«

»

Festival Biduak Keluarga

3 Juli 2019

Pada 29 Juni 2019 saya menghadiri acara Festival Biduak Keluarga yang diadakan di Pantai Padang. Acara ini digelar dalam rangka hitung mundur sekaligus persiapan peringatan Harganas (Hari Keluarga Nasional) 2020 di Kota Padang. Acara Festival Biduak Keluarga digelar oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Perwakilan Provinsi Sumbar.

Rencananya, Harganas 2020 yang berlangsung di Sumbar akan dibuka oleh Presiden Jokowi, berbarengan dengan pembukaan Pekan Nasional (Penas) Tani dan Nelayan 2020 yang juga dilaksanakan di Sumbar. Insya Allah, pada 2020 akan diselenggarakan tiga acara besar berskala nasional, yaitu MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), Penas Tani dan Nelayan, dan Harganas. Ribuan hingga mungkin puluhan ribu orang yang datang ke Sumbar, insya Allah akan memberi dampak positif bagi masyarakat Sumbar dan juga pemerintah daerah.

Terkait Festival Biduak Keluarga, acara ini merupakan bentuk sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenalkan program pembangunan keluarga. BKKBN memiliki program yang bernama KKBPK, yaitu Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga. Jadi, di sini terlihat adanya upaya menata pembangunan keluarga.

Mengapa keluarga perlu dibangun? Karena keluarga merupakan potret kecil sebuah bangsa. Jika keluarganya kuat dan berkualitas, maka bangsapun akan kuat dan berkualitas. Maka penekanan dalam pembangunan keluarga adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dalam berkeluarga.

Keluarga yang bahagia dan sukses memang perlu merencanakan waktu kelahiran dan jumlah anak. Namun jika berbicara jumlah anak, bukan berarti pembatasan jumlah anak di angka tertentu, meskipun secara umum ada jumlah yang dianggap tepat untuk kondisi masyarakat. Karena jika melihat Provinsi Bali, Gubernurnya mengimbau masyarakat untuk memiliki empat anak dalam satu keluarga, serta tidak perlu takut jika memiliki anak lebih dari dua orang.

Namun demikian, setiap keluarga biasanya sudah memiliki perencanaan masing-masing tentang berapa anak yang akan dimiliki melalui pengaturan jarak kelahiran, serta bagaimana menyiapkan diri dalam membesarkan anak, termasuk dalam hal pendidikannya.

Karena saat ini, pemerintah berkepentingan terhadap terbangunnya keluarga yang berkualitas, yang memiliki rencana dan persiapan dalam membangun keluarga. Jika sebuah keluarga tidak memiliki rencana atau persiapan dalam membangun keluarga, maka kemungkinan menghadapi kegagalan menjadi lebih besar.

Sebaliknya, jika sebuah keluarga sudah memiliki persiapan atau rencana dalam membangun keluarga, maka insya Allah peluang kesuksesannya akan lebih besar. Dan hal ini tentu akan menguntungkan seluruh anggota keluarga, baik orang tua maupun anak.

Jika pembangunan keluarga dilakukan dengan diiringi keluarga berencana, maka insya Allah orang tua akan lebih memperhatikan nasib anak-anaknya. Anak-anak mereka akan lebih diperhatikan masalah pendidikan, kesehatan, dan masa depannya.

Salah satu program yang dilakukan dalam mendukung pembangunan keluarga adalah Generasi Berencana (Genre). Di sini remaja Indonesia diajak untuk memiliki rencana terhadap masa depan mereka. Di antaranya adalah, kapan lulus kuliah atau sekolah, kemudian bekerja, waktu untuk menikah dan memiliki anak.

Bagi wanita, usia ideal untuk menikah minimal pada 21 tahun, dan laki-laki di usia 25 tahun. Selama belum menikah, remaja disarankan tidak melakukan seks bebas, menjauhi pernikahan dini, juga menghindari narkoba. Insya Allah, jika para remaja mampu melakukan hal ini, maka mereka akan mampu membentuk dan membangun keluarga yang berkualitas.

Jika sejak remaja, mereka sudah mampu menjauhi ketiga hal di atas, kemudian ketika berkeluarga mampu menyusun rencana dalam berkeluarga, menyiapkan program dalam keluarga, maka mereka insya Allah akan mencapai kesuksesan dalam berkeluarga.

Hal demikian, juga sejalan dengan pesan-pesan agama untuk keluarga. Di antaranya seperti yang difirmankan Allah Swt dalam Alquran surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Jika di usia remaja anak sudah menjauhi seks bebas dan narkoba, itu artinya mereka sudah berupaya memelihara diri dari api neraka. Demikian pula dengan upaya orang tua merencanakan keluarga agar nasib anak-anaknya lebih baik, dan membekali anaknya dengan pendidikan agama, juga merupakan upaya agar anak dan orang tua terlindungi dari api neraka. Sehingga orang tua juga bisa bangga memiliki anak-anak yang terdidik, sehat, saleh, dan bisa mengantarkan orang tuanya ke dalam surga.

Semoga dengan upaya pemerintah mensosialisasikan pentingnya pembangunan keluarga, masyarakat bisa merencanakan pembangunan keluarga mereka. Sehingga keluarga mereka bisa sukses, baik dalam urusan dunia dan juga akhirat. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 3 Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>