«

»

Gerakan Sungai Bersih

1 Agustus 2018

Pada 29 Juli 2018 lalu saya memenuhi undangan (via WA) dari Bpk. Andrinof Chaniago untuk hadir  di acara Gerakan Sungai Bersih yang berlokasi di Sungai Batang Arau, Kota Padang. Beliau mengkoordinasikan enam BUMN untuk menggerakkan sukarelawan serta masyarakat membersihkan sungai Batang Arau.

Saya mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Andrinof, yang sangat peduli tentang masalah lingkungan hidup. Di antaranya kebersihan sungai dan kelangsungan hidup makhluk hidup yang ada di sungai. Dengan inisiatif yang dilakukan untuk membersihkan sungai Batang Arau ini, orang menjadi tergerak dan tersadarkan untuk lebih peduli dengan kebersihan lingkungan sekitarnya, termasuk membersihkan sungai.

Dalam ajaran Islam, kebersihan merupakan bagian dari pelaksanaan kehidupan muslim. Maka muslim yang bersih membuktikan ia telah mengamalkan ajaran agamanya. Sehingga memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitarnya. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi).

Bersih dari segi kesehatan berarti jauh dari penyakit. Hidup lebih sehat. Produktivitas bisa meningkat, penghasilan pun juga bisa meningkat. Biaya berobat bisa diminimalkan, dan hidup lebih semangat. Bersih dari segi ekonomi, seperti tempat usaha yang bersih, akan menarik orang datang sehingga penghasilan meningkat. Atau bersihnya pantai dan sungai akan mendatangkan  banyak wisatawan sehingga uang masuk pun memberikan dampak kepada masyarakat atau pelaku usaha.

Maka sesungguhnya hidup bersih itu merupakan suatu kebutuhan yang bisa memberikan dampak positif, baik bagi kesehatan, ekonomi, spiritualitas, dan lainnya.

Jika melihat sungai-sungai di luar negeri, terutama negara maju, hampir semuanya bisa dikatakan bersih. Sungai yang bersih itu menjadi tempat mencari nafkah bagi masyarakat, seperti wisata perahu, wisata sungai, transportasi, penginapan di pinggir sungai, atau tempat makan-minum di pinggir sungai.

Sungai bersih memberikan energi positif kepada penduduk, lingkungan dan juga orang atau wisatawan yang datang. Sehingga bisa memunculkan efek multiplier bagi kesejahteraan.

Dalam Alquran surat Ibrahim ayat 32 Allah Swt berfirman yang artinya, “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Jika sungai-sungai di negara lain, terutama negara maju bersih, maka seharusnya di negeri kita pun sungai bisa bersih. Kota Padang sebagai ibu kota Sumbar memang perlu menampilkan diri lebih baik, termasuk sungai-sungainya. Alhamdulillah, kebanyakan sungai di Padang masih dalam keadaan bersih. Kecuali sungai Batang Arau yang cukup padat penduduk tinggal di sekitarnya. Memang perlu perhatian lebih serius. Karena kawasan ini semakin terkait erat dengan pariwisata. Sehingga kebersihannya merupakan sebuah kebutuhan.

Dengan sungai yang bersih, lingkungan mejadi bersih, kesehatan akan semakin baik. Wisatawan pun berdatangan, dan uang pun berdatangan. Insya Allah ini akan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Untuk menciptakan sungai bersih adalah mencegah adanya sampah di sungai. Dan untuk mencegah sampah ada di sungai adalah usaha dari masing-masing kita membuang sampah di tempat yang tepat. Pemerintah sudah memfasilitasi adanya tempat-tempat sampah. Maka masyarakat sudah seharusnya membuang sampah tidak lagi sembarangan.

Satu contoh menarik dari Jepang tentang peran individu menyikapi sampah, di mana dulu pernah ada kelompok yang meledakkan bom obat bius. Mereka meletakan bom di tempat sampah yang ada di stasiun atau fasilitas publik. Maka banyak jatuh korban. Setelah kejadian tersebut, tidak ada lagi tempat sampah di fasilitas publik.

Dan masyarakat Jepang membiasakan menyimpan sampah selama di perjalanan di dalam kantung baju, celana atau tas mereka. Setelah menuju ke rumah, menjelang rumah baru ada tempat sampah. Di situlah mereka membuang sampah yang mereka bawa di kantong baju, celana dan tas mereka. Ini menunjukkan, mereka tidak mau buang sampah sembarangan. Lebih baik disimpan di kantong baju, celana dan tas daripada harus dibuang sembarangan. Mereka akan membuangnya di tempat sampah.

Semoga kita pun bisa mencontoh perilaku masyarakat Jepang dalam membuang sampah. Jika mereka bisa, kita pun harusnya bisa. Apalagi bagi umat Islam, dengan kita bersih maka kita mendapat pahala dan kebaikan. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 1 Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>