«

»

Pendidikan di Era New Normal

9 Juli 2020

Pandemi Covid-19 di seluruh dunia belum usai. Bahkan negara-negara yang telah melakukan pelonggaran mengalami kenaikan jumlah pasien positif covid. Ada yang mengistilahkan akan datangnya gelombang kedua. Bahkan WHO saat ini mulai menyerukan kembali negara-negara yang mengalami lonjakan pasien positif covid atau yang akan mengalami gelombang kedua untuk kembali mengunci wilayahnya (lockdown).

Alhamdulillah, kondisi di Sumbar sampai saat ini masih kondusif untuk pelaksanaan New Normal dimana pertambahan jumlah pasien positif mulai melandai kurvanya dan tingkat kesembuhan sudah di atas 80%. Namun kami tetap waspada karena saat ini masih status darurat kesehatan. Dan tak bosan-bosannya kami menyerukan kepada masyarakat untuk tetap menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Juga diikuti menjaga jarak, menjauhi keramaian, menjaga kebersihan dan kesehatan, dan selalu mencuci tangan.

Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah pendidikan di era New Normal. Bulan Juli merupakan waktu mulainya tahun ajaran baru 2020-2021.  Pendidikan saat ini yang berada di era New Normal pasti mengalami perbedaan dengan pendidikan sebelum pandemi Covid-19.

Kegiatan pendidikan di era New Normal kemungkinan besar menghindari tatap muka dan berkumpul. Karena jika terjadi tatap muka dan berkumpul berpotensi terjadi penularan dan munculnya cluster baru. Maka pembukaan tahun ajaran baru memerlukan banyak pertimbangan untuk pelaksanaannya.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional yang juga guru besar FKM UI, Prof. Wiku Adisasmito menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan di era New Normal risikonya besar dan dampak ekonominya kecil. Maka perlu antisipasi risiko yang besar ini ketika menjalankan kegiatan pendidikan di era New Normal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui surat edarannya menginformasikan bahwa sekolah yang bisa dibuka kegiatan pembelajarannya adalah sekolah di zona hijau. Zona hijau memiliki 15 indikator yang dikeluarkan oleh BNPB. Di antaranya adalah: daerah yang tidak pernah ada kasus covid, jika di suatu daerah sudah ada kasus covid maka dalam sebulan tidak terjadi penambahan pasien positif,  tingkat kesembuhan 100%, dalam satu bulan tidak ada kematian.

Jika indikator tersebut bisa dicapai oleh suatu daerah, tergolong sebagai zona hijau. Sehingga kegiatan pendidikan bisa dibuka (tatap muka) di sini. Namun zona hijau bisa saja dalam waktu cepat berganti menjadi zona kuning. Beberapa kota kabupaten dua minggu lalu sudah masuk ke zona hijau, yaitu Bukittinggi, Padang Panjang, Kota Solok, Tanah Datar, Agam. Kemudian kembali masuk ke zona kuning akibat bertambahnya jumlah yang positif covid, walaupun hanya sedikit.

Per 5 Juli 2020, yang masuk ke zona hijau adalah, Kota Pariaman, Payakumbuh, Lima Puluh Kota, Pesisir Selatan, Sawahlunto, dan Pasaman Barat. Namun 7 Juli, kabupaten 50 Kota kembali ke Zona Kuning setelah ada tambahan positif Covid baru. Hanya 5 Daerah yang bisa membuka kegiatan pendidikan. Dalam rapat Gubernur dengan Bupati/Wali Kotabeberapa waktu lalu, yang ingin membuka kegiatan pendidikan tatap muka baru empat daerah. Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota masih menunda, walaupun Lima Puluh Kota sehari berikutnya zona kuning.

Kemungkinannya, pada 13 Juli 2020 yang akan membuka kegiatan pendidikan dengan tatap muka adalah Kota Pariaman, Pesisir Selatan, Sawahlunto dan Pasaman Barat. Namun tetap memakai masker serta mematuhi aturan protokol kesehatan covid. Yaitu: kelas hanya boleh diisi setengah dari kapasitas, waktu belajar tidak lama, tidak boleh melakukan kegiatan lain selain belajar mengajar di sekolah, pergi dari rumah ke sekolah, pulang dari sekolah langsung ke rumah.

Dengan kegiatan tatap muka, peluang suatu daerah masuk ke zona kuning menjadi besar kembali. Karena saat ini Sumbar berada di era New Normal di mana orang luar Sumbar bisa masuk ke Sumbar, kegiatan ekonomi kembali berjalan, perpindahan orang semakin cepat dan banyak. Peluang bagi siswa, guru terpapar virus oleh anggota keluarga dan orang lainpun cukup besar.

Maka, membuka pendidikan dengan tatap muka perlu dipikirkan matang-matang agar tidak muncul cluster baru. Di negara lain, sekolah yang dibuka setelah lockdown ditutup kembali karena terjadi penularan. Dengan melihat hal ini, guru, kepala sekolah, dinas terkait dan pemangku kepentingan lainnya perlu menyiapkan beberapa metode untuk kegiatan pembelajaran.

Metode yang dimaksud adalah: 1. Pembelajaran tatap muka (ala New Normal) dengan mematuhi protokol kesehatan, 2. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau tatap maya dalam jaringan (daring/online), 3. Gabungan tatap muka dan tatap maya, 4. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) luar jaringan (luring/offline).

Empat hal ini harus disiapkan oleh sekolah, pemangku kepentingan dan pihak terkait agar siswa bisa mencapai target yang dikehendaki. Karena tidak semua guru dan siswa yang familiar dengan teknologi informasi seperti internet. Di samping itu, juga ada daerah yang belum masuk listrik, tidak masuk sinyal internet, maupun fasilitas lainnya.

Jika sekolah bisa menyediakan empat hal tersebut, maka siswa  tetap bisa mengakses kegiatan pembelajaran. Jika di sebuah sekolah atau daerah tidak ada listrik dan sinyal internet, maka bisa dilaksanakan PJJ luring. Tetapi jika sekolah atau suatu daerah ada listrik dan sinyal internet, bisa melaksanakan PJJ daring.

Yang perlu diperhatikan, tidak akan selamanya siswa belajar di rumah. Kemungkinan akan ada pembelajaran tatap muka, dengan mematuhi protokol kesehatan. Di sinilah dilema muncul kembali. Karena risiko terjadi penularan cukup besar. Di satu sisi, dibutuhkan cara pembelajaran yang lebih efektif seperti pembelajaran tatap muka. Di sisi lain, kondisi masih belum memungkinkan untuk tatap muka.

Maka untuk mencapai target yang diinginkan, suatu daerah harus masuk zona hijau terlebih dahulu. Kemudian dilakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Mungkin saja bisa tatap muka, tapi tidak bisa terlalu sering untuk menghindari penularan virus di Sekolah.

Sementara bagi daerah yang masuk zona kuning dan orange apalagi merah, harus bersabar dalam melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka. Memang PJJ belum bisa mencapai hasil atau target maksimal. Tetapi kegiatan yang pokok bisa dilakukan, sehingga kegiatan pendidikan tetap jalan. Misalnya daerah atau sekolah yang tidak ada aliran listrik dan sinyal internet. Menjalankan PJJ luring dengan cara siswa datang ke sekolah untuk ambil dokumen pelajaran dari guru berupa materi, catatan, dan tugas. Setelah diambil, langsung pulang ke rumah, belajar dan mengerjakan tugas di rumah. Esoknya tugas dan juga pertanyaan tentang materi yang kurang paham dibawa lagi ke sekolah, dan mengambil materi baru dan tugas baru.

Kami menyadari, menyelenggarakan pendidikan di era New Normal penuh dilema. Evaluasi PJJ daring, ternyata hasilnya tidak efektif, cenderung membosankan, kompetensi dasar siswa tidak terpenuhi, KKM tidak tuntas, cara mengajar guru ada yang menjadi masalah. Akhirnya pilihan untuk tatap muka adalah yang paling diinginkan. Tapi tidak bisa dilakukan saat ini, kecuali daerah yang zona hijau.

Maka, hal minimal saja yang bisa didapat oleh siswa. Tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali, dalam kondisi sekarang. Dengan melihat hal ini, orang tua perlu mendampingi anaknya ketika belajar di rumah dengan metode PJJ. Agar anak bisa dibantu. Jika pun ada yang tatap muka, masker dan protokol kesehatan harus dipatuhi. Orang tua harus memastikannya. Bahkan bila perlu antar jemput anaknya langsung ke sekolah.

Dengan kondisi pandemi dan adanya dilema dunia pendidikan, pihak sekolah, pemangku kepentingan, orang tua harus saling mengerti dan mendukung satu sama lain. Hindari saling menyalahkan. Karena saat ini situasi krisis. Semoga dengan ketenangan dan kesabaran kita menghadapi pandemi ini, Allah Swt berikan jalan keluar. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Padang Ekspres 9 Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>