«

»

Melawan Corona, Berjemaah

20 Mai 2020

Seorang imam salat tarawih di RW 07 Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat positif Covid-19. Beberapa waktu kemudian ia dinyatakan sembuh. Dari 28 jemaah tarawih yang kemudian menjadi ODP, 9 orang positif Covid-19 setelah menjalani tes Swab. Sementara itu di Kelurahan Joyotakan, Serengan, Solo 90 KK diisolasi. Awalnya 7 orang dalam satu keluarga yang dinyatakan reaktif dalam rapid test diduga tertular pasien positif Covid-19 waktu salat tarawih.

Keinginan untuk salat berjemaah di Masjid bagi umat Islam di masa pandemi Covid-19 harus benar-benar dilihat risikonya. Karena potensi terjadi penularan ketika berkumpul tetap ada. Contohnya seperti kasus di Tambora dan Solo.

Imam dan makmum dalam salat jemaah biasanya tidak saling tahu kondisi kesehatan mereka. Ketika mereka berkumpul, ternyata terjadi penularan. Yang kemudian berpotensi akan menular kepada keluarga mereka. Sehingga semakin bertambah jumlah orang yang tertular.

Dari sebuah ibadah yang mulia, kemudian penularan terjadi ke banyak orang. Inilah yang disampaikan oleh MUI agar umat Islam untuk sementara tidak melakukan salat berjemaah di Masjid.

Jika melihat kondisi yang ada pada saat ini, ibadah salat berjemaah di tempat ibadah memang ditiadakan untuk kepentingan keamanan agar tidak terjadi penularan massal. Namun berjemaah secara sosial justru sangat penting perannya.

Dalam salat berjemaah, imam mempimpin salat diikuti makmum. Imam takbir, baru makmum takbir. Imam sujud, baru makmum sujud. Imam mengucap salam, baru makmum mengucap salam. Salat berjemaah bisa berjalan baik jika makmum mengikuti imam.

Demikian pula dalam berjemaah secara sosial di tengah pandemi Covid-19. Ada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang terbentang dari pusat dan daerah. Mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti protokol Covid-19. Yaitu di antaranya, rajin mencuci tangan, berdiam di rumah, menjauhi kerumunan, memakai masker ketika keluar rumah, menjaga jarak fisik dan sosial, mandi ketika sudah tiba di rumah dari kegiatan luar, menjaga kesehatan.

Jika seluruh masyarakat bisa mengikuti protokol yang sudah disampaikan oleh gugus tugas, insya Allah penyebaran Covid-19 bisa diminimalkan. Jumlah yang sakit dan meninggalpun dapat diminimalkan, baik masyarakat maupun tenaga medis dan kesehatan. Berjemaah secara sosial sukses dijalankan.

Namun ketika protokol tersebut tidak dilaksanakan oleh masyarakat, maka yang muncul adalah terjadinya penyebaran Covid-19 sehingga jumlah orang yang positif Covid-19 terus bertambah. Tenaga medis dan kesehatan pun terkena dampaknya, di antaranya dari orang yang tidak jujur menceritakan riwayat kesehatan dirinya.

Jika salat berjemaah pahalanya bisa berlipat dibanding salat sendiri, maka berjemaah secara sosial dalam menghadapi pandemi Covid-19 balasannya jauh lebih besar. Di antaranya adalah seperti pahala orang mati syahid jika tetap berdiam di rumah.

“Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a, beliau berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang tha’un (wabah penyakit), lalu Rasulullah Saw memberitahukan kepadaku wabah itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari (3474), An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubra (7527) dan Ahmad (26139) lafaz hadis ini riwayat Ahmad).

Islam bukanlah agama yang hanya mengajarkan berjemaah dalam ibadah, akan tetapi juga berjemaah dalam membangun kehidupan bermasyarakat, barbangsa dan bernegara. Jika kita sangat menikmati salat berjemaah maka sudah seharusnya kita juga menikmati berjemaah secara sosial menghadapi pandemi Covid-19.

Berjemaah secara sosial menghadapi wabah Covid-19 memerlukan empati, saling hormat dan menghargai antarsesama. Sehingga keinginan bersama bisa dicapai. Keinginan kita bersama saat ini adalah agar penularan Covid-19 bisa diminimalkan, sehingga tidak ada yang tertular. Kehidupan normal pun bisa kita lakukan kembali.

Semoga di bulan Ramadan yang mulia ini, hati dan pikiran kita bisa semakin tergerak untuk berjemaah secara sosial menghadapi pandemi Covid-19. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 20 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>