«

»

Lebih 840 Kali Kunjungan ke Daerah Selama 5 Tahun

30 September 2015

IRWAN Prayitno bukanlah tipe pemimpin yang senang bekerja di depan meja. Sebagian besar waktunya tersita untuk rakyat dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah. Selama menjabat Gubernur Sumatera Barat, sejak dilantik pada tanggal 15 Agustus 2010 sampai berakhir masa jabatannya pada tanggal 15 Agustus 2015, tercatat lebih dari 840 kali Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa mengunjungi daerah-daerah di Sumatera Barat.

Kebanyakan Irwan berkunjung ke daerah-daerah terisolir yang selama ini belum pernah dikunjungi pejabat lainnya. Seperti daerah Garabak Data di Kabupaten Solok, dan Air Bangis di Kabupaten Pasaman Barat. Tak menunggu waktu lama, setelah daerah yang kaya potensi itu dikunjungi, semua SKPD terkait dikerahkannya, memacu pembangunan di daerah-daerah terisolir tersebut.

 

Dalam doanya, Rasulullah saw memohon kepada Allah swt, “Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku (memimpin rakyat) lalu ia bersikap kejam, maka kejamilah dirinya. Dan barang siapa memegang urusan umatku dan ia bersikap sayang, maka sayangilah dirinya.” (HR Muslim)
Dalam melakukan kunjungan Irwan selalu memiliki energi besar menyambangi rakyatnya. Tak bisa dengan kendaraan, terkadang dia berjalan kaki. Tak bisa dengan mobil dinas, terkadang Irwan menggunakan motor trabas. Tak bisa jalan darat, jalan laut dan sungai pun ditempuhnya. Tak jarang, air mata rakyat meleleh ke pipi ketika disapa Irwan dalam setiap kunjungannya. Betapa tidak, sebagai rakyat kecil yang belum pernah ditegur sapa, apatah lagi disalami pejabat setingkat gubernur, membuat rakyat terharu, dan meluapan keharuannya tersebut dengan air mata.

Mereka selama ini merasa tidak pernah “merdeka”, dalam artian sering terabaikan dari segi pembangunan. Mereka selama ini seakan hidup bak anak piatu, tanpa bapak yang mengayomi. Mereka bak hidup sebatang kara, karena pejabat yang semestinya membuat mereka bahagia dan tersenyum, justru menangis karena tingkah polah yang mereka benci: hidup mewah, doyan korupsi, doyan

menambah istri, benggo terpasang lengkap dengan dasi, dan sering membawa pengawal kemana pergi, seakan ada jarak antara mereka dengan rakyatnya sendiri.

 

Irwan menghapus image tersebut. Dia tampil sederhana, baju yang dikenakan merupakan baju rakyat kebanyakan. Dia merupakan pejabat yang tidak suka bermewah-mewahan, tampil apa adanya, makan seenaknya, di warung nasi pinggiran jalan pun jadi. Tak jarang dalam setiap kunjungannya, dia makan bersama dengan rakyat, ngopi di warung bersama mereka, berbagi cerita tentang kehidupan.
Dalam setiap kunjungannya, Irwan menghindari penyambutan formal. Tak perlu disambut dengan tari gelombang segala, karena dia bukanlah tipikal pemimpin yang selalu menjaga wibawa semu di mata rakyatnya. Kadang kedatangannya hanya disambut di tanah lapang, kadang disambut di bawah rumpun pisang, saat berkunjung ke sawah ladang. Kadang disambut di pinggir kolam saat memberikan bantuan bibit ikan. Makanan pun tak usah dihidangkan mewah-mewah, karena sebagai orang Kuranji, perutnya terbiasa makan gulai cubadak, makan orang kebanyakan.

Hebatnya lagi, Irwan tak suka dikawal berlebih-lebihan dalam setiap kunjungannya. Dia ingin tidak ada batas antara dirinya dengan rakyat. Hanya tiga orang yang selalu mengiringi kunjungannya; satu orang sopir, satu orang ajudan, dan satu lagi staf kepercayaan. Selebihnya hanyalah pejabat teknis yang terkait dengan tema daerah kunjungan. Jika dia mengunjungi masyarakat dalam rangka memberikan bibit ikan, maka yang diajak adalah pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan. Pejabat yang tidak berkepentingan tak usah ikut, karena mereka masih banyak memiliki tanggung jawab pekerjaan yang harus diurus dan dirunut.

 

Seringkali rakyat tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang gubernur, orang nomor satu di daerah mereka. Jangankan rakyat, pejabat setingkat camat pun ragu, apa benar pemuda yang kurus murah senyum ini gubernur? Kalau iya, mana benggo dan atribut lainnya? Ya, Irwan memang tidak suka memakai benggo kemana pergi, tak pula suka memakai dasi. Baginya, cukup SK sebagai Gubernur Sumatera Barat dari sang Presiden RI. Atribut lainnya hanya dipakai jika memang diharuskan, seperti mendampingi presiden dan menteri.
Irwan tipikal pejabat yang setia dengan istri. Sampai saat ini, belum terdengar oleh kita Irwan beristri lagi. Walau anak 10 dan membutuhkan biaya yang sangat besar dalam mengurus keluarga, sampai detik ini, belum pernah kita dengar, Irwan diterpa isu korupsi. Istri dan anak-anaknya malah memakai fasilitas kendaraan pribadi. Mereka tidak suka memakai kendaraan dinas plat merah, karena mereka tahu, semua fasilitas itu diberikan negara kepada suami dan ayah mereka untuk mengurus rakyat, bukan untuk acara keluarga. Apatah lagi membawa kendaraan dinas ke kebun milik pribadi, mobil rusak, pemda ditagih orang dengan kwitansi, itu jauh dari sikap hidup mereka yang taat menjalankan agamanya.

Itulah sekelumit cerita tentang Irwan Prayitno yang selama menjabat Gubernur Sumatera Barat melakukan kunjungan 840 kali lebih ke daerah. Dan walau pun sibuk dengan berbagai kunjungan tersebut, yang rata-rata seminggu 3-4 kali, Irwan masih diberi kesehatan. Tidak pernah sakit dalam mengemban amanah jabatan. Kuncinya adalah ikhlas, menurut Irwan. Sikap ikhlas akan berbuah manis. Orang yang mukhlis akan selalu berfikiran positif.

Dia tak akan pernah terjebak kepada nafsu amarah, tidak akan terjebak sikap riya, tidak akan terjebak oleh hasad dan dengki. Dia akan selalu berfikiran positif dalam memandang suatu persoalan. Dia akan cenderung memaafkan setiap kesalahan orang kepadanya. Sebab ikhlas mendatangkan energi positif yang menggerakan semua persendian. Itulah rahasia energi terbesar Irwan tetap sehat menjalankan amanah jabatan, sehingga dia mampu berkunjung ke daerah-daerah di luar kemampuan pejabat kebanyakan.

 

“Kembangkan sifat kasih sayang dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.” (Imam Ali ra)
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Alumnus Jinayah Siyasah Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang/Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>