«

»

Kembali ke Fitrah

26 Juli 2016

Kita patut bersyukur telah melewati ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Kedua peristiwa ini menjadikan jiwa kita kembali terbentuk sesuai fitrah. Kembali ke fitrah, demikian kita sering mendengarnya. Allah SWT memang menjadikan manusia memiliki fitrah. Ini difirmankan Allah SWT dalam Al Quran surat Ar Ruum ayat 30 yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ajaran Islam banyak memberikan arahan kepada manusia bagaimana hidup sesuai fitrah tersebut. Ramadhan adalah salah satu ruang bagi umat Islam kembali ke fitrah mereka. Sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa dan mengerjakan berbagai amal ibadah, pada bulan berikutnya tanggal 1 Syawal umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Momen kembali ke fitrah dirayakan dengan penuh sukacita dan kebahagiaan.

Jiwa kita yang seharusnya sesuai fitrah sering makin tumpul karena dalam kegiatan sehari-hari menjauh dari fitrah sebagai manusia. Ini terjadi baik tanpa sadar maupun sadar. Rutinitas yang padat, banyaknya pekerjaan, sering menjauhkan kita dari fitrah kemanusiaan kita. Sehingga dalam pergaulan sehari-hari untuk memenuhi keinginan ataupun target, yang dikedepankan adalah berbuat curang, menipu, berbohong, menyerobot, memalsukan, memfitnah, menjelekkan orang lain, dan perbuatan buruk lainnya.

Allah SWT menempa hambaNya di bulan Ramadhan untuk kembali menjadi manusia yang fitrah. Puasa menahan haus, lapar dan hawa nafsu dari subuh hingga maghrib selama sebulan penuh dalam dunia kesehatan dianggap mampu menyehatkan tubuh dan menghindarkan datangnya penyakit serta sekaligus mengeluarkan racun di tubuh. Demikian pula halnya dengan kondisi jiwa, puasa diikuti dengan amal ibadah yang dilaksanakan dengan ikhlas mampu membentuk kembali jiwa manusia yang fitrah sesuai dengan kodrat penciptaan. Dengan fitrah yang utuh ini maka dicapailah derajat ketakwaan seorang hamba.

Fitrah pada manusia berarti memiliki sifat dan perilaku mulia yang Allah SWT jadikan kepada semua manusia tanpa kecuali. Maka manusia yang mampu menjaga fitrahnya akan muncul dari dalam dirinya kecerdasan (fathanah), berperilaku jujur (siddiq), tanggung jawab, amanah, disiplin, sunguh-sungguh, kerja keras, dan perilaku serta sifat baik lainnya.

Berbagai perilaku dan sifat baik itu sangat cocok dengan diri kita, sesuai dengan kebutuhan jiwa, dan mampu memenuhi keinginan jiwa, serta sesuai dengan kodrat penciptaan manusia. Jika perilaku itu dijalankan maka ia akan memberikan ketenangan, kenyamanan, dan juga menimbulkan kesuksesan dalam hidup. Baik sukses dalam berkeluarga, bekerja, berorganisasi, bermasyarakat, juga bernegara. Sukses sebagai pegawai, pelajar, ibu rumah tangga, wirausahawan, guru, dosen, mahasiswa, dan lainnya. Tidak hanya sukses hidup di dunia, tetapi juga di akhirat.

Bagaimana agar kondisi kita tetap dalam koridor fitrah manusia yang diberikan Allah SWT? Di antaranya adalah dengan menjaga pelaksanaan rutinitas amal ibadah yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan untuk bisa dilaksanakan di luar Ramadhan. Karena tanpa menjaga kuantitas dan kualitas ibadah, diri kita akan mudah keluar dari fitrah yang sudah diberikan Allah SWT. Puasa dan amal ibadah yang sudah dikerjakan di bulan Ramadhan telah terbukti mengembalikan kita kepada fitrah. Maka meninggalkannya akan menyebabkan kita menjauh dari fitrah tersebut.

Tidak hanya itu, pengaruhnya juga kepada anak-anak yang kita besarkan bisa keluar dari fitrah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita kembali ke kodrat penciptaan kita, sebagai manusia yang fitrah. Karena itu merupakan kebutuhan kita hidup di dunia dan juga bekal di akhirat. Semoga kita bisa melaksanakannya. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 26 Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>