«

»

Syarat Pemimpin: Quwwatul Amin, Hafizul Alim, dan Raufun Rahim

17 Oktober 2015

IRWAN Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, Ninik Mamak Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang mengajak Anak Nagari Pauh IX untuk tetap menjaga kekompakan, walau berbeda pilihan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat tanggal 9 Desember 2015 mendatang. Menurutnya, berbeda pilihan dalam berdemokrasi merupakan suatu kewajaran, karena banyak alasan dalam menentukan pilihan, misalnya karena faktor sekampung, gaya kepemimpinan, umur, ketegasan, dan segala macamnya.

Hal itu disampaikan Irwan Prayitno ketika menghadiri Silaturahmi Masyarakat Pauh Kuranji, Kamis (15/10/2015) di Ketaping Kelurahan Pasar Ambacang Kecamatan Kuranji Kota Padang. Menurutnya, dalam menentukan pilihan pada Pilkada tanggal 9 Desember 2015, sebaiknya dilihat rekam jejak calon pemimpin tersebut, sehingga masyarakat tak asal pilih yang menyebabkan kekecewaan nantinya.

“Harapan kita berkumpul malam ini adalah untuk bersilaturahmi. Ini sesuai dengan anjuran agama kita. Saya mengajak kekompakan Anak Nagari perlu dijaga, walau pilihan kita berbeda. Dalam menentukan pilihan, tentu kita melihat karakteristik seorang pemimpin, sehingga kita bisa menumpangkan harapan kita kepadanya,” ungkap Irwan Prayitno.
Pada kesempatan tersebut, Irwan Prayitno memberikan pencerdasan politik kepada Anak Nagari Pauh IX dalam memilih pemimpin. Menurutnya, ada beberapa syarat pemimpin menurut ajaran agama, yaitu: Quwwatul Amin, Hafizul Alim, dan Raufun Rahim. Ketiga syarat ini berangkat dari gaya kepemimpinan Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.

Seorang pemimpin haruslah Quwwatul Amin. Dia harus memiliki kekuatan dalam menjalankan amanah jabatan yang disandangnya. Kekuatan secara fisik mestilah lahir dari pemimpin yang muda dan energik, sehingga amanah kepemimpinan tidak menjadi beban baginya secara fisik pula. Untuk itu, jangan serahkan amanah kepemimpinan itu kepada orang yang tidak mampu melaksanakannya, kepada orang yang tidak amanah dan kuat secara fisik.

Selain itu, untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang haruslah Hafizul Alim. Maksudnya, seseorang itu harus memiliki kapasitas dalam mengemban amanah kepemimpinan itu. Dia memiliki ilmu dan pemahaman terhadap amanah kepemimpinan itu. Jika kepemimpinan itu diberikan kepada orang yang tidak berilmu, maka tunggulah kehancuran. Karena orang yang tidak berilmu, pasti lalai dengan amanah kepemimpinan yang disandangnya. Untuk itu, jangan sembarangan memilih pemimpin, harus dilihat kapasitasnya.

Tak hanya itu, seorang pemimpin juga harus seorang yang Raufun Rahim. Raufun Rahim berarti pengasih dan penyayang. Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia. Kasih sayang (rahmah) adalah pangkal kebaikan. Tanpa kasih sayang, sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Kata Nabi, “Orang yang tak memiliki kasih sayang, tak bisa diharap kebaikan darinya.”

Seseorang yang Raufun Rahim tidak akan pernah berkata-kata kotor, tetapi dia akan selalu berkata sopan, termasuk kepada bawahannya sendiri. Dia bukanlah tipikal pemimpin yang pemarah, sebab pada dirinya ada sifat penyayang (rahim). Dia akan mengayomi bawahannya dengan sebaik-baiknya, sehingga bawahannya tersebut akan meraih kesuksesan dalam mengemban tugas yang dilaksanakannya.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96). Rasulullah saw bersabda, “Orang yang tidak memiliki kasih sayang tidak akan dikasih sayangi.” (HR. Bukhari-Muslim). “Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (pembawa kasih sayang).” (HR. Muslim).
Dalam fikih politik Islam, moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan pemimpin adalah kemaslahatan bangsa. Dikatakan tasharruf al-imam ala al-ra`iyyah manuthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum). Jika seorang pemimpin telah melaksanakan amanah kepemimpinan sesuai dengan moral Islam tersebut, maka Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk taat kepada mereka.

“Barang siapa yang taat padaku (Nabi) maka ia taat pada Allah. Barangsiapa yang tidak patuh padaku maka ia tidak taat pada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Amir (pemimpin) maka sesungguhnya ia taat padaku. Dan barangsiapa yang tidak taat pada Amir maka ia tidak taat padaku.” (HR. Muslim).

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 17 Oktober 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>