«

»

Pemprov Sumbar Torehkan Banyak Prestasi

2 Januari 2018

Tahun 2017 lalu, begitu banyak torehan prestasi yang diraih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) dibawah kepemimpinan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit dalam memajukan pembangunan maupun perekonomian ekonomi masyarakat.

Selain itu, puluhan lebih penghargaan selama kepemimpinan keduanya diraih. Baik dari pemerintah pusat maupun lembaga berskala nasional juga diraih keduanya. Menyongsong tahun 2018 dengan semangat baru.  Keduanya, bertekad akan lebih meningkatkan apa yang telah diraih selama 2017. Tentu saja dengan bantuan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sumbar dan stakeholder terkait lainnya. Yang akan membawa Sumbar lebih berkembang lagi dari segala sektor yang ada. Sehingga berdampak pada kemajuan daerah dan masyarakat.

“Kita optimis pada tahun 2018 ini akan lebih baik lagi. Dan bisa memberikan yang terbaik untuk Sumbar,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno didampingi Wakil Gubernur Nasrul Abit serta Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman, kemarin saat ekspose akhir tahun 2017 yang diinisiasi Humas Setdaprov Sumbar di Auditorium Gubernuran.

Dalam satu tahun kemarin atau selama 2017, kata Irwan banyak yang telah dilakukan. Di antaranya pembangunan insfrastruktur yang memberikan efek positif bagi masyarakat. Yang pada akhirnya dapat menunjang perekonomian masyarakat.

Selain sektor pembangunan, Pengendalian inflasi di daerah, Pemprov Sumbar dan jajaranya memiliki andil dalam hal ini. Sehingga dapat dilihat  dari bulan ke bulan, inflasi di Sumbar dapat terkendali. Itu dibuktikan,  engan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar menjadi TPID terbaik untuk kawasan Sumatra. Penghargaan ini diraih karena keberhasilan dalam mengendalikan inflasi, terutama pada saat Ramadhan dan Lebaran 2017.

“Bahkan untuk mengatasi inflasi di Sumbar, saya juga meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  perlu ada di Sumbar, supaya pengawasan terhadap pengusaha yang bergerak di sektor pangan bisa lebih ketat. Termasuk semua komoditi pangan sebagai indikator penyebab inflasi dikelola dengan baik seperti, cabai dan jengkol,” katanya.

Tidak hanya itu, ia juga pernah mengusulkan dalam pengendalian inflasi di Sumbar, di mana harga tiket pesawat Jakarta-Padang dan sebaliknya yang sering melonjak sangat tinggi setiap Ramadhan dan lebaran harus menjadi perhatian. Serta, penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mendukung distribusi serta perbaikan tata niaga pangan juga harus menjadi perhatian serius. Sehingga, pemerintah daerah secara tidak langsung dapat mengendalikan harga yang bergejolak melalui BUMD.

Dari sektor Pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Sumbar melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Teluk Bayur bulan Oktober 2017 mencapai 4.826 orang, mengalami peningkatan 11,02 persen disbanding  wisman September 2017yang tercatat sebanyak 4.347 orang.

“Sedangkan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumbar bulan Oktober 2017 mencapai ratarata 59,64 persen mengalami peningkatan 0,37 poin disbanding TPK bulan September 2017 sebesar 59,27 persen,” tuturnya. Ini, kata Irwan menunjukan pariwisata yang mulai gencar.

Bahkan, Sumbar dinobatkan sebagai tujuan destinasi wisata halal terus menjadi lirikan bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung di luar dari wisatawan lokal. Mungkin, jika digabungkan dengan wisatawan lokal pasti jumlah kunjungan lebih meningkat. “Wisman  saja naik kunjungannya,apalagi jika ditambah lokal. Ini data yang kita miliki merujuk dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar,” katanya.

Untuk nilai ekspor dan impor Sumbar juga mengalami peningkatan. Hal itu dapat dilihat  dari nilai ekspor Sumbar bulan November 2017 terjadi  peningkatan sebesar 2,14 persen dibanding ekspor bulan Oktober 2017. Bahkan, nilai ekspor November 2017 ini meningkat  sebesar 0,87 persen jikadibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

“Nilai impor Sumbar bulan November 2017 terjadi peningkatan sebesar 49,73 persen dibanding impor bulan Oktober 2017. Nilai impor bulan November 2017 naik sebesar 192,09 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya,” terangnya.

Tidak hanya itu, pertumbuhan  ekonomi Sumbar pada triwulan III-2017 tumbuh 5,38persen. Itu dapat diukur berdasarkan  besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Sumatera Barat triwulan III-2017 meningkat sebesar 2,13 persen (q-to-q). Serta, ekonomi Sumbar triwulan I-III 2017 (c-to-c) tumbuh sebesar 5,23 persen.

Kemudian dari segi Indeks  Pembangunan Manusia (IPM) terus mengalami kemajuan. Baik itu dari berapa sektor. Di antaranya Angka Harapan Hidup (AHH), harapan Lama Sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita setahun.

“ IPM untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitas hidup manusia.IPM Sumbar terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun,” ulasnya. Dari segi pengangguran, dari tahun ke tahun, persentase pengangguran di Sumbar terus menurun. Hal ini terjadi karena upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran. Lewat job fair baik itu tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang dilakukan setiap tahunnya dengan mengandeng beberapa perusahaan.

“Jadi, job fair merupakan satu cara pengurangan pengangguran dengan mempertemukan langsung pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan,” ujarnya. Berkurangnya terus pengangguran di Sumbar kata Irwan, itu berimbas dengan terus mengalami peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP). Di mana, dari tahun ke tahun terus meningkat. Sehingga, dapat membantu para pekerja memenuhi kebutuhan hariannya. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga.

Dari sektor pertanian, nilai tukar petani (NTP) Sumbar bulan November 2017 tercatat sebesar 96,15 atau turun  0,46 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 95,71 (Oktober 2017). Indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen,dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen.

“Pada bulan November 2017 NTP masing-masing subsector tercatat sebesar 91,56 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 83,96 untuk subsector hortikultura (NTPH), 101,28 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR), 103,80 untuk subsector peternakan (NTPT), dan 109,27 untuk subsektor perikanan (NTPN).  Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masingmasing sebesar 109,44 dan 109,23,” tandasnya.

Tahun 2018 ini, semua program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik. Sehingga, akan berdampak  kepada kemajuan daerah yang menyasar seluruh sektor.

Padang Ekspres, 2 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>