«

»

Kurban, Kepedulian Sosial

6 September 2017

Alhamdulillah, pada hari Jumat 1 September 2017 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1438 H pelaksanaan sholat Idul adha berjalan baik di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Padang. Saya bersama Bpk. Nasrul Abit dan jajaran Pemprov, Forkompimda, warga kota Padang, dan juga perantau menunaikan sholat id di sini.

Dalam salah satu poin sambutan saya sebelum pelaksanaan sholat id, saya mengajak diri sendiri dan masyarakat menjadikan kurban sebagai bagian dari gaya hidup positif. Yaitu menumbuhkan kepedulian sosial. Karena sesungguhnya menunaikan kurban ini bukanlah seperti zakat yang harus memenuhi syarat terpenuhinya nasab. Selain itu alokasi zakat terbatas pada delapan golongan yang disebut dalam Alquran.

Sedangkan kurban, bisa dilakukan oleh para penerima zakat sekalipun. Dan daging kurban bisa diberikan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Bahkan beberapa lembaga sosial kemanusiaan sudah menyalurkan daging kurban ke pelosok negeri yang sulit dijangkau termasuk ke negara-negara yang dilanda perang dan konflik sosial.

Entah sudah berapa kisah yang diberitakan oleh media tentang pemulung, tukang becak, tukang sapu, tukang cuci dan para kaum dhuafa lain yang melaksanakan kurban. Mereka mengumpulkan uang ada yang dalam waktu cukup lama, berbilang tahun. Padahal jika melihat golongan penerima zakat, mereka harus mendapatkan zakat tersebut. Namun justru meskipun mereka dalam kondisi tidak mampu mau bersusah payah untuk berkurban.

Di samping itu, kita juga perlu belajar dari keteladanan Nabi Ibrahim. Dalam surat Al Mumtahanah ayat 4 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia …”. Teladan dari Nabi Ibrahim di antaranya adalah haji dan berkurban. Bagi Ibrahim, dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT ia akan korbankan apa saja yang dimilikinya.

Keteladanan Nabi Ibrahim yaitu mengorbankan hewan untuk meraih ridha Allah SWT. Tidak sampai di situ saja. Bahkan akhirnya mengorbankan anaknya Ismail untuk mematuhi perintah Allah SWT. Maka keteladanan Nabi Ibrahim ini perlu menjadi kebiasaan yang ada di setiap keluarga muslim. Banyak manfaat yang akan didapat ketika kurban sudah menjadi kebiasaan oleh setiap keluarga muslim.

Dengan berkurban, seorang muslim mengikhlaskan uang yang dimilikinya untuk dibelikan hewan kurban. Dan hewan kurban yang sudah disembelih kemudian dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Bukan lagi untuk yang berkurban. Dengan demikian ia telah berbagi kepada yang lebih membutuhkan, yang merupakan wujud kepedulian sosial.

Berkurban sama halnya dengan berinfak atau bersedekah yang bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam baik miskin maupun kaya. Namun berkurban bagi yang tidak melaksanakan haji menurut jumhur ulama adalah sunnah muakad. Yaitu sunnah yang posisinya hampir mendekati wajib. Bagi keluarga yang mampu berkurban, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya. Karena mereka yang tidak mampu pun banyak berusaha agar bisa berkurban.

Perintah berkurban juga Allah SWT firmankan dalam surat Al Kautsar ayat 2 yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” Jika shalat adalah dalam rangka kesalehan pribadi, maka kurban merupakan bentuk kesalehan sosial. Kesalehan sosial berupa kurban yang dilaksanakan dengan baik insya Allah akan berdampak positif. Di antaranya mengurangi kesenjangan di masyarakat dan meningkatkan kepedulian sosial.

Para penerima daging kurban tentu merasa senang bisa menikmati makan dengan menu daging. Karena sehari-hari mereka dan keluarganya mungkin jarang makan daging.  Sementara bagi yang berkurban, ada kepuasan rohani bisa berkurban dan membantu sesama.

Maka, jika semakin banyak keluarga muslim yang menunaikan kurban, akan semakin banyak orang yang terbantu. Mereka bisa menikmati daging kurban yang selama ini mungkin jarang menjadi menu harian atau mingguan mereka.

Di samping itu, semangat berkurban seharusnya bukan hanya ketika Idul adha, akan tetapi juga di waktu yang lain. Sehingga tumbuh hubungan positif antara yang miskin dengan yang kaya. Hal ini insya Allah akan mengurangi kesenjangan dan kemiskinan. Sehingga dengan kepedulian sosial yang sudah menjadi gaya hidup, sebuah masyarakat bisa menjadi kuat. Yaitu memiliki ketahanan sosial. Kejahatan dan kriminalitas pun berkurang.

Berkurban juga merupakan bentuk rasa syukur seorang muslim kepada Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya,  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”  Semoga semakin banyak keluarga muslim yang mengaplikasikan rasa syukurnya dengan melaksanakan kurban dan berbagi. Sehingga kepedulian sosial makin tumbuh subur di negeri ini. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 6 September 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>