«

»

Sederhana, Jarang Pakai Lencana

18 Agustus 2015

Irwan Prayitno (IP) berakhir masa jabatannya sebagai Gubernur Sumbar, 15 Agustus 2015. Penjabat (Pj) Gubernur Sumbar yang menggantikannya Dr Reydonnyzar Moenek M Devt M sudah dilantik oleh Mendagri Tjahjo Kumolo, Sabtu (15/8) di Kantor Kemendagri, Jakarta. Usai menjabat, IP meninggalkan banyak kenangan. Salah satunya kesederhanaan yang memupus sekat antara dirinya dan masyarakat.

 

Jarang memakai lencana jabatan Gubernur adalah satu di antara banyak kesederhanaan yang dapat menghilangkan batas antara dia selaku Gubernur dan masyarakat. IP hanya memasang lencana jabatan (atau sering juga disebut sebagai benggol) ketika acara-acara yang sangat resmi sekali. Di luar itu, lencana jabatan tidak terlihat menggelantung di dadanya. Jika sudah demikian, IP pun tak ubahnya seperti orang kebanyakan.

 

“Jangan paksa saya mengubah stile hidup saya, karena bagi saya fasilitas jabatan apa pun adalah sunah, kewenangan justru suatu kewajiban bagi saya,” kata IP pada satu kesempatan. Irwan juga mengatakan ia tak ingin ada pembatas antara dirinya dan masyarakat.

Yongki Salmeno yang dekat dengan IP, menuliskan pengalamannya bersama mantan Gubernur Sumbar dan mantan anggota DPR RI tiga periode tersebut. Yongki mendapati karakter Irwan yang sederhana dan tidak doyan protokoler. Terkecuali sangat mendesak dan terpaksa, saat berpergian dalam kota untuk menghadiri suatu acara, Irwan tidak menggunakan pengawalan mobil bersirine. Terkadang sebagian panitia masih menunggu IP, karena disangka akan tiba dengan pengawalan ketat. Nyatanya Irwan sudah berada di tengah-tengah lokasi acara.

“Seringkali pemilik acara masih menunggu-nunggu kedatangan gubernur dengan menyimak raungan sirene mobil pengawalan. Ternyata sirine itu tak pernah terdengar, gubernur sudah datang tepat waktu tanpa pengawalan dan malah sudah duduk bersama mereka,” tulis Yongki.

Ketimbang menggunakan anggaran yang tersedia, Irwan mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang telah ada. Ia menolak masukan untuk membeli mobil dinas baru dan masih menempati rumah dinas lama. Ketika disodori alasan menutup malu kepada menteri atau pejabat negara lainnya yang datang berkunjung, Irwan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya untuk dijadikan mobil pelat merah.

Saat rekonstruksi kantor pemerintahan yang rusak akibat gempa bumi 30 September 2009, sempat dianggarkan pembangunan kantor baru untuk gubernur. Namun, Irwan mengalihkan penggunaannya untuk tiga SKPD yang kantornya rusak, memilih berkantor menempati rumah dinas lama di Jalan Sudirman.

Rafdinal, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumbar mengatakan selain sederhana, Irwan merupakan sosok yang peduli dengan orang sekitarnya. Hal itu bisa diketahui dari sosok Irwan yang telah  aktif membimbing dan berbagi ilmu dengan adik-adik angkatannya saat di kampus dulu.  Sifat peduli  gubernur Sumbar 2010-2015 ini juga terus melekat hingga sekarang.

Kepedulian tersebut,  kata Rafdinal, salah satunya  bisa dilihat ketika Irwan berkunjung ke lapangan bersama dengan bawahannya dari SKPD.  Untuk ini pada beberapa kunjungan diketahui beliau sedang menjalankan ibadah puasa sunat Senin Kamis seperti yang disebut tadi. Meski sedang menjalankan ibadah  puasa,  Irwan tak pernah ingun jadi beban untuk rombongan yang pergi bersamanya.

“Itu bisa diketahui, saat tiba jadwal makan beliau akan mengajak rombongan  berhenti dan mempersilakan yang tak berpuasa untuk makan.  Selanjutnya, ketika datang waktu shalat, ya, shalat bareng juga. Intinya beliau adalah orang yang pandai membaur dan menempatkan sesuatu pada tempatnya,” katanya.

IP mencalonkan kembali menjadi Gubernur Sumbar (2016-2021) dan berpasangan dengan Drs H Nasrul Abit (NA) yang kini menjabat sebagi Bupati Pesisir Selatan (Pessel). IP-NA dengan segala macam prestasi dan kesuksesannya saat menjadi kepala daerah, dinilai banyak pihak berpotensi memenangkan Pilkada. Selama menjadi Gubernur Sumbar, IP dinilai berhasil membangun kepercayaan masyarakat. Dia pun menjadi pemimpin yang disukai masyarakat.

Prof Dr H Irwan Prayitno, SPsi, MSc Datuk Rajo Bandaro Basa, lahir  20 Desember 1963 dengan istri Hj. Nevi Zuairina. Dia memiliki 10 orang putra dan putri. Mereka adalah; Jundi Fadhlillah (FE Univ. Andalas Jurusan Manajemen, Southern New Hampshire University, US, menikah dengan Aisyah Ramadhani), Waviatul Ahdi (FKG UI, menikah dengan Irfan Aulia Saiful), Dhiya’u Syahidah (SBM ITB, Westminster University, UK, menikah dengan Fallery), Anwar Jundi (Kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan IPB), Atika (Kuliah di FEUI), Ibrahim (Kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI), Shohwatul Islah (SMA 1 Padang), Farhana (SMA 1 Padang), Laili Tanzila (SDIT Adzkia), dan Taqiya Mafaza (SDIT Adzkia). Sedangkan cucu tiga orang, yakni;   Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya dan Syakira Aulia. (h/mg-len/erz/dbsb)

Haluan, 18 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>