«

»

QR Code Indonesia

23 Januari 2020

Pada 14 Januari 2020 saya menghadiri peresmian penggunaan QRIS (QR code Indonesia Standard) untuk penerimaan zakat, infak dan sedekah di masjid-masjid dan Baznas Sumbar. Acara bertempat  di Masjid Raya Sumbar.

QRIS merupakan produk yang diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019  dan mulai berlaku efektif secara nasional pada 1 Januari 2020. BI meluncurkan standar penggunaan QR code di Indonesia dengan maksud agar cukup satu kode saja untuk melakukan transaksi nontunai dari berbagai aplikasi pembayaran. Dengan demikian, pedagang, penjual atau penyedia jasa tidak perlu menyediakan kode yang berbeda untuk berbagai macam aplikasi transaksi nontunai.

Bagi masjid-masjid, dengan QR code ke depannya akan semakin aman dan mudah dalam menerima infak dari jamaah masjid. Karena tidak perlu lagi mengandalkan kotak infak. Yang menyumbang pun semakin yakin bahwa uang mereka sudah masuk ke tempat yang aman. Sementara itu bagi pengurus masjid juga akan lebih pasti mengetahui penerimaan infak. Karena sudah tercatat di rekening. Hal ini juga bisa menghindari penghitungan manual dari kotak infak yang berpotensi salah hitung.

Dengan penerapan QRIS untuk masjid-masjid, peluang masuknya infak masyarakat semakin terbuka lebar. Karena saat ini sudah semakin banyak masyarakat yang memiliki ponsel pintar sekaligus ada aplikasi pembayaran nontunai di ponselnya. Dan ini sudah menjadi gaya hidup tersendiri oleh sebagian masyarakat.

Pada saat ini, sebagian masyarakat kemanapun pergi juga membawa ponselnya. Yang artinya juga membawa uangnya namun dalam bentuk nontunai. Termasuk juga ketika pergi ke masjid untuk salat, ponselnya dibawa. Maka ia pun bisa berinfak di masjid tersebut hanya dengan menggunakan ponsel pintar dengan mengarahkan ke kode yang sudah disiapkan.  Untuk itu, para pengurus masjid perlu menyiapkan diri agar masjid mereka bisa menerima infak melalui QR code. Masjid memang perlu mengikuti perubahan zaman agar bisa melayani jamaah dan masyarakat sesuai zamannya.

Masyarakat zaman sekarang berkeinginan agar hidupnya mudah dengan dibantu teknologi. Seperti penggunaan aplikasi transaksi nontunai. Transaksi nontunai memudahkan berbagai urusan karena tidak perlu membawa sejumlah uang ke mana-mana. Uang tunai hanya perlu disetorkan ke rekening bank. Selanjutnya uang di rekening tersebut yang digunakan untuk transaksi nontunai melalui aplikasi atau media pembayaran.

Kami di Pemprov pun juga sudah menerapkan transaksi nontunai. Sehingga bisa meminimalkan kesalahan, serta juga lebih efektif dan efisien. Kami bermitra dengan Bank Nagari dalam penerapan transaksi nontunai ini.

Penerapan transaksi nontunai bagi pemda memang lebih menguntungkan. Beberapa yang sudah melaksanakan hal ini di antaranya adalah untuk pariwisata seperti di Panorama dan Kebun Binatang Bukittinggi, Pantai Air Manis Padang. Kemudian juga untuk transportasi yaitu Trans Padang. Ketiganya menggunakan uang elektronik dari BRI yaitu Brizzi. Pembayaran nontunai akan menguntungkan pemda karena meminimalkan penyalahgunaan dan memaksimalkan penerimaan. Bahkan bisa menjadi sumber data yang valid sebagai sumber penelitian untuk kepentingan pemerintah.

Di BIM pembayaran parkir juga sudah bisa dilakukan dengan uang elektronik Brizzi. Sehingga pengunjung bandara yang membawa kendaraan tidak perlu membawa atau menyiapkan uang tunai untuk membayar parkir.

Selain uang elektronik seperti Brizzi, penggunaan aplikasi yang ditanam di ponsel pintar untuk melakukan transaksi nontunai juga banyak disukai. Aplikasi demikian yang digunakan dalam QRIS. Kebanyakan orang memang lebih senang dengan hal ini karena ponsel dan aplikasi nontunai menyatu. Sedikit berbeda dengan uang elektronik dalam bentuk kartu seperti Brizzi atau kartu ATM yang biasanya juga sebagai kartu debit.

Dengan semakin banyaknya media atau alternatif transaksi nontunai, masyarakat bisa memilih mana yang mereka sukai. Boleh jadi dengan adanya pilihan tersebut, semuanya justru digunakan oleh masyarakat untuk keperluan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kartu Brizzi dipakai untuk transaksi di Trans Padang, Pantai Air Manis, Panorama dan Kebun Binatang, parkir BIM. Sedangkan kartu ATM untuk keperluan transfer dan pembayaran melalui mesin ATM atau mesin EDC. Sementara aplikasi yang ditanam di ponsel menggunakan QRIS digunakan untuk belanja dan juga berinfak. Sedangkan di pemerintahan, jasa Bank Nagari digunakan untuk transaksi nontunai.

Satu lagi, yang agak kurang familiar, adalah kartu kredit. Ini juga merupakan media pembayaran nontunai. Berbeda dengan kartu debit atau kartu ATM yang uangnya sudah ada di rekening dan tinggal dipakai untuk pembayaran atau transfer. Bank penerbit kartu kredit yang terlebih dahulu membayarkan transaksi nasabah ketika nasabah membayar dengan kartu kredit. Ketika jatuh tempo atau muncul tagihan baru dibayar oleh nasabah atau pemilik kartu kredit.

Dengan semakin beragamnya media untuk transaksi nontunai, turut memperluas inklusi keuangan. Selain itu, UMKM juga diuntungkan dengan adanya media transaksi nontunai, seperti kemitraan UMKM dengan Gojek yang menjadikan omset atau penjualan mereka bisa meningkat. Hal ini juga akan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, kami sepenuhnya mendukung penggunaan dan penerapan QRIS dan aplikasi nontunai lainnya karena banyak memberikan dampak positif bagi pemerintah dan masyarakat. Serta turut mempercepat dan memperluas inklusi keuangan. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Singgalang, 23 Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>