«

»

LGBT

8 Mai 2018

Pada 23 April 2018 saya menghadiri Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pemprov Sumbar dengan mengundang berbagai pemangku kepentingan terkait, baik dari provinsi maupun kota/kabupaten, termasuk LKAAM, MUI, dan tenaga medis. Topik bahasannya adalah tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).

Pembicaraan tentang LGBT ini mengingatkan saya tentang indeks demokrasi Sumbar yang sempat mendapat nilai rendah beberapa tahun lalu. Salah satu sebabnya karena adanya pejabat di Pemprov yang menyatakan penentangannya terhadap LGBT dan dimuat di media. Sumbar dinyatakan tidak demokratis karena dianggap menentang LGBT. Karena muncul anggapan bahwa menentang LGBT dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM).

Masyarakat Sumbar yang memiliki falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam kehidupan kesehariannya yang menjadikan Alquran dan Hadis sebagai rujukan. Termasuk dalam memandang keberadaan LGBT di lingkungan mereka. Ulama adalah pihak yang memiliki otoritas dalam menafsirkan Alquran dan Hadis. Seluruh ulama sunni dari berbagai mazhab memiliki pandangan yang sama bahwa LGBT bertentangan dengan ajaran Islam. Maka tidak heran jika masyarakat dan pemerintah di Sumbar tidak menginginkan hadirnya LGBT yang berdampak negatif, sebagai sebuah konsekuensi falsafah hidup masyarakat yang sudah ada sejak lama.

Menyikapi keberadaan LGBT di Sumbar maka perlu terlebih dahulu melihat data yang ada. Ada yang disebut estimasi, dan ada yang disebut data resmi. Data estimasi berasal dari penelitian dan kemudian dari temuan tersebut diperkirakan jumlah yang ada. Secara umum, jarang ada yang mau mengaku secara terbuka bahwa dia LGBT, maka angka estimasi dipakai untuk memperkirakan jumlah LGBT. Sedangkan data resmi di antaranya berasal dari pasien HIV/AIDS yang kemudian diketahui dia seorang LGBT, biasanya juga didapat dari data pasien di Rumah Sakit.

Untuk mengetahui seseorang adalah LGBT salah satu caranya adalah dengan melakukan pendekatan pribadi kepada orang yang diduga LGBT. Kemudian dari pendekatan tersebut ia mengakui dirinya LGBT, baik secara suka rela maupun terpaksa. Dari satu atau beberapa temuan tersebut kemudian dilakukan penghitungan berdasarkan indikator tertentu yang kemudian menghasilkan estimasi jumlah LGBT.  Memang sangat memungkinkan ketika diwawancara atau mungkin menemui konselor dalam rangka konseling, seorang yang diduga LGBT menceritakan siapa saja “temannya” dan berapa jumlahnya. Namun hal seperti ini belum bisa dijadikan sebagai sebuah data valid karena lebih dominan bersifat kualitatif sehingga tidak bisa dijadikan basis data statistik yang bersifat kuantitatif. Tapi bisa menjadi peringatan akan dampak negatif yang akan muncul jika LGBT menular sehingga ditemukan orang-orang yang terkena HIV/AIDS dari perilaku seks menyimpang menyukai sejenis. Dari temuan orang yang terkena HIV/AIDS ini maka baru bisa direkap jumlah LGBT.

Oleh karena itu, dalam FGD tersebut, seorang konselor dari RS M.Jamil menjelaskan ada beberapa pendekatan dalam rangka menangkal LGBT ini, yaitu promotif, preventif dan kuratif. Promotif yaitu melakukan sosialisasi kepada publik, komunitas, masyarakat, pelajar, guru, remaja, orangtua, pedagang, swasta, awak angkutan, dan lainnya tentang apa itu LGBT , bahayanya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta solusi mengatasinya.

Pendekatan preventif atau pencegahan. Di sini keluarga memegang peran penting upaya pencegahan. Dan konten atau muatan yang cocok untuk disampaikan dalam keluarga adalah ajaran agama, norma adat dan budaya. Jika sebuah keluarga memiliki orangtua yang memiliki pemahaman agama yang baik maka akan terhindar dari berbagai penyimpangan sosial dan nilai nilai agama juga budaya bisa ditanamkan kepada anak-anaknya. Maka keluarga itu akan sehat sehingga bisa mencegah masuknya paham sosial yang menyimpang seperti LGBT. Sebaliknya jika dalam sebuah keluarga, orangtuanya tidak memahami ajaran agama dan juga norma adat dan budaya, anak-anaknya pun akan terikut orangtuanya, dan ini rentan masuk pengaruh LGBT. Keluarga yang sehat juga akan memiliki imunitas terhadap LGBT ketika masing-masing anggota keluarga berinteraksi di lingkungan luar rumah seperti sekolah dan tempat kerja.

Pendekatan kuratif, yaitu pengobatan. Hal ini dilakukan ketika seseorang sudah terkena dampak negatif LGBT yaitu penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS. Di sini seorang LGBT diberikan pengobatan oleh dokter atau klinik yang berwenang, serta juga dilakukan konseling oleh konselor.

Dari orang yang sudah terkena HIV/AIDS, ternyata ada yang tidak merasa bersalah melakukan perilaku seks menyimpang tersebut, bahkan ketika sudah sakit pun tidak mau mengakui kesalahan yang sudah dilakukan. Sehingga tidak ada kemauan untuk berubah.

Dengan demikian, untuk menangkal LGBT perlu dilakukan bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat melalui tiga pendekatan tadi di bidang dan kewenangannya masing-masing. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 8 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>