«

»

Independensi Pemilih

5 Januari 2016

Oleh Irwan Prayitno

 

Tahun 2013 lalu, pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Kota Padang diwarnai ramainya calon. Ada 10 pasang calon yang siap untuk dipilih oleh warga Kota Padang. Sesuai aturan yang berlaku saat itu, pemilukada bisa berjalan dua tahap. Pada tahap kedua, tinggal dua pasang calon yang akan dipilih, yaitu Desri Ayunda–James Hellyward dan Mahyeldi–Emzalmi.

 

Persaingan ketat, kemenangan yang diraih pun memiliki selisih suara yang tidak banyak pada tahap kedua. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi memperoleh 148.864 suara. Sedangkan pasangan Desri-James memperoleh 147.166 suara. Selisih 1.698 suara. Pada putaran pertama pasangan Mahyeldi-Emzalmi meraih 92.218 suara, dan pasangan Desri-James 59.845 suara. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi didukung oleh PKS dan PPP. Dan pasangan Desri-James didukung banyak partai pada putaran kedua.

 

Tidak cukup itu saja, para tokoh masyarakat Sumbar, terutama tingkat nasional juga ikut mendukung pasangan Desri–James. Para sesepuh ditampilkan secara jelas mendukung pasangan ini. Harapannya, dukungan para tokoh ini akan meningkatkan pengaruhnya kepada masyarakat pemilih untuk ikut memilih pasangan Desri-James.

 

Selain itu, belasan pucuk pimpinan yang ada di Kota dan Kabupaten di Sumbar pun ikut memberikan dukungan secara terbuka kepada pasangan Desri-James. Namun ternyata, setelah seluruh dukungan diberikan oleh para tokoh dan pucuk pimpinan, yang muncul sebagai pemenang adalah pasangan Mahyeldi-Emzalmi.

 

Pada pemilukada Sumbar 2015, pola serupa juga dilakukan oleh pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi). Tokoh-tokoh masyarakat Minang diperlihatkan tampil memberi dukungan kepada pasangan MK-Fauzi. Berbeda dengan pemilukada Kota Padang, pada pemilukada Sumbar, sejak awal hanya ada dua pasang calon yang tampil berhadapan langsung (head to head). Maka dukungan tokoh-tokoh masyarakat ini sudah dimulai sejak awal proses pemilukada, dan waktu untuk bersosialisasi pun cukup lama.

 

Hasil penghitungan oleh KPUD Sumbar (19/12/2015) memperlihatkan, yang meraih suara terbanyak adalah pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit (IP-NA) yang meraih 1.175.858 suara, dan pasangan Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi) 830.131 suara. Mengapa dukungan dari tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan tidak berpengaruh di pemilukada yang ada di Sumbar? Jika melihat hasil penelitian lembaga survei setidaknya dari Lembaga Survei Median dan LSI Denny JA, pemilih di Sumbar memiliki independensi tinggi. Tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain, seperti tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan (kepala daerah) dan lainnya.

 

Budaya yang ada di masyarakat Sumbar adalah budaya egaliter, bebas untuk memilih dan mengkritisi pemimpin sesuai dengan kondisi dirinya tanpa bisa dipengaruhi orang lain. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Ini berbeda dengan budaya patron-klien yang umumnya terjadi di daerah lain, seperti di pulau Jawa. Tokoh masyarakat, tokoh adat, pemimpin formal (elit) bisa mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon yang didukung oleh para elit.

 

Patron adalah pihak yang memiliki kekuasaan, pengaruh, status dan wewenang. Klien adalah pihak yang diperintah atau disuruh, atau bisa diartikan sebagai bawahan. Budaya patron-klien adalah hubungan dua pihak yang tidak sederajat dimana posisi klien lebih rendah dan kedudukan patron lebih tinggi.

 

Budaya yang demikian dikuatkan oleh teori Patron-Klien James Scott yang menyatakan, “Sekelompok figur informal yang berkuasa (patron) dan memiliki posisi memberikan rasa aman, pengaruh atau keduanya. Sebagai imbalan, pengikutnya (klien) memberikan loyalitas dan bantuan pribadi kepada patronnya dalam kondisi apapun, baik patronnya dalam keadaan benar ataupun salah.”

 

Indepedensi pemilih di Sumbar sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi dari para pemimpin yang ada di Sumbar dengan upaya kerja keras, sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat. Pemilih yang memiliki independensi adalah pemilih yang berintegritas, tidak dapat terbujuk rayuan uang maupun mampu dipengaruhi elit atau tokoh (masyarakat, adat, lokal/nasional). Maka para pemimpin pun harus bisa menangkap sinyal ini untuk membangun wilayahnya dengan baik. Sedangkan tokoh masyarakat, tokoh adat, niniak mamak dan lainnya sudah seharusnya mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat, bukan informasi yang keliru apalagi menyesatkan. Walaupun masyarakat Sumbar memiliki independensi yang tinggi tetapi tetap masih memiliki primordialisme. ***

 

Singgalang, 5 Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>