«

»

Covid-19 dan Perilaku Kita

3 Juni 2020

Pandemi Covid-19 sudah berjalan semakin lama dan masuk ke 216 negara. Ada beberapa negara yang sudah mengalami penurunan jumlah positif Covid-19 setelah menerapkan lockdown atau kebijakan lainnya. Sehingga mereka mulai menerapkan pelonggaran. Namun ternyata, kembali terjadi kenaikan jumlah pasien positif. Ini memperlihatkan belum ada jaminan aman jika jumlah yang positif Covid-19 mulai berkurang.

Hingga saat ini, masing-masing negara tengah berjuang untuk menangani wabah Covid-19 dengan caranya masing-masing. Untuk Indonesia, data memperlihatkan masih terjadi pertambahan pasien positif Covid-19. Per 2 Juni 2020, jumlah yang positif Covid-19 adalah 27.549. Yang sembuh sebanyak 7.935 orang, dan yang meninggal sebanyak 1.663 orang.

Menghadapi penyebaran wabah Covid-19, jika tidak dilakukan penanganan yang baik, akan memunculkan jumlah pasien positif yang semakin banyak. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi pertambahan pasien positif Covid-19.

Namun demikian, selama vaksin atau obatnya belum ada, maka penyebaran wabah Covid-19 akan tetap terjadi. Dengan melihat hal ini, maka akan muncul tatanan kehidupan yang baru, disebut sebagai Normal Baru atau New Normal.

Normal Baru adalah kondisi di mana masyarakat bisa kembali melakukan kegiatan mereka sehari-hari, terutama kegiatan mencari nafkah dengan mengikuti aturan kesehatan. Aturan kesehatan tersebut di antaranya rajin mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan menjaga kesehatan badan.

Beribadah juga mengikuti aturan baru, misalnya ke masjid bawa sajadah sendiri, memakai masker, jaga jarak dengan jemaah lain. Demikian pula kegiatan belajar, jumlah siswa dibagi dua, jam belajar dikurangi.

Dengan kata lain, Normal Baru adalah tatanan baru masyarakat produktif. Yaitu dengan menghadapi wabah Covid-19, masyarakat tetap menjalani kehidupan mereka dalam mencari nafkah, sekolah dan lainnya, dengan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjaga kesehatan.

Sebelum memasuki Normal Baru, pemerintah sudah menerapkan PSBB dengan tujuan membatasi kegiatan masyarakat agar di rumah saja. Namun dalam praktiknya, ternyata masih ada ditemui masyarakat yang tidak mematuhi PSBB tersebut. Sehingga pasien positif Covid-19 masih ada.

Kata kunci dalam menjalani PSBB adalah perilaku, yaitu disiplin mengikuti protokol Covid-19. Disiplin berdiam di rumah, disiplin jarang keluar rumah, disiplin mencuci tangan, disiplin memakai masker, maupun disiplin menjaga jarak.

Dengan disiplin, insya Allah semakin memperkecil risiko terkena Covid-19. Disiplin memakai masker, akan mencegah tertular bagi orang sehat. Disiplin memakai masker, juga akan mencegah penularan bagi orang yang positif Covid-19 tanpa gejala.

Memakai masker, insya Allah kemungkinan terkena sekitar 1 persen. Apalagi jika disiplin menjaga jarak, akan mencegah masuknya droplet ke badan. Kemudian ditambah disiplin mencuci tangan setelah beraktivitas di luar yang tidak tahu tangan tersebut sudah pegang apa saja.

Jika orang bisa disiplin seperti itu, ia akan bisa tetap produktif. Baik produktif dalam mencari nafkah, produktif dalam beribadah, produktif dalam belajar. Sebaliknya, jika tidak disiplin seperti tidak memakai masker, potensi terkena droplet jauh lebih besar. Apalagi jika tidak jaga jarak dan tidak cuci tangan. Ia akan tertular atau menularkan Covid-19.

Di masa mendatang, masyarakat tidak mungkin akan berada di rumah terus. Mereka butuh nafkah agar bisa membiayai hidupnya dan juga bagi pelajar dan mahasiswa harus belajar. Sementara Covid-19 belum ditemukan antivirusnya. Maka kehidupan di Normal Baru mensyaratkan perilaku disiplin agar tetap terlindungi dari wabah Covid-19 dan bisa bertahan hidup (survival).

Sejak awal pemberlakuan PSBB pemerintah sudah mengarahkan masyarakat untuk berperilaku disiplin guna mencegah terjadinya penularan. Perilaku disiplin bisa dimunculkan dari dalam keluarga dengan pembentukan karakter sejak usia dini. Selain itu, perilaku disiplin bisa dimunculkan dengan adanya aturan.

Contohnya, aturan di Singapura yang ketat akan dipatuhi oleh orang Indonesia yang datang ke sana. Seperti antre, buang sampah tidak sembarangan. Mereka tahu jika melanggar akan dikenakan sanksi berat. Ini contoh bagaimana aturan bisa memunculkan perilaku disiplin.

Dalam rangka memunculkan perilaku disiplin di masyarakat untuk menghadapi Normal Baru, Pemprov bersama DPRD Prov. Sumbar tengah menyiapkan Perda terkait pelaksanaan protokol Covid-19 dan sanksinya. Harapan kami, upaya ini bisa membentuk perilaku disiplin di masyarakat.

Jika masyarakat bisa berperilaku disiplin, maka dampak positifnya akan kembali kepada masyarakat. Penularan pun bisa diminimalkan dan masyarakat bisa tetap produktif. Mari kita berdisiplin mengikuti aturan kesehatan atau protocol Covid-19. Sehingga kita bisa tetap produktif dan bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19.***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 3 Juni 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>