«

»

Yakin dengan Janji Allah

26 November 2015

TAK seperti calon gubernur lainnya, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc., Datuk Rajo Bandaro Basa terlihat sedikit santai dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat 2015. Mulai dari tahap mendapatkan “karcis” partai politik, sampai saat ini, Irwan Prayitno tak terlihat kasak kusuk.

Paling banter, Irwan Prayitno hanya melaksanakan aktivitas memenuhi undangan masyarakat untuk bersilaturahmi dengannya, baik undangan resmi, telepon, dan sms. Jadwal undangan pun sudah disusun rapi pula oleh staf kepercayaannya, yaitu Rinaldi.

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fatir: 5). “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Al Mu’min: 55).

Di satu sisi, calon gubernur lain kasak kusuk dalam menghadapi Pilkada 2015 ini, apakah itu kasak kusuk dalam mendapatkan partai, sehingga dirasa oleh sebagian kalangan mencoba untuk mengganjal bakal calon gubernur lain demi menciptakan suasana head to head dalam pertarungan memperebutkan kursi panas Gubernur Sumbar tersebut. Sedangkan Irwan Prayitno jauh-jauh hari sudah memastikan bahwa dirinya akan diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra, dua partai yang saat ini terlihat selalu kompak, seirama dan searah yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP).

Lantas, kenapa Irwan Prayitno terlihat santai dalam menghadapi Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar kali ini? Dalam sebuah kesempatan, penulis sempat bertanya kepada Irwan Prayitno, dan dia mengatakan, sebagai seorang muslim, dirinya percaya dengan janji Allah swt. Siapa yang akan memimpin Sumatera Barat itu sudah ditentukan Allah swt dalam kitab Lauh Mahfuzh, jadi tidak usah kasak kusuk dan menghalalkan segala cara, apatah lagi sampai fitnah memfitnah, yang tentu saja jauh dari nilai-nilai dan etika politik Islam.

Namun, ulas Irwan Prayitno, sebagai hamba Allah swt, dirinya harus tetap berusaha dan berikhtiar untuk mencapai janji Tuhan tersebut. Sebab, tanpa usaha dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, maka hasilnya pun tidak akan maksimal dan sesuai dengan harapan. Tentunya, Tuhan hanya akan menggenapi janjinya kepada hambanya yang bersungguh-sungguh dalam menggapai keinginan yang telah diniatkannya tersebut. Ini semua tidak terlepas dari prinsip “Man Jadda Wajada” yang selalu dipegang teguh oleh Irwan Prayitno dalam berusaha dan menempuh kehidupan ini.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An-Nur: 55).

Menurut Prof. DR Quraish Shihab, ahli tafsir Indonesia, ketika menafsirkan Qs. An-Nur ayat 55, secara tegas Allah telah menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang mempercayai kebenaran, tunduk kepadanya dan mengerjakan amal saleh. Yaitu, Dia akan menjadikan mereka sebagai pengganti orang-orang terdahulu yang mewarisi kekuasaan di muka bumi, seperti halnya orang-orang yang telah mendahului mereka. Allah juga akan meneguhkan bagi mereka agama Islam sebagai agama kepasrahan yang diridai-Nya. Dengan demikian, kalian menjadi memiliki wibawa dan kekuasaan.

Begitu pula Allah akan mengganti keadaan mereka dari rasa takut menjadi rasa aman, sehingga kalian dapat beribadah dengan tenang dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun dalam beribadah. Barangsiapa memilih untuk kafir setelah datangnya janji yang benar ini, atau keluar dari agama Islam, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang fasik, ingkar dan membangkang.

Para ulama ahli tafsir seperti al-Qurthubi (wafat: 671-H) berpendapat bahwa janji Allâh dalam ayat tersebut berlaku umum untuk seluruh umat Muhammad saw. Al-Imam as-Sa’di (wafat: 1376-H) mengatakan, janji Allah dalam ayat tersebut akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.

Namun janji Allah tersebut ada syaratnya. Dalam ayat yang agung ini, setidaknya disebutkan ada 3 syarat yang harus terpenuhi agar janji-janji Allah di atas bisa terwujud: pertama; iman dan amal shalih, kedua; beribadah hanya untuk Allah (tauhid), dan ketiga; menjauhi syirik dengan segala ragamnya, termasuk beramal dengan maksud selain Allah.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah ayat 111).

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Pimpinan Bara Online Media
Bentengsumbar.com, 26 November 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>