«

»

Petahana Bertumbangan

21 Desember 2015

Oleh: Irwan Prayitno

Sebuah hal yang cukup menarik terjadi pada pilkada serentak tahun 2015 di Sumatera Barat, banyak calon petahana yang bertumbangan. Padahal jika melihat kondisi di luar Sumbar¸ seperti di Jawa, calon petahana adalah calon kuat untuk kembali menang. Seperti yang terjadi di Kota Surabaya, Kabupaten Karawang, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Gresik.

Calon petahana sudah memiliki modal selama 5 tahun untuk memenangkan pilkada, karena telah melakukan sosalisasi, kunjungan kerja hingga ke pelosok, mengunjungi masyarakat, eksekusi program-program pembangunan yang pro rakyat, serta berbagai kegiatan lainnya selama masa kepemimpinannya. Sehingga masyarakat bisa diambil hatinya untuk memilih mereka kembali.

Popularitas (keterkenalan) dan akseptabilitas (penerimaan) untuk meraih suara di pilkada seharusnya sudah dimiliki oleh para calon petahana karena sudah bekerja memimpin wilayahnya. Namun ternyata ini tetap belum menjadi jaminan bagi calon petahana untuk memenangkan pilkada berikutnya. Hasil hitung cepat (quick count) maupun hasil penetapan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat memperlihatkan hal tersebut. Petahana bertumbangan juga terjadi pada pilkada 2010.

Beberapa calon petahana yang bertumbangan itu di antaranya calon di Kabupaten Dharmasraya, Kota Bukittinggi, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten 50 Kota. Banyaknya petahana yang bertumbangan ini bisa dimaknai adanya keinginan masyarakat di Sumbar untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari sebelumnya dari calon-calon yang ada. Jika masyarakat menganggap pemimpin sebelumnya belum bisa memberikan kepuasan maka akan dipilih calon baru yang dianggap bisa memberikan kepuasan lebih baik.

Meskipun calon petahana memiliki prestasi yang bagus selama masa kepemimpinannya, belum menjadi jaminan akan dipilih kembali oleh masyarakat. Masyarakat belum bisa diyakinkan dengan pencapaian dan prestasi yang sudah didapat. Mereka akan mencari pemimpin baru yang dianggap bisa lebih baik lagi, meskipun belum memberi bukti, namun di mata masyarakat bisa melakukan berbagai perubahan yang lebih baik.

Masyarakat Sumbar memang memiliki keinginan untuk lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Selalu merasa belum puas dengan kondisi yang ada. Indeks kebahagiaan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik beberapa waktu lalu memperkuat hal ini. Masyarakat Sumbar memiliki energi positif untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Inilah yang juga menjelaskan adanya budaya merantau masyarakat Sumbar selama ini. Dengan merantau, harapan akan kehidupan yang lebih baik lagi memiliki peluang yang besar.

Dengan adanya contoh kasus seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk memenangkan hati masyarakat Sumbar tidaklah mudah. Masyarakat memiliki penilaian tersendiri. Masing-masing punya cara tersendiri dalam menilai pemimpin dan calon pemimpin mereka. Dan bagi masyarakat Sumbar, yang akan dipilih adalah yang mampu memberikan kepuasan lebih baik bagi mereka.

Dengan kata lain, masyarakat Sumbar adalah masyarakat yang cerdas. Memilih dengan menggunakan energi positif yang ada pada diri mereka. Informasi yang datang dan berseliweran disaring dan dipilah, sehingga mereka punya cara sendiri dalam menilai.

Hal ini bisa menjadi motivasi bagi para pemimpin dan calon pemimpin, bahwa dengan bersungguh-sungguh bekerja, melayani masyarakat, memperbaiki kondisi masyarakat, memiliki komunikasi yang baik, insya Allah nama mereka akan tersimpan di dalam pikiran masyarakat.

Pemimpin di Sumbar berbeda dengan di wilayah lain. Ia hanya ditinggikan seranting, didahulukan selangkah, maka masyarakatpun bisa menilai dengan jelas dan tak mempan diberi informasi keliru. Dengan budaya lisan (maota) yang berkembang sejak dulu, masyarakat bisa memilah dan mendapatkan informasi tentang pemimpinnya, dan kemudian memilih berdasarkan penilaian yang ada. ***

Singgalang, 21 Desember 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>