«

»

Yang Siap Yang Menang

4 Januari 2017

Pada 14 Desember 2016 lalu pertandingan putaran final piala AFF (Asean Football Federation) yang diselenggarakan di Jakarta antara Indonesia dengan Thailand dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 2-1 untuk Indonesia. Pendukung Indonesia yang sangat antusias memberikan dukungan kepada tim kesayangannya ini sangat membantu spirit para pemain tim Indonesia. Waktu itu saya turut mengadakan nonton bareng (nobar) dengan beberapa sahabat saya dan juga staf di rumah dinas untuk meramaikan dukungan kepada tim Indonesia.

Pada putaran final yang diselenggarakan di Thailand, kali ini saya ikut nobar di pantai Muaro Lasak. Kali ini suasananya lebih tegang, karena tim Indonesia bermain di kandang tim Thailand. Dan setelah mengikuti jalannya pertandingan, skor akhir 2-0 untuk Thailand atau skor agregat 3-2 untuk kemenangan Thailand.

Dengan hasil yang sudah dicapai tersebut, kita perlu memberikan apresiasi kepada tim Indonesia yang sudah berlaga di partai final. Tim Indonesia tercatat sudah beberapa kali menjadi calon juara piala AFF dengan berlaga di final. Namun kemenangan belum diraih. Tentu bisa dicari sebabnya, mengapa untuk piala AFF kali ini tim Indonesia belum bisa mendapatkannya.

Hal yang mungkin menjadi sebab utama adalah minimnya waktu persiapan tim Indonesia yang hanya sekitar 6 bulan. Dan dalam 6 bulan itu juga ada kendala seperti membentuk formula pemain yang tepat. Jika dibandingkan dengan tim Thailand, mereka sudah mempersiapkan jauh lebih lama dibanding Indonesia, kurang lebih sekitar enam tahunan. Bahkan Thailand menerjunkan pasukan terbaiknya di piala AFF 2016 ini. Di samping itu tim Thailand juga memiliki pengalaman bertanding di kancah yang lebih luas lagi, bertarung dengan berbagai tim tangguh di berbagai iven internasional.

Kita bisa mengatakan bahwa pihak yang lebih siap biasanya adalah pihak yang memenangkan pertandingan. Dan ini berlaku untuk seluruh cabang olahraga. Oleh sebab itu, persiapan untuk menang harus dilakukan sejak dini. Salah satu contoh yang bisa dilihat di Sumbar adalah “manusia tercepat di Indonesia” yang juga atlet PON Sumbar 2016, Yaspi Boby. Boby sejak kecil sudah melatih dirinya dengan jalan kaki dari rumah ke sekolah sepanjang 5 kilometer untuk pergi dan pulang. Dan rumahnya pun terletak di atas bukit.

Terkait dengan ungkapan “yang siap yang menang”, beberapa waktu lalu di Gubernuran saya melepas beberapa pemain sepakbola yang masih belia untuk mengikuti pertandingan di Yogyakarta. Mereka adalah hasil seleksi dari seluruh wilayah di Sumbar dan merupakan pemain belia potensial. Mereka tergabung di Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FSSBI) Sumbar. Info terakhir yang saya dapatkan, mereka lolos ke 16 besar dan satu-satunya dari Sumatera yang lolos. Ini patut diapresiasi. Harapan saya, mereka memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menjadi pemain bola handal kelak.  Jika saat ini usia mereka sekitar 12 tahun, maka dengan persiapan yang cukup dan bertanding di berbagai kejuaraan kelak pada usia 18 tahun mereka sudah semakin matang dan berkualitas.

Sementara itu, selaku Ketua Umum Inkanas Sumbar saya juga berusaha menyiapkan atlet karateka sejak belia. Tiga orang dari Pengurus Pusat Inkanas pada akhir tahun 2016 saya minta datang ke untuk melakukan pencarian bakat muda di beberapa kota di Sumbar. Mereka, para bibit muda ini akan dilatih dan dibina serta dipersiapkan untuk menjadi atlet karate Inkanas yang potensial.

Saya yakin bahwa untuk menghasilkan atlet karateka yang berkualitas nasional maupun  internasional perlu persiapan sejak dini. Selain itu, para atlet yang sudah tidak belia lagi juga tetap harus sering mengikuti kejuaraan sehingga bisa lebih diasah lagi kemampuannya di lapangan. Dengan jam terbang yang memadai, insya Allah akan dihasilkan atlet-atlet yang potensial.

Kesuksesan akan diraih oleh orang-orang yang memiliki persiapan. Baik kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Ini adalah sunatullah atau ketetapan Allah SWT dalam kehidupan manusia. Semakin lama persiapannya, maka insya Allah semakin baik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga menyampaikan pentingnya persiapan, yaitu persiapan menghadapi kematian.

Seorang lelaki dari kalangan Anshar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Tabrani, dan Al Haitsamy).

Jika mempersiapkan kematian saja merupakan bagian dari kecerdasan, maka tentunya dalam kehidupan pun setiap kita harus memiliki persiapan agar tercapai tujuan yang diinginkan. Sehingga insya Allah kita bisa meraih kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Semoga masing-masing kita memiliki persiapan yang cukup untuk kesuksesan hidup di dunia dan juga di akhirat. Aamiin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 4 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>