«

»

Semangat Atlet Perpanas

25 Oktober 2016

Pada 11 Oktober 2016 lalu di Gubernuran saya melepas keberangkatan Kontingen Sumatera Barat (Sumbar) yang akan berlaga di Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV di Kota Bandung, Jawa Barat. Peparnas ini sama halnya dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diselenggarakan empat tahun sekali. Namun Peparnas diperuntukkan bagi para penyandang disabilitas. Penyebutan “disabilitas” ini sejalan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Jika di tingkat nasional ada Peparnas, maka di tingkat provinsi telah diselenggarakan Pekan Paralympic Daerah (Peparda).

Dan kontingen Sumbar ini merupakan para atlet terbaik di Peparda. Mereka berjumlah 44 orang, termasuk official. Mereka mengikuti 8 dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan. Dengan adanya seleksi bagi atlet Peparnas menandakan bahwa penyandang disabilitas pun memiliki hak dan semangat untuk berkompetisi dan berprestasi, di mana salah satu bidangnya adalah olahraga.  Dengan keterbatasan yang ada pada tubuh mereka, ternyata hak dan semangat untuk berprestasi terlihat kuat ada pada diri mereka. Seperti layaknya atlet PON yang juga memiliki semangat berprestasi.

Atlet Peparnas yang mewakili Sumbar ini di antaranya ada yang berkursi roda dan juga tuna netra. Namun semangat mereka bisa dikatakan sama dengan manusia lainnya, bahkan mungkin lebih bersemangat. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, namun berusaha berjuang mengharumkan dan membela nama Sumbar di pentas nasional. Ini patut diapresiasi. Bahkan juga menjadi bahan renungan.

Penyandang disabilitas sudah tidak masanya lagi direndahkan potensinya. Karena mereka justru yang mengajarkan bagaimana bersemangat menjalani kehidupan dengan kondisi yang ada yang merupakan takdir Allah SWT. Sebaliknya, banyak manusia justru mengharapkan belas kasihan orang lain, padahal dirinya malas belajar, malas bekerja, tidak bersemangat, dan tidak mau bersyukur dengan kesempurnaan fisik yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

Jika penyandang disabilitas berusaha dan tidak ingin menjadi beban orang lain karena kekurangan yang dimilikinya, maka sebaliknya banyak manusia jutsru tidak malu lagi membebani orang lain bahkan terus menjadi beban orang lain.

Andaikan orang mampu mensyukuri kondisi mereka dibanding penyandang disabilitas, maka Allah SWT pun akan memberikan nikmatNya. Dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Dengan kondisi fisik yang normal, seharusnya seseorang bisa lebih produktif di bidang masing-masing. Baik produktif dalam urusan dunia, dan juga produktif dalam urusan akhirat. Orang yang bersyukur, ia tidak akan menyiakan-nyiakan kesempurnaan fisik yang dimilikinya, bahkan selalu bersyukur jika ia bandingkan dengan orang lain yang kurang seberuntung dia. Ketidakbersyukuran seseorang dengan kondisi fisiknya yang normal seringkali memicu kesombongan diri. Sehingga kondisi fisik yang prima menjadi landasan untuk berperilaku arogan, merasa diri hebat, menipu dan membohongi orang lain, menakut-nakuti orang lain, dan perilaku negatif lainnya yang jauh dari implementasi bersyukur itu sendiri.

Semangat untuk maju, sukses, dan menang yang saya lihat pada atlet Peparnas Sumbar ketika melepas mereka apabila dimiliki oleh orang yang berfisik sempurna pastinya akan membawa kebaikan bagi orang banyak dan juga dirinya sendiri. Dan itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang berfisik sempurna dan memiliki semangat dan motivasi tinggi meraih prestasi, meskipun tidak sedikit juga yang berperilaku sebaliknya. Betapa banyak orang-orang yang karena tidak mensyukuri fisik yang sempurna justru menjadi pelaku kekerasan di berbagai tempat, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam keluarga, kekerasan di sekolah, hingga skala yang lebih besar. Ini bisa kita baca dan saksikan melalui media cetak maupun elektronik.

Bayangkan jika para pelaku kekerasan itu semua menjadi orang-orang baik, yang mampu mensyukuri nikmat Allah SWT. Betapa  istri dan anak-anak yang akan meningkat kebahagiaannya, betapa banyak pelajar dan orang banyak mendapat kebaikan dari mereka. Betapa banyak masyarakat menjadi aman dan tenteram hidupnya karena hal positif tersebut.

Semoga dengan karunia dari Allah SWT berupa fisik sempurna, menjadikan kita senantiasa bersyukur dan banyak berbuat baik serta berprestasi di bidang masing-masing. Dan bagi yang Allah SWT takdirkan memiliki fisik yang kurang sempurna, semoga senantiasa berpikiran positif. Akal kita kadang tidak mampu memikirkan ada apa di balik takdir yang diberikan kepada setiap manusia. Dengan selalu berbaik sangka kepada Allah SWT dan memiliki semangat maju, insya Allah kondisi fisik yang ada tidak menjadi penghalang. Karena ternyata sudah banyak dibuktikan bahwa kesuksesan sudah banyak diraih oleh para penyandang disabilitas ini. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 25 Oktober 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>