«

»

Menatap Pariwisata Sumbar

29 Maret 2016

Di depan stake holder pariwisata, baik pengelola hotel, pengelola kuliner, pemilik biro perjalanan, pramuwisata, dan pengelola jasa transportasi yang hadir di Musyawarah Daerah V Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) Sumbar 10 Maret 2016 lalu, saya menjelaskan bahwa penanganan pariwisata di Sumbar di masa kepemimpinan saya selaku Gubernur Sumbar periode 2016-2021 menjadi bagian dari visi-misi yang dituangkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dan menjadi sebuah gerakan terpadu pengembangan pariwisata.

Yang dimaksud gerakan di sini adalah dilaksanakan secara berkelanjutan, tanpa henti, menjadi kepedulian bagi pemerintah, dan dipikirkan terus menerus. Sedangkan yang dimaksud terpadu adalah pelaksananya tidak hanya dinas pariwisata, tetapi dinas-dinas lain juga ikut mendukung dan mensukseskan sesuai dengan bidangnya, termasuk juga kabupaten/kota dan seluruh stake holder pariwisata.

Motivasi utama gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti kita ketahui, potensi pariwisata di Sumbar cukup besar. Adat dan budaya, kuliner, dan keindahan alam adalah karunia yang seharusnya bisa dimaksimalkan yang kemudian dituangkan dalam kebijakan pengembangan pariwisata dan memiliki manfaat bagi banyak orang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Allah SWT dalam Al Quran berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…” (QS. Ibrahim: 14). Dalam rangka mensyukuri nikmat Allah kepada kita yang dikaruniai kekayaan adat dan budaya, keragaman kuliner, dan keindahan alam, maka gerakan terpadu pengembangan pariwisata adalah salah satu cara yang bisa dilakukan.

Lalu pertanyaannya, dari mana memulainya? Di sini kita tidak mesti memikirkan apakah ayam atau telur dahulu. Jika yang ada ayam, maka pelihara dengan baik agar ia bisa menghasilkan telur. Dan jika yang ada telur, dirawat dengan baik hingga ia menetas. Intinya, lakukan mana yang bisa, sambil dilakukan pengawasan maupun evaluasi serta koordinasi.

Kita bisa mulai dari berbagai hal yang sudah banyak dibicarakan orang, kemudian langsung dicari solusinya. Pertama, karakter yang kurang melayani, maka kita upayakan memberikan pelatihan kepada pelaku pariwisata. Kedua, masalah area wisata yang kotor, maka harus segera kita bersihkan. Ketiga, ketiadaan rest area, maka kita ajak bersama pihak kabupaten/kota untuk menyediakannya. Keempat, ketidaknyamanan akibat perilaku juru parkir dan pelaku pemalakan, segera kita turunkan Satpol PP dan juga dibantu aparat untuk menanganinya. Kelima, kurangnya sarana transportasi ke tempat wisata, maka kita ajak investor masuk atau menghubungi penyedia transportasi yang sudah ada untuk masuk ke tempat tersebut. Keenam, infrastruktur yang tidak menunjang, pemerintah segera memperbaiki agar lancar. Intinya, kita mulai dengan semua masalah yang ada di depan mata, lalu diselesaikan bersama. Di sini tidak hanya pemerintah yang aktif, tapi juga masyarakat dan swasta bisa ikut terlibat.

Saya mengambil contoh beberapa tokoh rantau yang sudah mengawali untuk mengembangkan pariwisata Sumbar. Andrinof Chaniago, mengajak pihak swasta pengelola kapal wisata untuk melayani rute Padang ke Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan. Fahmi Idris dan rekan membantu perbaikan rumah masyarakat untuk menjadi homestay agar bisa dijadikan penginapan. Dony Oskaria (Komisaris Garuda) bersama Forum Minang Maimbau akan membuat festival kuliner berskala nasional di Payakumbuh, insya Allah akhir tahun 2016 ini.

Saya sendiri, selama ini sudah banyak mendapatkan masukan dari berbagai unsur masyarakat agar mengembangkan pariwisata di Sumbar, baik dari berbagai pertemuan tatap muka (offline, dunia nyata) maupun dari media sosial (online, dunia maya). Berbagai masukan dan kritikan konstruktif yang selama ini saya terima dari berbagai sumber tersebut menjadi masukan yang berharga untuk pengembangan pariwisata Sumbar ke depannya.

Poin penting yang diharapkan dari gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah munculnya efek multiplier kepada masyarakat secara luas sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus mengurangi angka kemiskinan. Semakin bertumbuh pariwisata maka efeknya kepada biro perjalanan, jasa transportasi, usaha kuliner, tenaga kerja kepariwisataan, ekonomi kreatif, penginapan yang semuanya dikelola oleh masyarakat ini bisa positif dan signifikan. Untuk itu perlu kebersamaan dan juga mengubah pola pikir masyarakat agar pariwisata ini milik bersama sehingga ada pemikiran kolektif untuk bersama-sama mengembangkan, memiliki, dan menjaganya.

Semoga antusiasme seluruh elemen masyarakat terhadap pengembangan pariwisata di Sumbar ini bisa mengarah kepada jalur yang baik sehingga tidak memunculkan euforia yang bisa kontraproduktif. Insya Allah dengan semangat kebersamaan, hal-hal yang sulit ditemui di jalan bisa didapatkan solusinya untuk kebaikan bersama. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 29 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>