«

»

Pemulihan Ekonomi di Era New Normal

17 Juni 2020

Akibat lockdown, PSBB, dan kebijakan sejenis yang dilakukan oleh berbagai negara di dunia dalam memerangi wabah Covid-19, ekonomi global mengarah kepada keterpurukan. Pengangguran akibat PHK massal terjadi di mana-mana. ILO (International Labor Organization) memprediksi jumlah PHK global pada triwulan II 2020 akibat pandemi Covid-19 mencapai 195 juta orang.

Sementara itu, berdasarkan data Bappenas, tingkat pengangguran terbuka akibat pandemi Covid-19 akan mencapai 7,8 – 8,5%. Dan tingkat kemiskinan di 2020 berada di kisaran 9,2 – 10,2%. Jumlah pengangguran di 2020 akan bertambah 4,22 juta orang, dan penduduk miskin akan bertambah 2 juta orang di 2020.

Dari data di atas bisa disimpulkan bahwa masyarakat harus tetap beraktivitas dan berproduksi di tengah wabah Covid-19. Mereka tidak bisa terus berdiam di rumah, tapi harus bekerja, belajar, berusaha, dan lainnya seperti sebelumnya.

Namun, hidup dengan tetap aktif di tengah wabah virus menghendaki masyarakat harus disiplin memakai masker ketika keluar rumah, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi keramaian, menjaga kesehatan dan kebersihan. Sehingga bisa tetap produktif sekaligus aman dari wabah Covid-19. Inilah yang disebut dengan New Normal, yang akan terus berlangsung sampai ditemukannya antivirus Covid-19.

Penerapan New Normal (bisa juga disebut Tatanan Hidup Baru Produktif dan Aman Covid) di Sumbar dimulai 1 Juni (Bukittinggi) pada 8 Juni 2020 (untuk 16 Kabupaten Kota) setelah memenuhi persyaratan sesuai arahan WHO.

Pemerintah menyebut New Normal sebagai tatanan kehidupan baru yang produktif dan aman dari Covid. New Normal memberikan peluang bagi kita untuk memulihkan ekonomi yang sempat terpuruk.

Dalam rangka memulihkan ekonomi, pemerintah akan memberikan stimulus, relaksasi, fasilitasi, dan subsidi kepada pelaku usaha, dari mikro hingga besar. Jika melihat kondisi Sumbar, sektor yang perlu dibantu di antaranya adalah yang terkait pariwisata (jika digabung persentasenya sebesar 16,02% berdasar PDRB Sumbar 2019 Menurut Lapangan Usaha). Karena merupakan sektor terparah dampak pandemi Covid-19. Sektor Pertanian yang menyumbangkan PDRB terbanyak sekitar 22% dan menyerap tenaga kerja lebih 50% juga berpengaruh akibat Covid tapi masih dianggap survive.

Yang dimaksud sektor terkait pariwisata di antaranya adalah transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi (hotel/penginapan) dan makan minum (restoran), serta jasa lainnya (seperti hiburan dan rekreasi). Sektor yang terkait pariwisata tidak bisa bergerak karena banyak terjadi PHK atau dirumahkan, dan juga penutupan atau penghentian usaha dan produksi untuk mencegah terjadinya penularan akibat adanya keramaian dan interaksi orang. Selain itu, juga masuk ke dalam pembatasan atau pelarangan kegiatan ketika pemberlakuan PSBB.

Dengan adanya New Normal, berbagai usaha terkait pariwisata mulai kembali bergerak. Penginapan, rumah makan, kuliner, transportasi, usaha oleh-oleh, usaha cendera mata, transportasi pariwisata, mulai kembali berjalan. Pemprov telah beberapa kali rapat dengan pemangku kepentingan sektor pariwisata. Dan juga mengadakan pertemuan dengan pentahelix pariwisata yaitu akademisi, pebisnis, komunitas, media dan pemerintah.

Dari pembicaraan tersebut, disepakati untuk memperbaiki dan membangun kembali sektor pariwisata. Di internal pemerintah, telah dilakukan rapat dengan kepala dinas pariwisata yang ada di Sumbar, membahas bagaimana menggerakkan kembali sektor pariwisata. Maka mulai 8 Juni 2020 kawasan wisata yang ada di kabupaten/kota sudah bisa dibuka lagi. Sedangkan Bukittinggi mulai lebih awal pada 1 Juni 2020.

Sektor pariwisata perlu untuk dipulihkan karena memiliki dampak ikutan yang cukup besar kepada ekonomi masyarakat dan UMKM. Untuk itu, kami telah membuka pintu bagi wisatawan untuk datang ke Sumbar, dengan hanya mensyaratkan keterangan bebas Covid dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19 (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjaga kesehatan dan kebersihan, menjauhi keramaian).

Di BIM setiap yang datang disediakan tes swab gratis, tidak perlu membayar biaya tes yang cukup besar. Sedangkan untuk jalur darat, masuk Sumbar dikenakan rapid test. Ini merupakan bentuk stimulus, fasilitasi dan subsidi kepada sektor pariwisata.

Pemprov juga melakukan tes swab kepada pekerja pariwisata, seperti pegawai hotel, pegawai rumah makan, pegawai di destinasi wisata, tourist guide, dan lainnya. Kami menamakan hal ini sebagai wisata bebas Covid. Karena wisatawan maupun pelaku/pekerja pariwisata insya Allah dalam keadaan sehat setelah menjalani tes. Wisatawan silahkan masuk ke Sumbar, tapi hanya bagi yang sehat dan ikut protokol kesehatan. Untuk itu wisatawan perlu dies swab PCR, termasuk wisatawan asing yang ingin surving ke Mentawai. Agar pemulihan ekonomi melalui wisata berjalan maka tes swab ini diberi gratis.

Pemprov juga akan mengembangkan medical tourism, di mana wisatawan yang masuk jika harus dikarantina maka akan disediakan penginapan yang baik sehingga suasana wisata bisa terasa.

Selain itu, biro wisata yang menargetkan wisatawan yang memiliki uang berlebih untuk datang ke Sumbar akan difasilitasi. Yaitu mereka yang butuh untuk berwisata dan bersedia mengeluarkan dana lebih.

Semoga apa yang kami upayakan ini bersama seluruh pemangku kepentingan bisa berperan memulihkan ekonomi Sumbar di era New Normal secara bertahap. Dan bagi para pelaku usaha, semoga bisa bersemangat untuk kembali menjalani usahanya. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 17 Juni 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>