«

»

Kejahatan Jangan Dibalas Kejahatan

9 November 2015

SEBAGAI orang yang cukup dekat mengenal Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc., Datuk Rajo Bandaro Basa, banyak pelajaran yang penulis dapat dari sosok yang satu ini selama bergaul dengannya. Salah satunya sikap sabar dalam menghadapi semua hantaman fitnah yang dialamatkan kepada dirinya.

Bagi sosok yang satu ini, fitnah tidak boleh dibalas dengan fitnah, tetapi harus diluruskan, agar ada informasi yang berimbang di tengah-tengah publik Sumatera Barat. Sudah menjadi prinsip hidup bagi Irwan Prayitno bahwa kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan pula. Biarkan Allah swt yang membalasnya, karena Allah swt Maha Tahu dan Maha Adil.

“Jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126). “Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy Syura: 43).

Menurut Irwan Prayitno, sikap yang paling baik untuk dilakukan oleh seorang ketika ada yang menyakitinya adalah memaafkan, bukan menyimpan kemarahan dan membalas menyakiti atau yang diistilahkan dengan membalas dendam. Memang benar bahwa jika dizhalimi, seseorang diperbolehkan untuk membalas dengan balasan yang semisalnya atau setimpal. Akan tetapi, meskipun demikian, memaafkan kesalahan orang yang telah berbuat zhalim adalah lebih baik dan utama.

Menurut Irwan Prayitno, adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah dan manusia.

Memberi maaf dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan. Bila dimaafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35).

Dalam pandangan Irwan Prayitno, dendam dan sakit hati, bisa menghantui fikiran atau menjadi virus dalam fikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di fikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut Hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika fikiranya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa. Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di fikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaiknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf.

Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tidak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tidak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dari berbuat kesalahan.

Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada seseorang, maka harus mencari momen yang tepat untuk melakukannya, misalnya pada suasana lebaran Idul Fitri. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk meminta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas kesalahanya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri.

Sebagai contoh, atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa disengaja, maupun tidak disengaja. Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalah pahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam. Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah swt.

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya) maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Asy Syura: 40). Rasulullah saw., bersabda, “Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan perbuatan memaafkannya melainkan (menambahkan untuknya) kemuliaan.” (HR Muslim).

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus. Amin.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

Bentengsumbar.com, 9 November 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>