«

»

Merawat Pantun dari Ranah Minang

21 Agustus 2017

Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Irwan Prayitni, Psi., M.sc  mendapatkan Penghargaan Rekor MURI atas “Kepala Daerah yang Menciptakan Karya Pantun  Terbanyak”

OLEH SAPTO ANDIKA CANDRA

Irwan Prayitno gesit memainkan stik menggebuk drum yang dihadapinya. Selain didapuk sebagai pemain drum, Gubernur Sumatera Barat ini juga lihai olah vokal. Ia menjadi salah satu personel Ipe Band yang membuka gelaran final Festival Pantun ala Irwan Prayitno.Lagu Wali Band, “Tobat Maksiat”, dibawakan dengan apik. Selain lihai melontarkan pantun, Irwan juga cakap bermain musik. Ialah sosok pejabat publik yang menerima rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kepala Daerah Pencipta Pantun Terbanyak. Bahkan, Irwan juga menerima sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas buku Pantun Spontan ala Irwan Prayitno.

Kegigihan Irwan untuk merawat pantun ditunjukkan dengan langkah nyata. Pada Ahad (20/8), bertempat di Pantai Muaro Lasak, Padang, Final Festival Pantun ala Irwan Prayitno digelar. Sebanyak 50 siswa SMA sederajat berhasil melaju dari 871 peserta se-Sumatra Barat. Mereka akan merebutkan hadiah uang tunai dengan total Rp 35 juta. Lima terbaik I masing-masing mendapat Rp 3 juta, 5 terbaik ll mendapat Rp 2 juta, dan 10 terbaik III mendatap Rp 1 juta.”Finalis akan diminta membuat pantun spontan dan dibacakan di hadapan saya, dewan juri, dan segenap masyarakat yang hadir,” tutur Irwan di sela Festival Pantun ala Irwan Prayitno di Pantai Muaro Lasak, Padang, Ahad (20/8).

Budaya berpantun dari Melayu- Minang memang terancam ditinggalkan. Regenerasi budaya pantun yang belum optimal membuat warisan budaya ini terancam luruh. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menyadari perlunya merawat kembali budaya berpantun. Irwan, sebagai orang nomor satu di Provinsi Sumbar, menjadi tokoh utama. Perjalanan merawat budaya berpantun mulai dilakukan dengan intens selama dua tahun belakang.

Caranya, dengan konsisten Irwan akan menyelipkan pantun di setiap sambutan resminya. Awalnya, ia masih meminta bantuan staf gubernur meracik pantunnya. Lalu, Irwan mulai mahir membuat pantun sendiri hanya dalam 3 bulan berjalan. Kini, Irwan bisa menyampaikan 10 hingga 20 pantun dalam sekali sambutan. Bahkan, ia mengaku bisa menyampaikan 40 pantun dalam satu acara saja.

Nyaris dua tahun berjalan, Irwan mencatat telah menulis 18 ribu pantun. Atas desakan banyak pihak, akhirnya ia membukukan pantun- pantunnya dalam enam buah buku.

Hingga akhir 2017 ini, direncanakan dua buku lagi bisa terbit dan menambah deretan buku pantun ala Irwan Prayitno.

Menurut Irwan, kegemaran berpantun untuk membiasakan masyarakat Sumatra Barat kembali mencintai budaya pantun. Harapannya sederhana, setiap acara yang diadakan di Sumatra Barat bisa disisipkan pantun-pantun oleh pengisi acara. “Seperti tadi, pembawa acara mulai menyelipkan pantun-pantunnya. Enak didengar,” ujar Irwan.

Irwan berharap dengan kembali dikenalnya budaya berpantun, masyarakat Sumatra Barat kembali menggemari kebiasaan berpantun spontan.

Apalagi, ia menilai bahwa budaya berpantun kini mulai ditinggalkan generasi muda. “Mudah-mudahan ini kembali membudaya di tengah masyarakat Melayu,” ujar Irwan.

Hasil festival pantun menunjukkan generasi penerus terbaik. Mereka diharapkan terus merawat budaya berpantun. Dari lima siswa terbaik pertama, tiga di antaranya berasal dari SMA Negeri 1 Lubuk Alung Padang Pariaman. Sementara, dua lainnya dari SMA Negeri 3 Padang dan SMA Adabiah 2 Padang. Shanny Pilotuchari, pemenang lomba pantun dari SMA Abadiah 2 Padang, menuturkan, generasi muda masa kini harus lebih mencintai pantun. Menurut dia, terdapat nilai-nilai luhur yang coba disampaikan dalam budaya berpantun.

“Ketika berpantun, kita diajarkan untuk cepat mengambil kata-kata. Kita diajarkan berpikir cepat namun tidak melenceng dari rima yang ada,” ujar Shanny.

Pada gelaran Festival Pantun kali ini, Irwan juga memperoleh hak cipta atas 18 ribu pantun yang ia ciptakan dalam kurun waktu 1 tahun 6 bulan.

Sertifikat hak cipta ditandatangani Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Penyerahannya diwakili Kepala Kanwil Kemenkumham Sumbar Dwi Prasetyo.

Dwi mengaku tidak mudah menyer tifikasi seluruh pantun Irwan. Apalagi, proses sertifikasi harus dilakukan hanya dua bulan sejak Juni 2017 hingga gelaran final Festival Pantun ala Irwan Prayitno. Kami kerja keras dan jumlah 6 buku dengan total pantun 18 ribu,” kata Dwi.Irwan juga dicatat oleh rekor MURI.

Manager MURI Andre Purwandono menuturkan, sebelumnya, tidak ada satu pun pejabat publik di Indonesia, bahkan dunia, yang menciptakan pantun sebanyak ini. Andre menilai langkah Gubernur Sumbar untuk menyampaikan pantun bisa menum buhkan kecintaan masyarakat Minang dan Indonesia untuk membudayakan pantun.

“Rekor yang tercipta untuk pertama kalinya oleh kepala daerah. Sebelumnya, di mana pun kepala daerah belum pernah ciptakan pantun yang indah dan ini terbanyak pula 18 ribu.”

Andre berharap pemberian piagam MURI kepada Irwan bisa menumbuhkan motivasi masyarakat Sumatra Barat dan Indonesia pada umumnya untuk lebih mencintai pantun. Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi Sumbar untuk membudayakan pantun di sekolah- sekolah dan instansi pemerintahan.

Irwan juga memperoleh sertifikat hak cipta atas 18 ribu pantun yang ia ciptakan. Seluruh pantunnya telah dibukukan ke dalam enam buah judul buku. Irwan sendiri menargetkan bisa menerbitkan 30 buku berisi kumpulan pantun ciptaannya dalam lima tahun mendatang. “Kalau satu tahun lebih saja bisa 6 buku, bahkan ini dalam empat bulan tambah dua buku, kalau saya masih berkarya lima tahun ke depan, bisalah 30 buku,” katanya. (ed: agus raharjo)

 

Republika, 21 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>