«

»

Al-Syi’r Al-Tasjiliy dan Pantun Spontan Ala Irwan Prayitno

6 November 2018

(Keberlanjutan Sejarah Tradisi Sastra Melayu, 

Arab Klasik dan Ulama Minang Menyair)

Oleh: Yulizal Yunus

Menarik, seorang Gubernur seperti Irwan Prayitno gemar menulis dan membaca pantun dalam berbagai orasi. Bahkan ia mentradisikan berpidato (berorasi) spontan berpantun dalam memberi sambutan dan memberi amanat pada setiap acara (event) yang dihadiri dan atau yang dibukanya selaku Gubernur. Dari lidahnya meluncur spontan serangkaian pantun. Untaian pantunnya (genre syair) ini memperlihatkan keaslian pikir dan keaslian stilistika (uslub, gaya) sastra yang spasifik. Tidak hasil hafalan “batang”, “ranting” dan “bunga” pantun “sako” yang sudah ada diwariskan turun temurun di dalam masyarakat adat Minangkabau. Fenomena cara berpantunnya ini menginspirasi keberlanjutan tradisi intelektual sastrawan Ulama Minang menyair masa pujangga lama. Ia sendiri menyebut pantun spontannya adalah gayanya sendiri “ala Irwan Prayitno”. Artinya pantun itu terucap serta merta, tanpa pikir dan wajar sebagai bagian makna spontan.

Dampak cara berpantun spontan Irwan Prayitno ini tanpa disadari mentradisi. Faktanya cara berpantun ini diikuti para pejabat terutama oleh unsur Forkopimda Sumatera Barat dalam pidato amanat dan memberikan sambutan pada setiap acara. Tradisi berpantunnya (bersyair) seperti ini selain mengingat kegemilangan “syair siar syi’ar taklimat syari’at dan akidah” dari ulama, juga menginspirasi mengungkap kembali tradisi Islam masa kejayaan Islam dahulu. Tradisi itu bagian warisan tradisi agung Arab klasik dalam pidato dan orasi, maternya sudah merupakan wacana talk menarik dan bergaya khas syair. Bahkan pidatonya yang seperti style syair itu, sudah memiliki unsur musikal dengan rima aa aaatau ab ab. Demikian pula cara berpantun yang ditradisikan Irwan itu, menggugah ingatan kolektif umat Islam pada tradisi para khalifah Islam masa keemasan dulu. Khalifah pada masa itu justru memberi perhatian khusus terhadap syair dan sastra umumnya.

Para khalifah Islam dulu itu, terutama masa Abbasiyah, menghargai syair dan memotivasi penyairnya menulis dan membaca syair. Para penyair termotivasi berkarya kreatif menulis syair dan membacanya di depan khalifah. Khalifah pun terinspirasi bersyair dalam setiap berpidato dan memerintahkan syair itu diajarkan pada anak-anak mereka, agar anak mereka memiliki kearifan dan piawai bicara santun. Gerakan bersyair dari istana itu disebut dengan istilah tasyji’ al-khulafa (gong sastra itu dibunyikan dari istana). Para ulama pun termasuk di Minangkabau sudah pula sejak lama mewarisi dan mempunyai tradisi bersyair yang sudah sampai ke tahap antropomorfik meminjam istilah Braginsky (1998). Dari tradisi ulama bersyair itu dapat dicatat, “menyair menjadi ulama, syair itu syiar”. Rata-rata ulama di Minangkabau menyair. Dari fakta ini pula untuk kasus subkultur Minangkabau boleh diteorikan, “tiada ulama tanpa menyair” (Yulizal Yunus, 2010).

Tidak saja ulama Minangkabau dahulu hampir semua menyair bahkan pelopor sastra sufistik, juga di negara-negara Melayu Nusantara lainnya. Mereka menulis karya kreatif (sastra: syair, cerkan). Coba sebut, seorang saja ulama di Minangkabau, pasti ada karya kreatif syairnya. Di antara ulama itu misalnya, Dr. Abdullah Ahmad (Padang) punya antologi syair “Paroekoenan”, Dr. HAKA (ayah Hamka di Bayur, Maninjau) ada manuskrip antologi “Syams al-Hidayah”, Syekh Sulaman al-Rasuli (Candung) ada 5 antologi syair di antaranya terbesar “Enam Risalah” dan “Tsamarat al-Ihsan”, Syekh Chatib Ali al-Fadani (Lolo, makam di Masjid Istighfar Parak Gadang Padang) ada antologi “Delapan Masalah”, Syekh Muahmmad Dalil bin Muhammad Fatawi (Bayang, makam di Masjid Raya Ganting Padang) ada antologi “Nazam Daral-Mau’izhah” yang pernah menginspirasi saya menulis buku “Sastra Islam di Indonesia, Kajian Kritis Syair Apologetik Syekh Bayang Pembela Tarekat Naqsyabandi” (Yulizal Yunus,1999). Semua ulama itu hidup masa pujangga lama yang sudah muncul sejak penghujung abad ke-20. Saya pikir Irwan Parayitno satu di antara pelanjut ulama menyair itu seperti ulama dan khalifah dahulu, justru ia juga ulama – muballigh dan khalifah (Gubernur) yang piawai berpantun spontan.

Irwan Prayitno, Singkat dalam Multi Talenta

Irwan Prayitno disadari atau tidak, sudah tercatat sebagai pelanjut ulama Minangkabau dan Melayu seperti juga khalifah masa kejayaan Islam dahulu, yang mentradisikan menyair. Ia putra bangsa terbaik dari suku bangsa Minangkabau, persisnya dari suku Tanjung di bawah payung panji Datuk Rajo Bandaro Basa dari Taratak Paneh, Kuranji, Pauh IX, Kota Padang. Ia bersaudara Khairul Ikhwan, Adib Al-Fikri dan Dewi Fitriana, lahir di Yogyakarta, 20 Desember 1960. Sebagai anak kamanakan dalam suku Tanjung, sirihpulang ke gagangnya dan pinang pulang ke tampuknya, kepadanya dipercayakan memangku gelar pusako, 27 Maret 2005 dengan gelar kebesaran Datuk Rajo Bandaro Basa payung di Suku Tanjung Taratak Paneh, Kuranji, Pauh IX Kota Padang (baca juga “Sang Datuak, 2005:10). Sekarang ia mengamanahkan tugas dalam jabatan sebagai Gubernur Sumatera Barat sudah untuk periode ke-2 (2016-2021) didampingi Wagub Nasrul Abit, sejak dikukuhkan 12 Februari 2016. Ia multi talenta. “… Namun ia selalu bersahaja, apa adanya” (Hendri Hassan, 2015: viii). Ia sukses, tentu tidak terlepas dari dukungan dan peranan keluarga bahagia isterinya Nevi Zuairina perempuan Minang (suku sepanjang, lahir 20 September 1965) dengan anak-anaknya. Di samping ia sebagai Gubernur, juga pemangku adat sebagai penghulu/ datuk, ustazd, ulama, pengusaha, politisi plus pernah anggota DPR RI, budayawan, penulis, penyair, seniman, musisi/ pemusik drummer plus penyanyi dan pembuat lagu, olah ragawa berbakat/ karatekawan dan pemotor trail. Ia sebagai salah seorang Doktor (Dr) lulusan cum laude UPM dengan IP 3,97 ini, dikenal sebagai akademisi terpandang dengan jabatan fungsional Profesor (Guru Besar) dengan gelar akademik Doktor (Dr.) Psi., M.Sc.  Guru Besar mengajar pada program pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta sejak tahun 1999.

Sebagai Guru Besar dan pendidik Islam, Irwan juga pendiri/ pemdina Yayasan Pesantren Adzkia, PT. Pendidikan Adzkia Indonesia, dan Yayasan Pendidikan Islam Adzkia yang sekolah dinaunginnya itu, cukup populer dan diminati anak-anak bangsa mulai dari pendidikan dasar (PAUD/ TK dan SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA) sampai tingkat perguruan tinggi. Ia juga seorang politisi Indonesia pernah menjadi anggota legislatif di DPR RI (1999-2004) dari basis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dapil 1 Sumbar.

Tak pula dapat dilupakan Irwan, di samping mengajar sebagai guru besar, dan pemangku penghulu adat, juga ia ulama dan aktif sebagai da’i dan senantiasa berdakwah sepanjang kariernya sebagai Gubernur, politisi dan pengajar sebagai guru besar itu. Fenomena aktifitas dakwahnya terkesan sekali mengalir darah ulama dari ayahnya (Djamrul Djamal) dan ibunya (Sudarni Sayuti) keduanya lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen IAIN Imam Bonjol (sekarang UIN Imam Bonjol yang direktori Dr. Eka Putra Wirman, MA).

Sebagai Gubernur didampingi wagub Muslim Kasim awal periode (2010-2015) punya obsesi menyumbangkan dirinya “Irwan Prayitno untuk Sumbar Bangkit”, dituangkan dalam bukunya dengan judul sama dengan obsesinya itu. Adalah bangkit dari keterpurukan dalam puing-puing gempa 30 September 2009. Diikuti “kerja keras dan profesional serta saling bahu membahu multi stakeholders” (Yongki Salmeno,2015:20). Mendapat apresiasi pemerintah (pusat) dan daerah. Rakyat menyambutnya. Melihat langsung keadaan nagari dan masyarakat adat dalam setiap kunjungan dengan tekat Sumbar Bangkit. Setiap kunjungan daerah sering diadulat menjadi khatib jum’at. Di mana ia berkhutbah, berorasi dan berceramah dari lidah Irwan mengalir pantuan sebagai color orasi di samping ayat-ayat dan hadis sebagai sumber utama Islam. Penguasaan terhadap sumber dan permasalahan agama “sudah melebihi syarat seorang da’i”. Ceramahnya sarat analisa kritis. “Analisa dan ceramahnya tentang masalah agama dan kehidupan sehari-hari sederhana, masuk akal dan menyejukkan” (Yongki Salmeno, 2014:xix). Ia layaknya ulama. Ulama yang sastrawan penyair piawai berpantun spontan. Pantunnya itu menarik dan dikumpulkan, diterbitkan dan diluncurkan dalam bentuk antologi, yang diberi judul: Pantun Spontan ala Irwan Prayitno, cet.I.Padang: CV.K.Abdi Nusa, 2017. Saya mendapat kabar, sudah 16 jilid/ seri buku antologi Irwan, dengan titel yang sama.

Antologi Pantun Spontan Irwan Prayitno: Integratif

Saya memiliki 4 antologi Irwan Prayitno yakni buku antologi-1, buku antologi-2, buku antologi-3 dan buku antologi-4. Keempatnya dihadiahi langsung Irwan Prayitno kapasitas sebagai Gubernur ketika suatu kali saya bersama budayawan pemangku adat berkunjung ke kediamannya (rumah dinas Gubernur) di Gubernuran Sumatera Barat jalan Sudirman Padang. Saya pun menghadiahi sebuah al-Qur’an berbahasa Minangkabau bagian titipan Balitbangdiklat Kementerian Agama RI sebagai tim penyusun dan penerbitnya.

Secara esensial dari pantun spontan ala Irwan Prayitno teridentifikasi keaslian sitilistika dan pikiran (pesan) sarat dengan konten Islam dan Adat Minangkabau. Secara faktual, pantun spontannya ini bukan sekedar pantun. Lebih merupakan sayir dengan rangkaian konten bercerita (pragment) bersyair. Dari baris-baris inti pantunya secara didaktik kognitif sarat dengan materi pengajaran dalam berbagai displin keilmuan seperti konten Islam, adat, filsafat, sosiologi, sejarah, pendidikan Islam dsb. Cara berpantunnya pun, baik pantunnya itu sebagai  color dari orasi dan sambutan Gubernur, maupun materi dan pesan pengajaran yang dikomunikasikannya dengan cara bersyair dan bercerita pragmentdapat dijadikan model pembelajaran modern. Sebagai model pembelajaranmodern mengikuti pakar kurikulum di UIN Imam Bonjol Prof. Dr. Syafruddin Nurdin, MPd. bahwa cara bercerita pragement itu dapat digolongkan sebagai model pembelajaran modernintegrative[1].Lebih meyakinkan sebagai model pembelajaran integratif cara pragment, bila melihat genre syair pantun Irwan Prayitno ini.

Genre syair Irwan Prayitno, boleh dicatat dalam tiga klasifikasi jenis syair. Pertamadari setting cerita (waktu dan tempat), dapat digolongkan sebagai genre puisi kronik (chronicleverse,(al-syi’r al-tasjīli) dan puisi peristiwa (occasional verse,syi’r al-munāsibāt), yang secara esensial menjadi varian perjalan hidup. Keduadari paradigma fungsi, pantunnya termasuk genre puisi majelisdan atau puisi seminar(syair nadwat, society verse) yang secara substansial memberi pemikiran sharingdalam sebuah kerapatan. Ketiga  dari sisi edukasi, pantunnya termasuk genre syair didaktik  (al-syi’r al-ta’limiy), yakni secara didaktif kognitif memberi pengajaran berbagai ilmu pengetahuan dengan cara bersyair/ berpantun. Genre dan fungsi pantun Irwan Prayitno ini, secara skematik dapat saya gambarkan sbb.:

Chronicle Verse dan Syi’r al-Munāsibāt

“Pantun Spontan Ala Irwan Parayitno”, alaitu pastilah menunjukkan milik atau gaya spesifik sendiri, tidak dimiliki oleh orang lain. Justru ia yang menulis dan mendeklamasikan pantun itu. Pantunnya itu merekam chronicledan occasionaldalam “rangkaian kegiatan” pada berbagai “peristiwa” yang dihadiri sesuai dengan kepiawaiannya. Yang jelas ia menulis pantun itu tidak berdasarkan hafalan “batang”, “dahan”, “ranting” dan “bunga” pantun adat dan atau pantun melayu, baik gaya ruba’i (empat-emapat baris) yang mempunyai dua baris sampiran dan dua baris isi. Ia menggubahnya dengan kreasi gayanya sendiri dan menjadi asli kreasinya sendiri. Stilistika(gaya bahasa) dan pikiran (pesan, rasi’il) asli miliknya sendiri. Kenapa pola pantunnya begitu dan begini dibanding dengan pola “pantun adat” dan “pantun melayu” empat-empat baris, yang bersajak (rimaqafiyahaa-aaatau ab-abdan menghitung suku kata antara 9 paling banyak 12 suku kata, tidak serupa dengan pantun yang sudah ada itu. Karena itu, tidaklah dapat dibantah, ini adalah pantun ala Irwan Prayitno.Ya sudah. Justru pantunnya mengalir spontan (serta merta dan wajar), setiap event, kegiatan dan peristiwa yang ia hadir di situ memberi sambutan dan amanat sekaligus membuka secara resmi acara itu dalam kapasitasnya sebagai Gubernur.

Makanah (fungsi) pantun spontan Irwan Prayitno cukup penting dalam mencatat mencatat peristiwa kronik berbagai kegiatan penting pula dalam varian kehidupannya yang muti talenta itu. Artinya pantunnya itu tidak sekedar pantun, tetapi di dalamnya sarat dengan catatan fenomena (peristiwa) berbagai rangkaian kegiatan sesuai dengan setting(waktu dan tempat tertentu). Peristiwanya itu runutdan fenomenanya luas menceritakan jalan peristiwa dalam berbagai setting. Fenomena pantun gaya bersyair lama ini, tanpa disadari melanjutkan tradisi bersyair ulama intelektual masa pujangga lama. Isinya di samping mencatat peristiwa dan kronik kegiatan, juga tidak bisa dilepaskan sebagai varian sejarah hidup dan kehidupan yang ia catat sendiri (otobiografi) sepanjang karirnya sebagai Gubernur. Karenanya pantun Irwan ini, tidak sekedar pantun tetapi sudah berbentuk syair dan mentradisikan pidato dengan cara bersyair. Cara ini mengukuhkan kembali Minangkabau sebagai negeri puisi dengan kebesar “istana kata” dan dibangun di hati sanubari yang bening dan intuitif. Justru tradisi bersyair Irwan seperti pada ulama Minangkabau sejak abad ke-19 dulu, syair yang dimunculkan berjenis chronicleverse(puisi koronik) dan occasional verse (puisi peristiwa) juga. Kedua genre syair dimaksudkan (Emil Ya’qub, 1987) itu, pertama puisi kronik, sengaja digubah untuk mencatat kronik kegiatan yang pernah dilakukan dan suatu kegiatan yang diberi sambutan, sekaligus mencatat peristiwa semasa yang menyejarahkan (dapat menjadi sejarah) berbagai rangkaian kegiatan. Karena rangkaian kegitan itu secara kronik diikuti dan menjadi esensi pantunnya, maka pantun itu merupakan varian perjalanan hidupnya sender (biografi atau otobiografi). Secara skematik dapat digambarkan sbb.:

Sebagai  bernilai varian biografi dan atau otobiografi, pantun Irwan Prayitno juga mengungkap kepribadiannya. Keperibadian seorang tokoh secara umum dapat dilihat dalam latar belakang lingkungan sosio-kultural tokoh itu sendiri. Syair kronik dan syair peristiwa Irwan bagian pencerminan settinglingkungan sosialnya. Karenanya pantun Irwan ini bagian dari varian hidupnya sendiri yang langsung mengalami dan mencatat peristiwa kegiatan penting yang disambutnya dalam kapasitasnya sebagai Gubernur. Di antaranya lihatlah pantun Irwan merespon dan menyambut kegiatan “HUT Emas IAIN Imam Bonjol, 29 November 2016, sa’at-sa’at akan diresmikan menjadi UIN Imam Bonjol Padang, sbb.:

Makan di sawah nasi ramas

Sambalnya pedas sate urat

Hari ini ulang tahun emas

IAIN Imam Bonjol Sumatera Barat

 

Kini susah mencari delman

Niat hati membawa sobat

Di era Bapak Eka Putra Wirman

IAIN Imam Bonjol menjadi hebat

 

Kepala kejedot terasa benjol

Di bawa berjalan terasa berat

Dies Natalis ke-50 IAIN Imam Bonjol

Kepada IAIN kita ucapkan Selma

Irwan Prayitno Gubernur Sumatera Barat dengan pantunnya ini, mengakui sudah hebat. Ia berharap IAIN Imam Bonjol siap meningkat menjadi UIN Imam Bonjol. Tentu saja, harapannya ini bagian dari penghargaan terhadap lembaga perguruan tinggi ini basis pekerjaan orang tuanya, di mana masa kecil ia sering dibawa ke kampus Islam ini.  Bertemu dengan warga kampus, terutama teman ayahnya (Djamrul Djamal) dan ibunya (Sudarni Sayuti) keduanya yang mulia ini ialah dosen IAIN Imam Bonjol (sekarang UIN Imam Bonjol). Harapannya itu terkesan dalam pantun genre syair occasionalIrwan berikut:

Mari berbenah di sana sini

Di hari H tak menjadi cemas

Minta IAIN jadi UIN saat ini

Menteri hadir jadi peluang emas

 

Pasar tumpah di bandar buat

Komunikasi intens selalu dirajut

Kedatangan bapak bisa memperkuat

IAIN ke UIN tentu akan terwujud

Tertulah harapan Irwan tidak hanya harapan pribadi. Juga bagian dari harapan dalam perjalanan hidupnya dengan kapasitasnya sebagai Gubernur Sumatera Barat, bahwa kampus basis kerja orang tuanya. Ia berharap IAIN Imam Bonjol ini menjadi UIN Imam Bonjol sebagai perguruan tinggi besar di Sumatera Barat khususnya dan bisa bersanding sejajar dengan perguruan tinggi besar lainnya di dunia. Dihargai menjadi yang excellent. Penghargaan ini sejalan pula dengan harapannya kepada semua kerabat kerja yang banyak membantunya menjadi besar pula dan mendapat pengakuan eksistensinya dan dibesarkan sebagai anak nagari di Minangkabau. Misalnya orang yang langsung membantunya sebagai wakil gubernur ialah Nasrul Abit (NA). Ketika NA ini diangkat dan dikukuhkan kaumnya suku panai di Air Haji, Pesisir Selatan menjadi pemangku adat gelar pusako “Datuk Malintang Panai”, 11 Februari 2017, ia menyambut dan mengucapkan selamat dengan pantun kroniknya sbb.:

Besar-besar si pohon sagu

Jangan ditebang pakai Gregg

Selamat kepada pak Nasrul Abit dan Ibu

Datuk Malintang Panai dari Air Haji

 

Tanam cabe tanamlah bibit

Supaya subur disiram pagi

Puaslah sudah kini Bapak Nasrul Abit

Jadi Rang Minang tak ada yang meragukan lagi

 

Irwan Prayitno sebagai pemangku adat “Dt. Rajo Bandaro Basa” payung dalam suku Tanjung, nagari Pauh IX Padang peduli adat. Menjadi perhatiannya revitalisasi nilai adat, penguatan lembaga adat, revitalisasi peranan pemangku adat, prosesi adat dan bangunan arsitektur rumah gadang dll. Fakta kepeduliannya kepada adat, sebagai Gubernur, ia mengangkat visi – misi pertamanya, adalah pelaksanaan ABS-SBK dengan indikator pembangunannya terpadu agama dan adat. Syair kronik dan syair peristiwanya tadi pada event pelewaan Wagub Nasrul Abit, mengisyaratkan pula, ia peduli adat dan peranan pemangku. Ia hadir pada event itu bagian dari kronik dan varian perjalanan hidupnya sebagai Gubernur dan pemangku adat. Ulama Minangkabau dahulu menyair, esensi syairnya juga sarat dengan varian hidup dan kehidupannya. Syair Syekh Sulaiman al-Rasuli misalnya, secara esensial juga memperlihatkan varian hidupnya dalam berbagai latar sosio kultural masyarakat pada masanya. Ulama ini mampu menyikat esensi hidup masyarakatnya  dan keadaan sosio kultural kampungnya di Candung yang kadang memuakkannya dan seperti tidak kuasa mengubahnya (Yulizal Yunus, 2009). Lihat baris-baris syair Enam Risalah Syekh Sulaiman al-Rasuli (1920:2) sbb.:

Duduk di Canduang tidaklah znak

Di kiri di kanan maksiat banyak

Mengikut suruh banyak nan tidak

Alamat badan kena tumpalak

 

Perasaian faqir sudahlah nyata

Faqir sebutkan sedikit saja

Karena banyak tidak terkira

Faqir menyebut tidak kuasa

Baris-baris Syekh Sulaiman al-Rasuli mencerminkan secara murni kehidupan masyarakat yang tetap memilih kampungnya Candung sebagai tempat “duduk” (Melayu: tempat tinggal). Tak dapat dipungkiri syair tadi merupakan cermin murni kehidupan masyarakat pendukungnya yang tercatat dalam varian hidupnya. Dalam masyarakat tradisi Arab, Thaha Husen (1933) juga menyebut sastra sebagai cermin kehidupan (al-mar’at al-shāfiyah li l-hayāh). Pendapat itu ia ungkap dalam sebuah artikel ilmiah dipublikasi Majallat al-Hilāl,Edisi Maret 1933, diterbitkan di Cicago – Amerika, topik “al-Hayāt al-Adabiyah fi Jazirat al-Arab”. Ungkapannya yang menyebut sastra cermin kehidupan Arab sbb.:

Al-adab…. hayyun qawiyun, lahu qaiyyimatuhu l-mumtaazah min haitsu innahu mir’atun shafiyatun lihayaati l-a’rab fi badiyatihim (sastra itu hudup dan kehidupan yang kuat, mempunyai nilai spesifik, dari aspek lain, ia cermin murni kehidupan sosial Arab di wilayah perkampungan mereka).

Justru itu, pandangan yang menyebut sastra sebagai al-mara’at al-shafiyah (cermin kehidupan), mengukuhkan sastra (syair) sebagai varian kehidupan sastrawan penyair itu sendiri. Varian kehidupannya itu bagian pula dari kehidupan masyarakat di mana penyair itu hidup. Pantun Irwan juga varian hidupnya pada masa jabatannya sebagai Gubernur. Syair Syekh Sulaiman al-Rasuli dalam dalam kumpulan “Enam Risalah” tadi, mengesankan kaya dengan rekam prilaku masyarakat, terutama fenomena di kampungnya pada masa itu mendapat tempat dalam varian hidup dan kehidupannya. Seperti gambaran fenomena ironis, di satu sisi masyarakatnya kuat adat dan Islam, di sisi lain prilaku tidak menggambarkan budaya dan prilaku beradat Minang dan Islam. Esensi kehidupan masyarakatnya itu menjadi esensi syairnya, sekaligus menjadi bagian varian perjalanan hidupnya pula. Perspektif pencatatan fenomena (peristiwa) masyarakat itu dicatat dalam syair, maka syair itu disebut occasional verse(syi’r al-munāsibāt, atau syair peristiwa). Syair peristiwa ini oleh penyairnya sengaja digubah untuk merekam peristiwa berbagai event penting atau acara kegiatan lainnya di dalam masyarakat, sekaligus menjadi varian kehidupan penyairnya. Lihatlah syair peristiwa Irwan Prayitno, merekam peristiwa “pisah sambut Gubernur Sumbar dari Donny (PJ. Gubernur Sumbar) kepada dirinya Irwan Prayitno sebagai varian sejarah hidupnya meresapi konten adat, menemukan teladan: “ambiak tuah ka nan manang” sbb.:

Jikok baralek pasanglah janur

Sempurnakan dengan permadani

Walau 6 bulan menjadi Gubernur

Ketokohan pak Donny kami teladani

 

Sebelum Irwan Prayitno, ada Taufiq Ismail di samping ulama dahalu yang punya banyak genre puisi peristiwa, posisinya amat signifikan dalam khazanah kesusasteraan Islam di Indonesia. Dari perspektif puisi peristiwa dengan elegi Taufiq kalau tidak melebihi, setara dengan rasa`(رثاء) penyair besar Arab seperti Prof. Dr. Adonis (lahir 1930) dewasa ini.

Al-Syi’r al-Ta’limiy

Syair peristiwa Irwan secara tematik juga berbentuk genreal-syi’r al-ta’limiy (puisi didkatik) pula. Pantun tentang serah terima jabatan Pj.Gubernur Donny kepada dirinya tadi, dari perspektif aliran sastra moralisme akhlaqiyahmenaruh nilai pesan moral “ambiak contoh ka nan sudah, ambiak tuah ka nan manang”. Pesan moral itu setidaknya bentuk penghargaan kepada “nan sudah” dan “ka nan manang” yang patut jadi teladan. Juga madah(pujian) atas kinerja dan teladan yang ditinggalkan pendahulu (nan sudah): walau 6 bulan menjadi Gubernur/ ketokohan pak Donny kami teladani. Ada nilai didik, dan dapat menjadi pembelajaran bagi generasi yangstudent todya and leader tomorrow, bahwa bagaimanapun para pendahulu tak harus dilupakan. Justru pendahulu itu, ditiru keteladanan yang ada padanya. Keteladanan itu tidak hanya dilirik, tetapi dicontoh dan dilanjutkan performance process(kinerja bengkalai) yang baik. Selama ini justru dari perspektif politik kinerja bengkalai ini sering diabaikan setiap pertukaran pemimpin. Ini bagian pembelajaran pantun Irwan, menghagai dan meneladani apa yang patut dicontoh pada para pendahulu.

Dalam prkateknya, pekerjaan kinerja bengkalai pejabat lama yang besar sekalipun tidak dilanjutkan pejabat baru, ada rasa “gengsian” sehingga memulai lagi pada kilometer nol yang sangat tidak sustainable(berkelanjutan). Artinya pantun Irwan Prayitno ini mengisyaratkan komitmen dan penghargaan terhadap jasa pelaksanaan tupoksi, keteladanan dan kinerja tokoh pendahulu dan mesti dilanjutkan.

Ada pesan yang sarat nilai didik, pesan moral politik bagi kader pemimpin, dan memperlihatkan wawasan yang jauh ke depan. Karenanya wacana teks syair dan cara bersyair seperti Irwan Prayitno sarat ajaran dan pesan dan atau mengajarkan keteladanan di samping mengajarkan materi ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin. Justru ia dalam intens membaca kehidupan surau dulu, basis pembinaan SDM dalam bidang agama, adat budaya oleh ulama. Ia mengakui “SDM Minang unggul tapi perlu dikembangkan dengan pendidikan terpadu” (Irwan Prayitno, 2005:27). “Apresiasi dan aktualisasi SDM Minang bisa dimulai dari berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun in/nonformal sebagai tempat kaderisasi SDM” (Irwan Prayitno, 2013:166). Ulama dahulu mendidik termasuk di lembaga formal/ nonformal surau secara terpadu menggunakan wacana talkdan textsyair. Irwan sekarang berpantun, jenis syair juga. Ada keberlanjutan kepiawaian ulama dahulu pada tradisi berpantun Irawan. Karena sarat materi ajar dan pesan dengan model pembelajaran integratif cara bersyair pragment, maka syair pantunnya dapat disebut genre al-syi’r al-ta’limiy (syair didaktik). Jenis syair didaktik mengikuti Dr. Emil Ya’qub (1987) dalam bukunya al-Isthilahat al-Adabiyah(Istilah Sastra), sengaja digubah untuk mengajarkan nilai dan ilmu pengetahuan. Ia memberi contoh syair didaktik terbaik berjenis syair majelis (nadwat, society verse) menyebut nama-nama tokoh termasuk nama penyair sendiri, yakni buku syair “Matan Alfiyah” karya Ibnu Malik. Syair ini mengajarkan ilmu nahwu(nahwiyah, sintaksis Arab) lengkap seluruh aspek secara ringkas. Dalam syair pengantarnya, seperti pantun spontan – syair Irwan Prayitno, tak lupa menyulam nama tokoh, dimulai namanya sendiri, lihatlah baris-baris syair didaktik Ibnu Malik (dalam Yulizal Yunus, 2010) sbb.:

 

Qala Muhammad huwa ibnu Malik

Ahmadu rabbi Allah khaira Malik

Mushaliya’ala l-Nabiyi l-mushthafa

Wa ilaihi l-mustakmilina l-syarafa

 

Wasta’in Allah fi Alfiyah

Maqashidu l-Nahwi biha mahwiyah

Tuqarribu l-Aqsha bilafzhi mujaz

Wa tabsuthu l-banla biwa’di munjaz

 

(berkata Muhammad ibnu Malik

Ku puji Tuhanku Allah Maha Pemilik

Bersalawat pada Nabi Pilihan

Dan keluarganya yang mencapai kemuliaan

 

Minta tolong Allah untuk buku Alfiyah

Mencakup seluruh materi Nahwiyah

Sajian luas dengan baris-baris ringkas

Penjelasan detail dijanjikan puas)

 

Meski mengajarkan pengetahuan, namun stilistika syair didaktik, tetap menarik dengan barisnya empat-empat, seperti jenis ruba’i(empat-empat baris), menghitung suku kata untuk kepentingan taf’ilah(pot),bahar(nada jeda) dan ditambah dengan kekuatan bunyi akhir (qafiyah, rima) bersajak aa aa dan atauab ab. Contoh syair didaktik lain banyak ditulis ulama Minang masa pujangga lama, di antaranya syair Dr. Abdullah Ahmad pendiri PGAI dan Adabia Padang dalam kumpulan syair “Paroekoenan” (dalam Yulizal Yunus, 2010), lihat baris-barisnya pada bagian “rukun 13 shalat” berkaitan takbiratulihramdengan niat shalat, berikut ini:

 

Rukun pertama niat namanya

Sengaja di hati itu maknanya

Ferdhu sembahyang dalam ingatnya

Tentukan waktu apa namanya

Waktu niat sedang melakat

Sengaja fardhu sedang shalat

Takbiratulihram lekaslah ikat

Takbir berdiri pula sepakat

 

Syair Society Verse: Gong Istana Pemajuan Kebudayaan

Syair-syair yang memberi gugahan masyarakat, terdapat banyak jenis. Syair didaktik tidak saja memberi gugahan tetapi menawarkan nilai dan materi ajar seperti syair Dr. Abdullah Ahmad tadi mengajarkan perukunan “rukun 13 shalat”.  Beda lagi dengan syair genre syair society verse (nadawat, puisi seminar, puisi majlis), digubah khusus untuk kelompok kumunitas tertentu, pasnya disajikan dalam sebuah majlis untuk sharing berfikir. Majelis dimaksud adalah kerapatan/ pertemuan/ majelis sastra dan atau khusus untuk acara-acara terhormat para penyair dan kelompok masyarakat tertentu. Intinya di samping memberi gugahan dan motovasi juga memberikan spirit kehadiran pada sebuah perkumpulan. Pantun spontan Irwan Prayitno pada genre lain ada menunjukkan syair society verse.Di antaranya lihat pantun – syair nadawatIrwan Prayitno dalam event “Diskusi Budaya Nan Jombang Ery Mefri,31 Mei 2016” dengan baris-barisnya sbb:

 

Kembangkan seni jangan lupakan adat

Hadir diskusi di tempat Ery Mefri

Kalau salam tak dijawab semangat

Kita ulangi sekali lagi

 

Forum editor sangat terkenal

Moderatornya bernama Khairul Jasmi

Wartawan Senior yang menggelobal

Setiap kesempatan baca puisi

 

Gubernur bersama anggota dewan

Tampil di ladang nan jombang

Diberi apresiasi oleh pak Darman

Semoga kesenian maju di masa datang

 

Tersebut kembali Dewan Kesenian

RKT pun jadi perhatian

Bahkan banyak beri saran

Tak luput pula usul kadis kebudayaan

 

Ada penghargaan Irwan Prayitno kepada sejumlah tokoh dalam majelis seperti Ery Mefri dari pimpinan Nan Jombang, Khairul Jasmi Pemred Skh. Singgalang wartawan senior yang disebutnya menggelobal dan Ketua Forum Editor (Massmedia), Darman Moenir sastrawan budayawan senior, Kadis Kebudayaan Taufik Efendi, dll., adalah merupakan pembuka kontak komunikasi yang tidak akan lepas dengan peserta majelis dan memberi spirit agar acara semarak dan sarat visi ke depan pemajuan kebudayaan seperti amanat UU 5/ 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Terlebih ajakan Gubernur dan Dewan/ Legislatif (pemerintahan Sumatera Barat) mengandung tasyji’ khalifah(gong istana) memulai pemajuan kebudayaan: di antaranya keterpaduan Islam dan adat yang menjadi visi misi Gubernur. Juga sastra, puisi, kesenian termasuk lembaga seni di tingkat Sumatera Barat seperti Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) yang sudah lama mati suri dan sudah dibentuk tim-9 dan tim-14 yang saya satu di antaranya sudah juga tidak mampu membangunkan “mati suri” dan menyelamatkan kematian DKSB itu dan akhirnya mati juga. Makna yang terdalam, memajukan kebudayaan di Sumatera Barat: aspek sistem sosial (adat) dan aspek sistem kesenian (wujud suara/ sastra, wujud gerak/ tari dan pertunjukan serta wujud rupa/ lukis, pahat dan arsitektur), Iwan seperti telah memukul gong dan telah dibunyikannya dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Sumatera Barat, tinggal lagi bagaimana gong-gong kabupaten/ kota se Sumatera Barat menyahutinya dengan memajukan pemangku dan lembaga serta akitivitas kebudayaan (adat dan seni) di wilayah setempat.

Tidak saja gong, bahkan Gubernur Irwan, sudah membuat contoh tradisi bepantun, mengembalikan kebesaran Islam dan sastra melayu Islam. Ia menyambung tradisi maestro ulama Minangkabau menyair pelopor syair sufistik yang antropomorfik, marak sejak pujangga lama dan menjadi mahakarya ABS-SBK. Melihat masa kejayaan ulama Minang menyair itu, boleh diteorikan, “tiada ulama tanpa menyair”. Kebiasaan berpantun genre syair ini, sebenarnya sudah ditunjukan bangsa pemilik bahasa yang terkaya di dunia yakni Arab sejak masa klasik. Arab masa klasik itu, dalam memajukan kehidupan sastra, muncul ungkapan al-syair min thabi’iti l-Arab (syair itu adalah kebiasaan lidah Arab). Orasi/ pidato mereka disebut khatabahpada masa Arab klasik stilistikanya persis seperti syair, mempunyai rima dan bersajak aa aa, sebagai bagian musikal puisi dan lisensi puitik syair. Karenanya para ahli pidato Arab pada masa klasik itumendapat peringkat derajat tinggidalam berbagai event festival pasar seni seperti Dzul Majas, Pasar Ukaz dsb. Mereka menghargai penyair yang berprestasi, sebagaimana layaknyapara penyairyang amat dihargai ketika itu. Justru sampai pada masa Nabi SAW menghargai syair, dalam hadis disebut inna min syi’ri lahikmah (tak dimungkiri sebagian syair itu kaya dengan hikmah).

Masyarakat Arabmasa klasikmembuat tradisimengadakan majelis (nadawah, temu penyair di pasar seni, seminar, festival seni sastra)sebagai sarana untuk mendeklamasikan pantun (syair, sajak) mereka. Merekabertanding pidatoyang baris-baris pidatonya adalah gaya syair. Pada event itu mereka mengambil kesempatan di pasar seni seperti Dzul Majaz dan Sauq al-Ukaz (Pasar Seni Ukaz) sejenis “Padang Fair” sekarang. Pada pasar seni ini mereka menggelar pameran budaya, pameran produk-produk dagang, bahkan menjadi ajang penyebaran agama, ajang politik kepentingan. Juga mereka saling tukar menukar informasi dan berita masing-masing tentang masyarakat sukunya serta perkumpulan majelis (nadawat/majelis seminar, nadi/ group sastra penyair). Juga termasuk tukar menukar info perkumpulan sastra Nadi Quraisy(Group Quraisy) dan Darun Nadwah(Rumah Seminar, Convention Hall) dll., yang berbasis di sekitar Ka’bah.

Arab masa klasik tadi mengadakan berbagai festival sastra memperdengarkan baca syair-syair yang mereka gubah, di pasar-pasar seni. Mereka menulis dan baca syair seperti di pasar seni MajinnahDZul Majazdi samping pasa seni terbesar Sauq al-Ukaz  di al-Atsdia(antara Mekah dan Thaif) tadi. Sauq al-Ukazbukan sekedar pasar seni biasa, tetapi sudah merupakan pekan budaya besar, yang mempersiapan kalender berbagai kegiatan seni dan pertunjukan berperiodik seperti satu malam di Thaif dan tiga malam di Mekah, bahkan juga punya kalender mingguan, bulanan dan tahunan seperti disebut dalam Aswaq al-Arab fi al-Jahiliyati wa al-Islam/ Pasar Seni Arab masa klasik dan Islam (Said bin Muhammad al-Afghani, tt: 286-289). Di pasar seni itu mereka berlomba pidato gaya syair dan bersyair memperlihatkan kekuatan syairpada lisan mereka, justrumelebihitulisan.

Syair di mana pun justru menaruh lisensi puitik bahkan magicseperti mantra.Disuasanakan musikal (rima/ nada dan irama) untai baris-baris puitik. Syair mereka yuhadhid sami’ wa qari’ (membuai dan membuat penikmat terempati). Seperti juga baris-baris puitik Irwan Prayitno, dalam pantun spontannya memberikan pesona dan bahkan memicu tawa gembira, di samping menunjukan proses pikir lancar dan cerdas santun dalam bahasa pantun yang mengalir. Karenanya bahasa mengalir menunjukkan proses pikir lancar dan cerdas, mengukuhkan derjat manusia sebagai makhluk nathiq(bicara cerdas). Bahasa mengalir itu dalam perspektif manthiq(ilmu logika) yang dalam praktek fenomena masyarakat dialogis disebut mintiqdalam bahasa Minang: mantiak. Di lisannya, mengalir kata puitik yang sarat filosofi (nilai filsafat). Minang justru istana kata. Budaya orangnya, pandai berpantun spontan menunjukkan cerdas (Mak Katik, 2017). Bahasa lincah itu berakar pada budaya (prilaku), sebut Taufik Ismail (2017) pada buku Irwan “Pantun Spontan al Irwan Prayitno”.

Bahasa lincah, bersih dan santun dalam perjuangan, tanpa tersandung konflik dan kondisi dan usia, ditunjukan ulama penyair. Di antaranya ulama penyair Syekh Muhammad Taher Jalaluddin al-Falaki al Azhari (adik sepupu imam besar Masjd al-Haram, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi) ayahanda Prof. Tun Tan Sri Hamdan, Gubernur Pulau Pinang, Malaysia, katanya adalah ”berakar dari spirit Islam, diilhami Yang Maha Bersih dan Maha Indah”. Karenanya berkatalah yang pasih sebagai ciri umat Islam yang bersih bersumber dari Yang Maha Kasih. Ulama penyair Syekh Muhammad Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari, dalam baris syairnya sbb.:

 

Kiranya kamu wahai kekasih

Kaum berugama Islam yang bersih

Membawa beberpa perkataan yang fasih

Belum ada bahasamu masih

 

(Syair Renungan/ Tahir Jalaluddin,

SP10/109, Arkip Negara Malaysia)

 

Bahasa fasih (lancar) dan bersih santun, bagian motivasi perjuangan. Bahasa santun ini merupakan senjata perjuangan bagi ulama menegakkan dakwah Islam, dan senjata ulama pejuang membebaskan umat dari semua bentuk keterjajahan. Tuanku Imam Bonjol sebagai ulama pejuang juga menyair (Dada Meuraxa, 1974:411). Pesan syairnya dengan bahasa santun menyalakan semangat “nafsu” juang yang tidak dihentikan kekuatan yang tertekan dan kondisi yang tak menguntungkan. Lihat syairnya sbb.:

 

Perjuangan hidup selalu bertumpuk

Kekuatan menjadi lapuk

Punggung lurus menjadi bungkuk

Tapi nafsu tak mau tunduk

 

Bahasa santun sebagai energi menyalakan “nafsu” juang, dipakai para ulama pejuang. Karenanya, sebuah ajakan berbahasa dan berkata jernih, cerdas, indah dan santun, pantas direspon, meski dalam keadaan sekonflik apapun. Kata santun melahirkan pikiran jernih, kata marah menghilangkan keseimbangan. Kata orang Minang menyebar kearifan, berbahasa dan bersikap baik tah harus marah melihat sikap dan mendengar bahasa marah. Harimau dalam perut/ kambing dikeluarkan. Nilai ini pastilah berakar dari penggalan amanat firman Allah SWT, misalnya: idfa’ billati hiya ahsan al-saiyi’ah (tolaklah kejahatan dengan kebaikan). Pertemuan dua nilai adat dan syara’ sumber Kitabullah ini, membuktikan orang Minang kuat memegang filosofinya Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah(ABS – SBK),dioperasionalkan dengan strategi Syara’ Mangato – Adat Mamakai (SM-AM)dan ATJG (Alam Takambang Jadi Guru).Karenanya syair lama para ulama dulu, rata-rata jernih, mengajarkan Islam dengan cara bersyair, bahasa yang mengalir bersajak mengantarkan ilmu, cerita dan sejarah, seperti dalam al-Barzanji penyair Maulud Nabi dari Arab.

Justru Arab klasik dengan group sastranya memperlombakan bicara mengalir dan bijak ( mintiq, mantiak dalam bahasa Minang) serta sarat lisensi puitik. Kompetisi bicara mengalir itu dalam bentuk pidato gaya syair dan bersyair. Dari sinilah lahir syair-syair agung. Syair agung itu dihargai tidak saja dengan materil yang baris dan kerta menuliskannya ditimbang dihargai dengan timbangan emas. Bahkan puisi terbaik atau puisi agung mereka itu dihargai. Pengahargaan itu tidak saja dengan emas dan uang dirham, juga dihargai, setiap puisi terpilih dihargai dengan menggantungkannya di dinding Ka’bah. Syair yang terpilih dan digantungkan di Ka’bah itu, disebut dengan syi’r al-mu’allaqat (syair yang dipajang di dinding Ka’bah). Tersebut 7 penyair besarmu’llaqat(yang syair mereka digantungkan di dinding Ka’bah) itu ialah: (1) Umru l-Qais (Yaman), (2) Tharafah bin Abdul Bakri, (3) Zuhair bin Abi Sulma, (4) Antarah bin Syaddad, (5) Lubaid bin Rabi’ah al-Amiriy, (6) Amr bin Kultsum dan (7) Harist bin Hillizah (lihat, al-Zauzaniy,tt). Disebut juga 3 nama penyair mu’allaqatbesar lainnya menjadi 10 pilihan penyair agung yakni: (1) Nabaghah, (2) A’sya dan (3) Ubaid bin al-Abrash. Sebagai contoh lihat baris-baris syair agung Lubaid bin Rabi’ah al-Amiriy sbb.:

Idza iltaqat al-majami’u lam yazal(a) 

Minna lizaru ‘azhimatin jasysyamuha

Wa muqasysyimun yu’thi l-‘asyirata haqqaha

Wa mu’dzamirun lihuquqiha hadhdhamuha

 

(Bila para kabilah berkumpul, kaumku tak kalah

Merespon debat memecahkan masalah

Adil membagi bagian hak keluarga

santun kepada semua meski terambil haknya)

 

Terinspirasi atau tidak, historika pasar seni Sauq ‘UkazArab yang melahirkan syi’r mu’allaqat dari pasar seni Arab masa klasik tadi, tradisi bersastra syair dan pantun sudah dibawa ke pasar seni perlombaan dalam berbagai event. Ada lomba menulis dan baca puisi, event itu sudah menjadi tradisi budaya dan sastra hampir di penjuru dunia. Di Sumatera Barat “Pantun Spontan al Irwan Prayitno” sudah masuk ke event perlombaan membaca dan menulis pantun serupa. Gerakan ini didukung para sastrawan, melaksanakan lomba baca pantun itu dan sudah berulang. Ada keyakinan, segera lahir para “shahib rau’ah wa jamal” (pemilik lisensi puitik dan pemilik keindahan) dalam piawai berpantun seperti Irwan piawai berpantun, sudah tak asing lagi. Terakhir yang mempesona, dengarlah syair – pantun Irwan tentang pragment lara Palestina dan sudah di-youtube-kan. Adalah Pantun Spontan ala Irwan Prayitno dalam Konser Amal untuk Palestina, pada “Panggung Padang Fair” di GOR Agus Salim Padang, 1 Mei 2017. Betapa dengan deklamasi pragment haru dalam suasana rintik, ia mendeklamasikan syair tentang penindasan Israel atas rakyat Palestina. Pantunnya sungguh menggambarkan bagaimana laku buruk Israel sebagai bangsa mempertontonkan kezalimannya kepada dunia, seperti menggarisbawahi betapa kejamnya Israel, jangankan memusuhi Islam, para nabi di kalangannya sendiri dibunuh dan digergajinya. Terakhir dunia buncah seperti mau memicu perang dunia ke-3 setelah Israel mancaplok Yerusalem ibu Kota Pelestina mau menjadikan ibu kotanya setelah mendapat legitmasi sepihak Trump sang presiden AS yang aneh itu, negara besar sumber demokrasi itu justru menciderai demokrasi dunia. Lihat baris-baris Irwan tentang Palestina yang terluka dari jalur Gaza sbb.:

 

Suara pekikan hingar bingar

Suara anak-anak tak berdosa

Sudah lama kita mendengar

Penindasan terjadi di jalur Gaza

 

Tentara menembak begitu tega

Dengan senapan dan tank baja

Keberadaan nyawa tak lagi berharga

Perempuan dan anak-anak sama saja

Pantun MURI dan Ujaran Santun, Teladan Anak Muda 

Kepiawaian Irwan Prayitno berpantun spontan begini, menandinglanjutkan gaya syair masa pujangga lama ini ditularkan dan direspon. Mulai dari tradisi lomba menulis dan baca pantun anak sekolah sampai tradisi pejabat utama berpantun syair. Seperti gambaran sejarah, pemajuan sastra dimulai dari gong dibunyikan khalifah. Syair dinilai dan dihargai khalifah dengan dirham untuk baris per-baris dan untuk per-berat kilo gram kertas tempat menuliskan syair itu. Seperti khalifah Muawiyah (743-744) al-Walid II menguji hafalan dan keindahan bacaan syair seorang rapsodis(al-rawiyah, periwayat) ulung bernama Hammad al-Rawiyah (wafat 771 M) yang hafal semua puisi agung 7 penyair al-mu’allaqat (puisi maestro yang digantungkan di Ka’bah) dan puisi-puisi pra Islam lainnya. Saking tertariknya khalifah kepada Hammad, yang mulia memberi hadiah 100.000 dirham. Hadiah seharga yang sama diberikan pula masa khalifah berikutnya (724-743 M) Hisyam ibn Abdu l-Malik. Lomba pantun Minang di Sumatera Barat ini seperti belajar dari sejarah, mulai bersimpongan. Tentu pula tidak ketinggalan hadiah dari Gubernur Irwan Prayitno. Ia sendiri yang piawai berpantun spontan sudah menginspirasi mengingat sejarah sastra dunia. Karena pantunnya pantas dikumpul dan diterbitkan, lalu dihargai. Adalah pantas ia diberi penghargaan seperti Piagam MURI dalam ketegori cipta pantun spontan jumlah terbanyak sebagai maha karya maestro sekaligus menerima Hak Cipta Intelektual Karya Pantun Spontan ala Irwan Prayitno dari Kemenkumham, 20 Agustus 2017.

Mestilah kepiawaian Irwan Prayitno berpantun ini penting dibudayakan pada generasi muda, piawai menulis dan baca pantun dan berkarakter santun ke depan, misalnya melalui kegiatan penggelaranFestival Pantun “Lomba Pantun Spontan” untuktingkat SLTA se Sumbar.Pernah digelar 9.000 pantunyang masuk, diikuti817 peserta menulis dan membaca pantunpada Festival Pantun Spontanala Irwan Prayitnodikomandoi Ade Hendri dengan para juri dari para sastrwan Sumatera Barat itu. Peserta dimulai dari mengirimkan pantun terbaik karya sendiri sampai dilombakan, di Tugu Perdamaian Padang Agustus tahun lalu. Awal tahun 2018 dipasilitasi Disbud Sumbar, dilaksanakan lagi lomba serupa. Pesertanya diperluas, tidak saja anak sekolah tingkat SMA se Sumbar, juga diikuti wartawan se Indonesia, justru mengambil momentum Hari Pers Nasional 2018 (HPN-2018). Mereka diseleksi sejak awal Desember 2017 sampai awal Januari 2018, dinilai dan dipilih pada event pentas HPN – 2018 di Muaro Lasak Padang, awal Februari 2018.

Voice point, Festival Pantun Spontan diinspirasi Pantun Spontan ala Irwan Prayitno ini, harapan terbesar lahir para muda Minangkabau“shahib rau’ah wa jamal” (pemilik lisensi puitik dan pemilik keindahan) dalam piawai berpantun dan berkata santun. Juga menginspirasi mengingat kembali sejarah kegemilangan Islam warisan sejarah pasar seni mirip Padang Fair, yang pernah dikenal luar biasa seperti pasar seni Sauq al-Ukaz, Majinnahdan Dzul Majazmasa Arab klasik dan masa kejayaan Arab Islam. Di pasar seni itu ditampilkan kebolehan orator berorasi dan berpidato gaya bersyair dan dihargai sama dengan derjat penyair, juga penyair membaca syair-syairnya dan mereka dipilih dan terpilih 10 penyair agung yang rewardnya, syair mereka itu dipajang di dinding Ka’bah disebut dengan syi’r al-Mu’allaqat (syair pajangan dinding Ka’bah). Di negeri ABS – SBK ini lahir dan dihargai Pantun Spontan ala Prayitno, mengingatkan kita pula kepada ulama Minangkabau menyair, syair syi’armenyair menjadi ulama, seolah tiada ulama tanpa menyairdi Minangkabau menonjol era pujangga lama. Justru disadari atau tidak Irwan Prayitno lahir melanjutkan tradisi ulama menyair, bagian keagungan karya maestro intelektual ulama dan pemimpin di Sumatera Barat dalam subkultur Minangkabau ini.***

Yulizal Yunus, Pengajar Sastra di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol Padang. Tulisan ini semula disediakan khusus untuk edisi khusus Majalah Shaut al-Jami’ah, edisi Desember 2017 sekaligus sebagai Kado HUTlah ke-57 Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat, 20 Desember 1960 – 2017. Di-rewrite (edit tulis ulang) untuk makalah Seminar Internasional Kerjasama dua Perguruan Tinggi: FAH UIN Imam Bonjol Padang dan UPM Malaysia, 18 Januari 2018.

 

Rujukan  

Al-Zauzaniy,Syarh al-Mu’allaqat al-Syab’i l-Thiwāl. Libanon: Syi’rkah Dar l-Arqam bin Abi l-Arqam, tt.

Braginsky, V.I., Yang Indah, Berfaedah dan Kamal, Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS, 1998

Dada, Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Sumatera. Jakarta: Firma Hasmar, 1974

Emil Ya’qub, Dr., dkk, Qamus al-Mushthalahat al-Lughawiyah wa l-Adabiyah, Arabiy – Injliziy – Faransiy. Bairut: Dar l-Ilmi li l-Malayiin, 1987

Hendri Hassan, S.Ds, pengantar, Irwan Prayitno di Mata Awak (Media Cetak), Posmetro, Singgalang, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Metro Andalas, Haluan, Republika dan Kompas. Padang: PT.Aryajaya Pradhana, 2015.

Irwan Prayitno, Pantun Spontan ala Irwan Prayitno, Antologi cet.I. Jilis 1,2, 3,4.Padang: CV.K. Abdi Nusa, 2017.

___________,Inspirasi untuk Negeri. Padang: tp, 2013.

___________ Prof., Dr., Psi.MSc Datuak Rajo Bandaro Basa, Kiprah Seorang Asli Putra Minang, Mambangkik Batang Tarandam, Reaktualisasi dan Aktualisasi Potensi Minang, Saatnya Kita Berubah Maju Bersama Rakyat dan Nagari, Restrukturisasi dan Revitalisasi Pengelola Daerah. Padang: tp,  2005

____________,Sang Datuak. Padang: tp, 2005

Panuti Sudjiman,ed, Kamus Istilah Sastra, Jakarta, Gramedia,1986.

Muhammad Quthub, Manhaj al-Fanni l-Islamiy. Bairut: Dar al-Syuruuq, 1973

Rusli Marzuki Saria, Mangkutak di Negeri Prosaliris, Kumpulan Puisi. Jakarta: PT. GramediaWidiasarana Indonesia. Jakarta, 2010

Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum dan Pembelajaran, cet. II.Jakarta: Rajawali Pres, 2016

Syekh Muhammad Dalil bin Muhammaf Fatawi, Majmu’ wa Musta’mal dan Kitab Miftah al-Haq, cet.11Bukittinggi: HMS Sulaiman,  1326 H

Syekh Muhammad Ali bin Abd al-Muthalib,Burhan al-Haq, Raddun ‘ala Tsamaniyat al-Masa’il, al-Jawabu min Su’al al-Sa’il al-Qathi’at al-Waqi’ah Ghayat al-Taqriib.Padang: Foolyoumer, 1918

Syekh Sulai al-Rasuliy, Risalah(yang Mengandung 6 Risalah Syair dan Cerita Islam). Sungai Puar: H.Ahmad Khalidiy, 1325 H

Yongki Salmeno, ed., Irwan Prayitno untuk Sumbar Bangkit. Padang: PT.Grafika Jaya Sumbar, 2015

__________________, Inspirasi untuk Negeri Irwan Prayitno, cet. II. Padang: PT.Grafika Jaya Sumbar, 2014

__________________,

Yulizal, Yunus,PerspektifIslam MelayuKajian Sastra Ulama Minangkabau, Makalah untuk Adia-2017, Makalah the 2nd Annual International Symposium on Islam and Humanities (Islam and Malay Local Wisdom). Palembang: FD-ADIA, 2017.

___________,Kesultanan Pagruyung, Jejak Islam pada Kerajaan-Kerajaan Dharmasraya. Jakarta: Puslitbang Lektur, 2016.

___________,Minangkabau, Social Movement. Padang: Imam Bonjol Press, 2015.

____________, Konsep dan Perubahandalam Seni Tradisional Minangkabau, Makalah SeminarUPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat, di Galeri Seni Rupa, Senen, 1 April 2013.Padang: TBP, 2013

____________,Islam Pantai di Gerbang Selatan Sumatera Barat: Padang: Imam Bonjol Press, 2012.

____________, Nilai Konseling Ulama Klasik  Janan Thaib terhadap Umat, Kertas Kerja Seminar Serantau Kitab Turath 27-28 Oktober 2010, Pembina Serta Perkembangan Tradisi Ilmu di Alam Melayu, Pemeliharaan Kitab Turath sebagai Nilai Khazanah Umat Islam, Prosiding h. 96-108, Seri Begawan Brunei: KUPU, 2010

___________,Aspek Pendidikan Islam dalam Sastra Ulama Minangkabau, Studi Syair Syekh Sulaiman al-Rasuli, draft awal Disertasi.Padang: PPs. IAIN Imam Bonjol, 2010.

____________, Himpunan Cerita Rakyat Sumatera Barat, Ibu yang Menyusukan Anaknya di Bulan. Padang: Disbudpar Pemrov Sumbar, 2010

____________, Beberapa Ulama di Sumatera Barat. Padang: Museum Adityawarman, 2008

____________, Al-Qashash Al-Islamiyah fi Tatsqifi Syakhshiyat Al-Athfal, Dirasat fi Al-Adab wa l-Tarbiyah. Padang: IAIN-IB Press, 2003

____________,Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiyah di Lunang, Spirit Sejarah dari Kerjaan Bahari hingga Semangat Melayu Dunia. Padang: IAIN-IB Press dan Pemkab Pessel, 2002.

____________, Persepsi Masyarakat Sumatera Barat Terhadap Kematian Kanak-kanak (Analisa Pengaruh Nazam Kanak-Kanak Sebagai Upaya Menjernihkan Paham Keliru Menuju Jalan ke Sorga), Laporan Penelitian 1998/ 1999. Padang: Puslit IAIN-IB, 1999.

____________, Sastra Islam di Indonesia, Kajian Syair Apologetik Pembela Tarekat Naqsyabandi Syekh Bayang: Padang, IAIN-IB Press, 1999.

____________, Pewarisan Sikap Profetik, Artikel al-Turas. Padang: IAIN IB Press, 1991.

____________,Pewarisan Nafas Islam dalam Budaya, Artikel Al-Turas. Padang IAIN IB, Press 1991.

___________,Perkembangan Mutakhir Penulisan Puisi, Piksi Dan Naskah Drama Karya Sastra Sastrawan Muda Daerah, Makalah Temu Kritikus Sastra Muda Se Sumatera. Padang: TBP, 1989.

___________, ed. Study on Work of Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Tokyo: Toyota Foundation, 1988.

van Ronkel, Supplement to the catalogues of Arabic Manuscripts Preserved in the Museum of the Batavia Society of Arts and Sciences. Batavia: Bruning et Wijt, 1913


[1]Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum dan Pembelajaran, cet. II, (Jakarta: Rajawali Pres, 2016), h.315

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>