«

»

Mengantarkan Sirih

17 Januari 2019

Pada 8 Januari 2019 lalu saya menerima kedatangan Wali Kota Payakumbuh Bpk. Riza Falepi Datuk Rajo Kaampek Suku, ST, MT bersama ninik mamak dan bundo kanduang serta ketua dan pengurus KAN Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh. Mereka datang berombongan menemui saya di rumah dinas. Dan mereka pun terlihat istimewa dengan memakai pakaian adat. Baik baju kurung bagi wanita maupun saluak (penutup kepala) bagi laki-laki. Kedatangan mereka adalah mengantarkan sirih kepada saya dan istri.

Kegiatan mengantarkan sirih ini merupakan bentuk undangan kepada saya dan istri untuk hadir di acara pelewaan penghulu di Nagari Koto Nan Gadang Kota Payakumbuh. Acara ini insya Allah akan dilaksanakan pada 23 Januari 2019.

Umumnya undangan, diantarkan dalam bentuk undangan tertulis di sebuah kertas yang khas. Bahkan jika sudah kenal bisa dikuatkan dengan mengirim pesan pendek (SMS) atau whatsapp (WA) dan juga bisa telpon langsung. Tapi mengundang dengan mengantarkan sirih merupakan sebuah keunikan atau kekhasan tersendiri. Ini sudah menjadi budaya dan adat di Minangkabau secara turun temurun.

Dan alhamdulillah, “mengantarkan sirih” masih terpelihara di nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh. Meskipun Nagari Koto Nan Gadang ada di pusat kota Payakumbuh, adat dan budayanya masih tetap terpelihara. Seluruh elemen masyarakatnya bersatu menjaga adat dan budaya mereka, termasuk dalam penggunaan tanah ulayat. Sehingga mereka masih bisa hidup homogen.

Sementara di wilayah lain di Sumbar, masyarakatnya sudah ada yang heterogen. Sehingga adat dan budaya sudah bercampur antara yang dibawa pendatang dari sebuah nagari dengan adat dan budaya yang ada di nagari penduduk asli. Maka, nagari Koto Nan Gadang yang masih terpelihara adat dan budayanya bisa dijadikan sebagai satu contoh nagari yang bisa menjaga adat dan budayanya hingga saat ini secara homogen. Meskipun pengaruh globalisasi dan teknologi sudah tak terelakkan lagi dalam kehidupan masyarakat.

Ini merupakan sebuah contoh bagus, bahwa kemajuan teknologi dan globalisasi yang sudah demikian memberi warna ternyata tidak mengganggu adat dan budaya masyarakat di Sumbar. Sehingga identitas masyarakat tersebut masih tetap ada dengan ditunjukkan oleh perilaku adat dan budayanya.

Ungkapan yang pas untuk hal ini adalah, “tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan”. Adat dan budaya masyarakat Minangkabau dengan filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” masih menjadi acuan bagi masyarakat dalam kehidupan kesehariannya. Ini juga diperlihatkan dengan bundo kanduang yang datang ke rumah dinas. Meskipun baju berwarna warni tetap menutup seluruh tubuh yang mencerminkan pelaksanaan ajaran Islam.

Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh ninik mamak, bundo kanduang, beserta ketua dan pengurus KAN Nagari Koto Nan Gadang yang mengundang acara pelewaan penghulu dengan mengantarkan sirih dan berpakaian adat. Jika mengantarkan sirih dalam rangka pelewaan penghulu mencerminkan salah satu peran ninik mamak di masyarakat, maka ada peran ninik mamak lainnya yang tak kalah pentingnya. Yaitu peran mereka terhadap kemenakan dan kaumnya.

Jika ninik mamak mampu berperan baik dalam membina kemenakan dan kaumnya maka berbagai urusan polisi maupun bupati/wali kota bisa diselesaikan oleh ninik mamak. Ratusan bahkan mungkin ribuan ninik mamak yang ada di dalam maupun di luar Sumbar jika mereka mampu menjalankan perannya secara efektif maka akan menjadikan kaum yang dipimpinnya semakin terarah kehidupannya. Baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Sehingga keseimbangan hidup bisa berjalan dengan baik. Hal ini selaras dengan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama antara ninik mamak, pemerintah dan aparat serta seluruh lapisan masyarakat adalah menanggulangi berbagai dampak globalisasi seperti narkoba, seks bebas, LGBT, pornografi dan penyakit masyarakat lainnya.

Semoga dengan tetap terpeliharanya adat dan budaya menjadi pendorong bagi kita untuk memperbaiki satu persatu masalah-masalah tersebut. Karena memang kita lah yang harus melakukannya, bukan orang lain. Allah Swt berfirman dalam Alquran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 17 Januari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>