«

»

Banjir Lagi

18 Oktober 2018

Baru saja kita di Sumbar ikut berduka dan bersimpati kepada saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan sekitarnya, tiba-tiba kita dikejutkan dengan musibah yang terjadi di Sumbar. Banjir bandang dan longsor  yang terjadi di Tanah Datar dan Padang Pariaman telah menimbulkan korban jiwa dan juga korban luka-luka. Sementara di Pasaman Barat terjadi longsor dan banjir yang menyebabkan jembatan dan jalan menjadi rusak.

Selain Tanah Datar, Padang Pariaman dan Pasaman Barat, daerah lain yang terdampak banjir adalah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan,  Pasaman, Agam, Sijunjung, Mentawai, Solok dan Sawahlunto. Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 11 Oktober 2018 di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar  menimbulkan jatuhnya korban manusia. Dan  juga telah menyebabkan beberapa rumah rusak berat, serta ada juga kedai dan ruko yang ikut rusak. Termasuk juga jembatan yang rusak akibat banjir bandang tersebut.

Untuk itu, atas nama Pemprov Sumbar kami turut berduka serta mendoakan bagi para korban semoga Allah Swt meninggikan derajat mereka yang meninggal dunia di sisiNya. Serta bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapinya. Dan bagi korban luka semoga Allah Swt segera pulihkan kondisinya. Amin.

Sementara itu terkait penanganan yang sudah dilakukan, saya turut mengapresiasi langkah berbagai pihak yang ikut membantu penanganan bencana tersebut. Baik kepada Pemda, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, SKPD, relawan, dan masyarakat. Saat ini kita memang harus sangat sensitif terhadap berbagai kemungkinan datangnya berbagai bencana yang akan terjadi di wilayah kita. Karena selain sering terjadinya gempa di wilayah lain yang diikuti tsunami dan likuefaksi yang tidak bisa diprediksi sehingga kita pun harus waspada, di wilayah kita juga begitu banyak potensi bencana yang sebenarnya masih bisa diantisipasi.

Terjadinya banjir, banjir bandang, longsor, sebenarnya bisa diprediksi sehingga bisa diantisipasi agar tidak terjadi korban. Hal Ini bisa dilihat dari curah hujan dan lamanya hujan. Jika hujan yang turun cukup lama dan curah hujannya tinggi, maka bagi mereka yang tinggal di dekat sungai harus waspada akan kemungkinan datangnya banjir atau banjir bandang. Dan bagi mereka yang tinggal dekat dengan tanah atau dataran yang memiliki kemiringan tertentu sudah bisa melakukan antisipasi dengan menjauhi lokasi tersebut untuk sementara waktu. Datangnya banjir dan longsor tidaklah tiba-tiba, tetapi didahului proses turunnya hujan dengan waktu yang tidak sebentar. Sehingga korban bencana akibat hujan seharusnya bisa diantisipasi dan menghindarkan munculnya korban jiwa.

Kami tak bosan-bosannya mengimbau kepada masyarakat agar menjauhi sungai dan lokasi rawan longsor. Dan bila perlu bisa mencari tempat tinggal yang jauh dari sungai dan tempat rawan longsor. Selain itu, kami juga mengimbau masyarakat, terutama dalam lingkup keluarga agar memiliki rencana kesiapsiagaan mengantisipasi terjadinya bencana. Baik yang tidak bisa diprediksi maupun yang bisa diprediksi.

Dari sisi pemerintah sendiri, kami telah mengupayakan kesiapan instansi terkait dalam menghadapi datangnya bencana. Seperti kesiapan peralatan, sarana dan prasarana maupun perbaikan dan peningkatan standard operating procedure (SOP).

Terkait penanganan banjir bandang, maka yang bisa dilakukan  untuk mengatasinya adalah mencegah penumpukan di hulu sungai yang menimbulkan semacam bendungan alami. Biasanya penumpukan ranting-ranting dan dahan pohon maupun batu-batu yang jatuh akibat terjadinya gempa. Dan jika curah hujan tinggi, ia akan jebol sehingga menimbulkan banjir bandang. Juga upaya pengerukan sungai yang terjadi pendangkalan serta normalisasi sungai.

Untuk itu, kami juga mengajak relawan, masyarakat, aparat, dan para pemangku kepentingan agar bisa berkoordinasi mengatasi hal demikian. Terutama bagi mereka yang berada di wilayah tersebut. Karena mereka lebih mengenal wilayahnya.

Selain  itu, untuk mengantisipasi terjadinya banjir, para pihak terkait juga perlu memeriksa kondisi sungai. Apakah dari segi lebar masih sama dibanding sebelumnya. Apakah kedalamannya juga tidak berubah mengalami pendangkalan. Karena jika sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan, akan berdampak kepada kelancaran arus air. Terutama ketika curah hujan tinggi dan lama. Untuk mengatasinya, maka sungai perlu dilebarkan kembali maupun dilakukan pengerukan.

Semoga masyarakat semakin memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir dan longsor sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Karena hal ini bisa diprediksi sehingga bisa diantisipasi. Selain itu, dengan seringnya banjir dan longsor, maka diharapkan masyarakat mematuhi tata ruang yang telah dibuat oleh pemda. Misalnya, jangan mendirikan bangunan baru di dekat sungai. Karena hal seperti ini sama saja ikut menantang datangnya banjir jika curah hujan tinggi dan lama.

Satu hal yang juga tak kalah penting setelah melakukan berbagai antisipasi menghadapi datangnya bencana, yaitu  menjauhkan kita dari segala bentuk maksiat dan berdoa kepadaNya. Sebagai umat beragama, berdoa adalah jalan untuk menghindari datangnya bencana. Sebagai muslim, di setiap salat wajib dan sunat yang kita lakukan selalu kita baca surat Alfatihah.  “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”, adalah arti dari ayat kelima surat Alfatihah tersebut.

Maka, kita harus senantiasa berdoa kepada Allah Swt agar wilayah kita dijauhkan dari bencana. Karena segala sesuatu yang terjadi di atas dunia ini adalah atas izinNya, atas kehendakNya. Dan dengan berdoa yang khusyuk seraya menundukkan diri dihadapanNya, insya Allah doa-doa kita bisa dikabulkanNya. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 18 Oktober 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>