«

»

Irwan Prayitno dan Tour de Singkarak

10 Oktober 2015

TOUR de Singkarak diselenggarakan untuk pertama kali oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia pada tahun 2009. Dipandang sukses dari segi peyelenggaraan, menjadikan ajang balap sepeda ini sebagai salah satu kejuaraan balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour. Sehingga selain didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Tour de Singkarak juga diperkuat dengan dukungan APBD provinsi dan kabupaten atau kota yang daerahnya dilalui oleh peserta.

Hal ini disebabkan setiap daerah yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak mempunyai peran cukup besar dalam mengenalkan daerahnya. Sehingga jumlah kabupaten dan kota yang menjadi jalur lintasan Tour de Singkarak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tour de Singkarak adalah kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) yang diselenggarakan setiap tahun di Sumatera Barat.

 

Kejuaraan ini merupakan balapan jalan raya jarak jauh yang umumnya diadakan sekitar bulan April hingga Juni dan berlangsung selama seminggu. Namun, pada tahun ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2015. Kejuaraan ini telah menjalin kerjasama dengan Amaury Sport Organisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis. Sesuai dengan namanya, Singkarak yang merupakan danau terbesar di Sumatera Barat menjadi bagian dari jalur lintasan Tour de Singkarak. Selain itu, beberapa kawasan wisata lain juga menjadi bagian dari jalur lintasan, termasuk Lembah Harau, Danau Maninjau, Kelok 44, Danau Di atas, dan Danau Di bawah.
Dalam tiga kali penyelenggaraan Tour de Singkarak, kota Padang selalu menjadi titik start pelombaan dengan titik finish di dermaga danau Singkarak. Namun pada Tour de Singkarak 2012, titik start lomba dipindahkan ke kota Sawahlunto. Sedangkan titik finish dipindahkan ke kota Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat. Pada tahun ini, TdS mengambil start di Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan pada tanggal 3 Oktober 2015 dan finish di kota Padang tanggal 10 Oktober 2015. Ini menjadi hal baru untuk Tour de Singkarak mengingat biasanya ajang dimulai di Sumatera Barat bagian Utara.

Tour de Singkarak memperebutkan hadiah total senilai 2,5 miliar rupiah tahun ini. Ada 24 tim dari 36 negara akan ikut serta dalam ajang ini. Satu tim yang menonjol adalah Track Team Astana dari Kazakhstan, yang pernah mengikuti Tour de France. Ajang balap sepeda internasional ini menempuh jarak sejauh 1.343,1 kilometer yang terbagi dalam sembilan etape serta melalui 18 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Etape 1: Sabtu (3/10/2015): Pesisir Selatan-Pariaman (136 km), Etape 2: Minggu (4/10/2015): Padang Pariaman-Kab. Solok (120 km), Etape 3: Senin (5/10/2015): Sijunjung-Dharmasraya (157 km), Etape 4: Selasa (6/10/2015): Solok Selatan-Sawahlunto (160 km), Etape 5: Rabu (7/10/2015): Bukittinggi-Tanah Datar (145 km), Etape 6: Kamis (8/10/2015): Payakumbuh-Limapuluh Kota (135 km), Etape 7: Jumat (9/10/2015): Pasaman-Pasaman Barat (98 km), Etape 8: Sabtu (10/10/2015): Pasaman Barat-Agam (121 km), dan Etape 9: Minggu (11/10/2015): Padang Panjang-Padang (110 km).

 

Bagi Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, mantan Gubernur Sumbar periode 2010-2015, mengaku puas dengan pelaksaaan TdS. Bahkan, ajang ini diakuinya menjadi media promosi yang bagus untuk Sumatera Barat. TdS semakin memantapkan posisi dan citra Sumbar sebagai destinasi pariwisata yang diperhitungkan dalam skala internasional. Menurutnya, TdS merupakan penghargaan bagi Sumbar. Pascagempa, orang takut ke Sumbar. Tapi sekarang jumlah kunjungan meningkat yang ditandai dengan pesawat selalu full booking, begitu juga hotel.
Dengan pariwisata ini, Irwan berharap, perekonomian masyarakat dan daerah bisa tumbuh positif. Ajang ini, menjadi promosi luar biasa, karena semua mata dunia tertuju ke daerah ini. Sumatra Barat makin dikenal dan dicintai. Jumlah negara yang menjadi peserta TdS terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di samping banyaknya kunjungan wisata ke Ranah Minang, TdS telah memotivasi masyarakat Sumbar gemar bersepeda.

TdS berakhir di Kota Padang hari ini, Sabtu (10/10/2015). Fakta membuktikan, jelas Irwan lagi, walau di tengah bencana kabut asap yang melanda, masyarakat Sumatra Barat mampu menjadi tuan rumah alek gadang tersebut untuk kesekian kalinya. Acara yang menjadi sorotan masyarakat internasional tersebut berlangsung dengan sangat baik dan terus makin membaik dari tahun ke tahun. Masyarakat luas bahkan dunia telah tahu dan kenal Sumatra Barat, kita tentu ingin mereka cinta dan rajin berkunjung ke sini, agar peluang ekonomi itu makin terbuka. Karena itu tugas kita adalah memberikan yang terbaik dan memberikan kesan yang baik kepada mereka.

 

“Jika menawarkan jasa kuliner, berikanlah kuliner yang terbaik. Begitu juga jika menawarkan souvenir, berikanlah souvenir terbaik dan berkualitas. Jangan kecewakan mereka, buktikan, orang Minang adalah masyarakat yang berbudaya tinggi, jangan buat mereka kapok untuk datang lagi. Jangan berikan kesan yang jelek yang membuat mereka memberikan penilaian negatif tentang Sumatra Barat. Mari bersama-sama menyukseskan TdS, mari saling bahu-membahu untuk membuka peluang perbaikan ekonomi bagi ranah yang indah dan kita cintai ini,” ujar putra Kuranji ini.
Jika ditanya untuk apa TdS diadakan, menurut Irwan jawaban utamanya cuma satu: meningkatkan ekonomi masyarakat.

Setelah TdS sukses dilaksanakan, setelah wisatawan datang berkunjung ke Sumatra Barat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan TdS, maka misi selanjutnya, bagaimana kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat. Kita semua sudah tahu dan dunia pun telah mengakui Sumatra Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Sumatera Barat punya budaya dan seni yang spesifik, kita juga punya kekayaan kuliner yang diakui kelezatannya di mana-mana.

Peluang itu makin terbuka, karena Sumatra Barat bisa dijadikan tujuan wisata alternatif karena bagaimanapun, wisatawan selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik untuk dikunjungi. Wisatawan pasti akan merasa monoton jika hanya mengunjungi lokasi wisata yang sama dari tahun ke tahun seperti Bali, Yogja, Malaysia atau Singapura. Bagaimanapun jika cuma itu ke itu saja pasti jenuh, harus ada destinasi alternatif. Tujuan wisata alternatif itu Sumatra Barat, daerah ini sangat potensial. Kota Bukittinggi atau Sawahlunto telah membuktikan bahwa pariwisata telah mampu membuat ekonomi daerah ini berdenyut.

 

Efek berganda dari pertumbuhan wisata telah membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata. Itulah keistimewaan industri pariwisata dibandingkan industri lain, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi berdampak langsung terhadap masyarakat secara luas. Dengan demikian berarti tugas selanjutnya, adalah mempersiapkan Sumatra Barat menjadi tempat wisata yang layak. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan menjadi kata-kata kunci agar wisatawan berkunjung dan betah membelanjakan uangnya di sini.
Namun hampir di semua objek wisata kita, ungkap Irwan, bertebaran sampah di mana-mana. Kondisi ini harus segera diubah, kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat harus segera dihapus. Saya menyaksikan sendiri, peserta atau panitia TdS dari negara lain selalu memasukkan dan menyimpan sampah mereka dalam kantong-kantong untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Tapi justru masyarakat kita membuang sampah sembarangan dimana saja mereka suka.

Tentu saja kebiasaan ini harus segera kita ubah. Banyak wisatawan yang memilih tinggal di rumah penduduk (home stay), bukan hotel berbintang asal rumah tersebut bersih dan nyaman. Hal ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat. Satu lagi yang perlu kita ubah adalah sikap melayani wisatawan. Kalau ditanya kenapa wisatawan memilih Bali, Jogyakarta atau Bandung, jawabannya adalah keramahan masyarakat setempat, sikap profesional mereka melayani wisatawan. Di bandara di daerah tersebut tidak akan kita temui pengemudi taksi rebut-rebutan penumpang, apalagi sambil menarik-narik tas mereka. Premanisme di objek wisata juga paling banyak dikeluhkan wisatawan sehingga mereka kapok berkunjung ke daerah itu.

 

Usai TdS juga diharapkan berdampak terhadap animo masyarakat masyarakat Sumbar untuk berolahraga sepeda, bahkan diharapkan ke depan akan uncul pembalap sepeda yang bakal menjuarai Tour de Singkarak, sekaligus menjadi pembalap nasional. Tentu saja infrastuktur pendukung harus terus ditingkatkan. Biasanya jika peluang bisnis terbuka, kondisi dan masyarakat setempat mendukung, otomatis investor akan turun turun menanamkan modal untuk menyiapkan fasilitas. Pemerintah kota dan kabupaten tentu juga akan menfasilitasi agar semua itu bisa terwujud, tinggal menunggu komitment kita bersama, ujarnya.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 10 Oktober 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>