«

»

Selama Menjadi Gubernur, Enam Restoran Bakso Ditutup

22 Oktober 2015

SEJAK dilantik menjadi Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 15 Agustus 2010, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa fokus membenahi Sumatera Barat pasca gempa 30 September 2009. Tidak mudah memulihkan kondisi daerah yang luluh-lantak akibat gempa tersebut, apatah lagi kondisi keuangan daerah yang minus.

Namun Irwan Prayitno ternyata mampu membangun kembali Sumatera Barat, di tengah-tengah sinisme beberapa pihak kepadanya. Rumah-rumah yang rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat tuntas direhabilitasi. Irwan Prayitno berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah warga. Secara bertahap dimulai pembangunan sarana publik dan kantor pemerintah yang rusak akibat gempa. Sudah puluhan gedung pemerintah yang dibangun ulang, retrofit (penguatan struktur), dan direhab dalam rentang waktu 2011-2015.

Kini pemandangan seperti 3 atau 4 tahun lalu itu tak nampak lagi, bahkan nyaris tak berbekas. Kantor-kantor yang dulu rubuh telah dibangun lagi dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih kokoh. Begitu juga rumah masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang dulu luluh-lantak telah dibangun lagi dan kembali berfungsi normal. Hotel-hotel dan aktifitas ekonomi lainnya kembali menggeliat. Suasana mencekam, kini tak terlihat lagi bahkan nyaris terlupakan.

Berbagai upaya dilakukan untuk meyakinkan investor bahwa Sumbar sudah aman dan menguntungkan untuk berinvestasi. Kini investor telah berdatangan ke Sumatera Barat. Belasan hotel yang rusak telah direnovasi dan kembali beroperasi. Belasan lainnya merupakan hotel yang baru dibangun. Sungguh sebuah rahmat, justru terjadi penambahan lebih 2.000 kamar hotel pascagempa.

 

“Katakanlah: “Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bencana-bencana di darat dan di laut? (Ketika) kamu berdoa merayu kepadaNya dengan merendah diri (secara terbuka) dan secara bersembunyi, (dengan berkata): “Demi sesungguhnya jika Allah selamatkan kami dari bencana ini niscaya menjadilah kami dari orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al An’aam: 63).
Sebagai Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Irwan Prayitno paham benar dengan tugas dan amanah jabatan yang dia sandang. Baginya, amanah tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dirinya harus fokus membawa Sumatera Barat yang hancur bangkit kembali seperti sedia kala. Dirinya harus full menata kembali Sumatera Barat, makanya selama menjabat gubernur, Irwan Prayitno tidak pernah mengambil cuti. Siang malam dirinya bekerja, tiada mengenal hari libur.

Tak hanya Irwan Prayitno, istrinya Hj. Nevi Zuairina fokus mendampingi sang suami. Perannya sebagai istri gubernur merupakan amanah tersendiri yang tidak boleh dilalaikan. Sejak mendampingi suaminya bertugas di Sumatera Barat, berbagai jabatan dipercayakan kepadanya, yaitu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatra Barat, Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial Provinsi Sumbar, Ketua Dekranasda Provinsi Sumatra Barat, Ketua Forum PAUD Provinsi Sumatra Barat, Ketua P2TP2A Provinsi Sumatra Barat, Ketua FORIKAN Provinsi Sumatra Barat, Ketua Forum Silaturahmi Majelis Taklim Provinsi Sumatra Barat, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Provinsi Sumatra Barat dan Ketua Persatuan Istri Pemprov dan Muspida Provinsi Sumbar.

Kesibukan membantu tugas suami dan melaksanakan amanah jabatan di organisasi yang dipercayakan kepadanya, membuat Hj. Nevi Zuairina tidak lagi fokus mengelola bisnis restoran bakso yang dirintisnya bersama suami tercinta. Keenam restoran bakso yang dikelolanya tutup satu persatu. Pada tahun pertama jabatan Irwan Prayitno sebagai gubernur, dua restoran bakso ditutup, tahun ketiga tutup lagi tiga restoran bakso, dan tahun keempat semuanya tutup.

Enam restoran bakso yang dikelola Hj. Nevi Zuairina terdapat di Blok M Square, Melawai, Mangga Dua, Mall Artha Gading, dan Pasar Senen Jakarta. Dan satu lagi adalah restoran bakso di Sawahan Padang. Pada keenam restoran bakso tersebut, Hj. Nevi Zuairina bertindak sebagai manajer, sedangkan Irwan Prayitno hanya mengawasi.

Anda bayangkan, satu restoran bakso tersebut beromset Rp100 juta perbulannya. Untuk satu restoran bakso keuntungan rata-rata yang diperoleh adalah Rp20 juta per bulan. Keenam restoran bakso itu setidaknya memberikan keuntungan Rp120 juta per bulan. Untuk mengurus keenam restoran bakso tersebut, Hj. Nevi Zuairina harus bangun subuh-subuh sekali, dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 Wib.

Suatu pengorbanan yang cukup besar, demi amanah mendampingi suami bertugas sebagai gubernur, Hj. Nevi Zuairina harus rela usaha yang dirintisnya dari awal bersama sang suami harus tutup. Namun, bagi Irwan Prayitno dan Hj. Nevi Zuairina itu tidak menjadi persoalan, sebab mereka sepakat untuk fokus membangun Sumatera Barat pasca gempa dan mengabdikan diri di kampung halaman dengan meninggalkan usaha yang mereka rintis dan besarkan. Bagi mereka, Sumbar harus bangkit dan kembali menjadi daerah yang diperhitungkan di Indonesia.

 

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat jahil (bodoh).” (QS. Al Ahzab: 72). “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.” (QS. Al Anfaal: 27).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 22 Oktober 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>