«

Hari Anti Narkotika Internasional

18 Juli 2018

Dampak negatif penyalahgunaan narkotika atau narkoba, semakin banyak masyarakat yang menjadi korbannya. Sedikitnya sekitar 6 juta orang di Indonesia sudah menjadi korban narkoba. Dan berpotensi meningkat jumlahnya jika tidak dilakukan upaya untuk memeranginya.

Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) jatuh pada 12 Juli 2018 lalu. HANI tingkat nasional diperingati di Lido, Bogor pada 13 Juli 2018. Dengan inspektur upacara Menkopolhukam Bpk. Wiranto. Dalam sambutan tertulis, beliau meminta agar seluruh pihak di pemerintahan (pusat hingga daerah) dan juga masyarakat memerangi penyalahgunaan narkoba.

Tema HANI 2018 adalah, “Mari bersama menyatukan dan menggerakkan seluruh komponen bangsa dalam perang melawan narkoba, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat tanpa narkoba”.

Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi sasaran penyelundupan narkoba. Apalagi akan terjadi bonus demografi pada 2020-2030. Bonus demografi adalah kondisi di mana melimpahnya penduduk usia produktif dan berpotensi memajukan pembangunan bangsa dan negara.

Jika mereka semua mampu mendayagunakan potensinya, akan bisa terjadi akselerasi pembangunan. Sehingga kemajuan bisa lebih cepat dicapai. Namun jika potensi tersebut dihancurkan oleh narkoba, maka akan memberi dampak negatif bagi bangsa dan negara. Untuk itu, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memerangi penyalahgunaan narkoba.

Dalam rangka memerangi penyalahgunaan narkoba, hal yang bisa dilakukan oleh berbagai pihak, di antaranya: Pertama, di pihak orangtua. Mereka harus mengawasi anak mereka. Jangan biarkan anak berperilaku bebas semaunya. Anak perlu dikontrol dan diperhatikan dengan baik. Orangtua juga harus memberikan contoh dan pendidikan kepada anaknya. Sehingga anak bisa dihindarkan dari perilaku yang mengarah kepada penyalahgunaan narkoba. Semakin baik interaksi antara orangtua dengan anak, maka anak akan semakin terlindungi dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Tema HANI yang diangkat oleh United Nations Office Drugs and Crimes (UNODC) tahun 2018 adalah “Listen first, listening to children and youth is the first step to help  them grow healthy and safe”. Tema ini mengajak orangtua agar lebih dekat dengan anak, mendengarkan suara mereka. Selain itu penanaman nilai adat dan agama kepada anak juga turut membantu menjauhkan anak dari penyalahgunaan narkoba.

Kedua, di pihak sekolah dan perguruan tinggi. Kepala sekolah, guru, wali kelas, pegawai, perlu melakukan interaksi dengan siswa ketika berada di sekolah. Sehingga jika ada siswa pengguna narkoba, bisa cepat dideteksi dan ditanggulangi. Di samping itu, pihak sekolah juga perlu melakukan sosialisasi rutin kepada siswa tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Sehingga siswa memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk menjauhkan diri dari penyalahgunaan narkoba. Demikian pula dengan perguruan tinggi, perlu melakukan pengawasan terhadap mahasiswa dan civitas akademika dan juga sosialisasi bahaya narkoba.

Ketiga, di pihak masyarakat. Perlunya meningkatkan pengawasan keamanan lingkungan. Warga, pengurus RT, RW biasanya lebih mengetahui kondisi daerahnya. Jika warga memiliki pengawasan yang baik, maka jika ada pengguna narkoba atau pesta narkoba di wilayahnya, akan bisa cepat diatasi bersama.

Keempat, di pihak organisasi sosial kemasyarakatan dan komunitas. Organisasi sosial kemasyarakatan dan komunitas juga memiliki peran strategis untuk melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkoba sekaligus melakukan kontrol sosial. Selama ini sudah banyak organisasi dan komunitas yang melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkotika. Dan mudah-mudahan perannya bisa semakin ditingkatkan.

Kelima, di pihak pemerintah. Pemerintah pusat termasuk BNN (Badan Narkotika Nasional)  dan pemda selama ini telah ikut aktif bersama berbagai elemen melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkoba dan juga melakukan tindakan lainnya dalam rangka memerangi penyalahgunaan narkoba.

Keenam, pihak kepolisian dan medis. Selama ini peran kepolisian dalam menumpas kejahatan penyalahgunaan narkoba sudah memperlihatkan kinerja yang semakin baik. Sementara di pihak medis, peran mereka dalam membantu penyembuhan orang yang melakukan penyalahgunaan narkoba juga sudah memperlihatkan kinerja yang baik.

Dalam memerangi penyalahgunaan narkoba, ada beberapa pendekatan yang dilakukan. Pendekatan promotif, mesti diutamakan. Yaitu melakukan sosialisasi untuk mengenal bahaya narkoba dan mengajak untuk jauh dari narkoba. Sehingga orang tahu dan sadar akan bahaya narkoba. Serta memiliki kemauan sendiri untuk jauh dari narkoba.

Berikutnya adalah pendekatan preventif, yaitu pencegahan. Ini dapat dilakukan di keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah dan kampus, kantor, organisasi dan tempat lainnya.  Kemudian pendekatan kuratif atau pengobatan. Ini dilakukan kepada orang yang sudah terkena narkoba. Mereka diobati dan direhabilitasi. Dan terakhir adalah pendekatan penegakan hukum. Ini dilakukan oleh aparat terkait kepada pengguna, pengedar, bandar dan pabriknya.

Insya Allah, dengan peran serta seluruh pihak dan juga berbagai pendekatan dalam menghadapi penyalahgunaan narkoba, dapat meminimalkan jatuhnya korban. Sehingga kita sebagai bangsa bisa menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 18 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>