«

»

Stok Pangan Aman, Harga Stabil Pula

27 Mai 2016

HADAPI RAMADHAN dan LEBARAN

PADANG-Ketersediaan pangan di daerah ini tidak perlu dikhawatirkan. Meski jelang Ramadhan dan Lebaran permintaan cenderung meningkat, tapi soal ketersediaan tetap ada. Bahkan mayoritas komoditi pangan tersebut mengalami surplus produksi.

“Dengan kata lain, ketimbang kebutuhan, ketersediaan bahan pangan di Sumbar masih lebih banyak. Perkembangan tiap bulan sejak Januari hingga kini, ketersediaan pangan lebih banyak dari kebutuhan,” kata Gubernur Irwan Prayitno kepada Singgalang baru-baru ini di Padang.

Kendati begitu, tidak ditampik pada momen tersebut, terjadi kenaikan harga yang persentase kenaikannya kecil. Kondisi ini sepertinya sudah menjadi trend tiap tahun saat memasuki Ramadan dan Lebaran, termasuk hari besar keagamaan lainnya.

Oleh karena itu pula, Pemprov bersama kabupaten/kota dan instansi terkait jelang Ramadhan, melakukan rapat koordinasi untuk menyikapinya agar harga tetap relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan yang mengakibatkan masyarakat khawatir.

Ketersediaan pangan yang mencukupi untuk menghadapi Ramadhan, Lebaran maupun hari besar keagamaan dan nasional lainnya, juga terungkap saat pertemuan koordinasi dan apresiasi ketersediaan pangan dalam rangka Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN), 23-24 Mei 2016 di Padang.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumbar, Ir. H. Efendi, MP menyebut, untuk komoditi beras, kacang tanah, bawang merah, cabe, daging sapi, telur ayam rasa, gula pasir dan minyak goreng, secara umum, ketersediaan lebih banyak dari kebutuhan, termasuk saat kebutuhan meningkat pada Ramadhan dan Lebaran. Hanya daging ayam ras yang kebutuhannya tidak sebanding dengan ketersediaan.

Berdasarkan hasil olahan data sasaran 2016 dari dinas/instansi terkait, didapatkan prognosa ketersediaan pangan dalam menghadapi HBKN 2016. Misalnya beras, pada Januari ketersediaan 123. 878 ton, konsumsi 46.053 ton dan surplus 77.825 ton. Pada Februari surplus 91. 221 ton. Saat hadapi Ramadhan dan Lebaran, surplus beras mencapai 75. 826 ton (Juni) dan 71.207 ton (Juli).

Begitu pula kacang tanah, saat hadapi Ramadhandan Lebaran, ketersediaan memadai, surplus 503 ton (Juni) dan 486 ton (Juli). Untuk bawang merah, surplus 3.346 ton (Juni) dan 3.663 ton (Juli), cabe surplus 2.728 ton (Juni) dan 3.155 ton (Juli), daging sapi surplus 2.196 ton (Juni) dan 2.492 ton (Juli), telur ayam ras, surplus 2.844 ton (Juni) dan 3.863 ton (Juli).

Sedangkan gula saat menghadapi Ramadhan dan Lebaran juga surplue 456 ton (Juni) dan 66 ton (Juli). Demikian pula, minyak goreng, surplus 3.270 ton (Juni) dan 3.700 ton (Juli).

Meski demikian, permintaan cukup drastis melonjak saat hadapi Ramadhan dan Lebaran, diperkirakan terjadi pada bawang merah dan gula. Meski, tetap berada di bawah angka ketersediaan, namun secara umum, kabupaten/kota sepakat untuk melakukan langkah antisipasi, melalui operasi pasar gula maupun subsidi pangan di saat permintaan melonjak tersebut.

Tak heran pula, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Bimo Epyanto dalam materinya berjudul pengendalian inflasi provinsi Sumbar, di hadapan peserta rakor tersebut menyebutkan, berdasarkan kejadian tahun sebelum-sebulumnya, inflasi yang terjadi di Sumbar melebihi nasional pada periode Ramadhan dan Lebaran, akibat gonjang ganjingnya sejumlah komoditi.

Misalnya, pada Juni, Juli dan Agus 2015 di Sumbar, inflasinya 0,79 persen, 1,26 persen dan 0,4 persen, secara nasional hanya 0,54 persen, 0,93 persen dan 0,39 persen. Begitu juga pada tiga bulan yang sama pada 2013 dan 2014, secara umum inflasi Sumbar melebihi nasional.

“Oleh karena itu, selama Ramadhan hingga Lebaran, komoditi yang mesti diwaspadai agar tidak berdampak kepada inflasi adalah beras, bawang merah, telur ayam ras, daging ayam ras. Termasuk faktor distribusinya,” kata dia.

Dia menyebutkan, program 4K harus ditempuh untuk mengendalikan inflasi daerah, meliputi ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi ekspektasi.

Ketersediaan pangan maksudnya, menjaga ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok, menguat kan komitmen dan merealisasikan kerja sama perdagangan dengan daerah pemasok dan membangun sistem cadangan pangan untuk komoditas strategis.

Sedangkan keterjangkauan harga, meliputi transparansi proses pembentukan harga (penerapan proses lelang di sentra distribusi), program stabilisasi harga (penguatan peran lembaga daerah dengan pemberian kewenangan dan alokasi anggaran).

Untuk kelancaran distribusi meliputi, peningkatan dan pembenahan infrastruktur barang, kerja sama dengan aparat terkait dalam kelancaran dan keamanan distribusi barang. Kemudian untuk komunikasi ekspektasi maksudnya, penguatan komunikasi melalui pengembangan pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS). (*)

Singgalang, 27 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>