyediakan waktu untuk shalat malam sebelum istirahat, untuk memulai aktivitas di esok hari.

Irwan Prayitno juga selalu meluangkan waktu membaca Al Quran. Membaca Al Quran disiasatinya dengan meluangkan waktu dijeda pekerjaan. Selain itu, juga pada kegiatan-kegiatan memberikan ceramah agama pada masyarakat.

Sebenarnya kegiatan ibadahnya Irwan Prayitno sudah dijalaninya sejak lama. Tidak hanya ketika telah menjabat Gubernur Sumbar, keinginan itu lahir dalam dirinya untuk membentuk hidup lebih baik. Panutannya beribadah hanya satu, Rasullullah Muhammad SAW. “Saya memang sudah berniat ibadahnya saya tidak terabaikan dengan rutinitas yang begitu padat. Meski melayani masyarakat juga ibadah. Namun ibadah saya langsung dengan Allah SWT tetap utama,” ungkap Irwan Prayitno.

Dari seluruh perjuangan dan perjalanan hidup yang dilaluinya, baik itu melalui pendidikan, dakwah, aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan politik, Irwan Prayitno mengungkapkan semuanya demi keinginannya membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat. “Jika saya jadi PNS maka saya tidak akan bisa berbuat untuk perubahan. Namun, dengan pilihan hidup yang saya jalani saat ini, saya hanya ingin berbuat untuk perubahan agar masyarakat kita lebih baik,” terang Irwan Prayitno.(*)

Posmetro Padang, 23 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>