«

Berpisah Bukan Bercerai

11 Februari 2021

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ini adalah sunnatullah (ketentuan Allah) yang akan terjadi bagi siapa saja. Tetapi yang dimaksud dengan “bila berpisah bukan bercerai” dalam tulisan ini adalah, meskipun kita berpisah tetapi tetap masih bisa bertemu. Ini istilah yang cocok bagi saya saat ini. Walaupun saya sudah tidak menjadi gubernur, saya tetap masih punya banyak aktivitas di Sumbar.

Sejak menjabat gubernur pada 2010 hingga selesai menjabat pada 2021, saya bertemu setiap hari dengan para pegawai, pejabat, dan banyak orang di Sumbar. Saya datang ketika Sumbar sedang suasana tanggap darurat gempa (yang terjadi pada September 2009) dan kemudian disusul tsunami Mentawai (yang terjadi pada Oktober 2010). Sebagian besar infrastruktur hancur termasuk gedung, kantor, sekolah, jalan, jembatan, rumah sakit, pasar, masjid, gereja, hotel, rumah dan lainnya. Di saat itu kita di Sumbar bersama dengan semua pihak mengatasi kehancuran akibat gempa. Ini merupakan awal kebersamaan saya dengan semua pemangku kepentingan di Sumbar. Kebersamaan saat itu pun satu persatu berakhir (berpisah). Saya masih ingat, bersama Danrem Kol. Mulyono pergi ke Mentawai mengatasi akibat tsunami di sana. Kenangan bersama beliau tak terlupakan dalam situasi bencana. Tak lama kemudian kami berpisah. Beliau ke Jakarta hingga menjadi KSAD, jenderal bintang empat. Bertemu dan bersama akhirnya berpisah.

Jajaran Forkopimda selama 10 tahun terakhir juga sudah silih berganti dan berkali-kali pisah sambut dengan saya. Mungkin sekitar 6 atau 7 pimpinan di Forkopimda yang berganti selama 10 tahun terakhir. Selain Forkopimda, pejabat pimpinan instansi vertikal juga banyak yang silih berganti datang dan pergi. Saat mereka berada di Sumbar, kami bekerja sama secara erat dan intensif. Kemudian berpisah. Mereka menata karir di luar Sumbar. Ada yang pensiun dan ada yang naik pangkat.

Begitu juga terjadi di lingkungan ASN Pemprov. Sudah ratusan yang pensiun selama 10 tahun terakhir. Saat aktif, kami setiap hari bertemu. Tiap hari bersama. Saat pensiun tiba, langsung berpisah. Hanya sekali-kali bertemu. Bahkan ada yang jarang bertemu karena sudah tidak lagi tinggal di Sumbar.

Begitulah kehidupan kita di dunia. Tak perlu disesali apalagi diratapi suatu perpisahan. Tak mau berpisah, tak perlu kita bertemu. Karena kalau ada pertemuan, maka perpisahan akan terjadi.

Kini saatnya saya sebagai gubernur berpisah. Tepatnya tanggal 13 Februari 2021 sudah tidak lagi menjabat gubernur. Berpisah dengan semua ASN, baik pejabat pemprov atau pegawai. Berpisah dengan ajudan, sespri, sopir yang tiap hari dulu bersama. Berpisah dengan mereka yang bekerja di rumah dinas. Dulu mereka bisa 24 jam bersama kami, kini tentu tidak bersama lagi. Oh ya… Satpol PP yang setia menjaga rumah dinas, tentu kini tidak bertemu lagi. Itulah kehidupan yang mesti kita lalui. Rumah dinas yang luas dengan lingkungan rumah yang asri memiliki kenangan sendiri selama 10 tahun. Tiap sudut bahkan punya cerita sendiri. Kini kami berpisah dengan semuanya itu.

Tentu ada pertanyaan, “Apakah Pak IP sedih berpisah dengan semuanya itu?” Ya, sedih. Ini manusiawi. Sebelumnya selalu bersama kini tidak lagi bersama. Tetapi kami meninggalkan dengan rasa senang. Kenapa? Karena selama 10 tahun ini, kami tidak punya masalah dan tidak membuat masalah dengan mereka. Hubungan tetap terjaga baik. Bahkan dengan ajudan dan sopir yang sudah pensiun atau tidak lagi bersama, tetap masih berkomunikasi. Senang berpisah, karena selama ini banyak kebaikan yang kita beri dan kita dapat. Selama 10 tahun, kami tidak marah-marah dan tidak juga menyakiti mereka. Sehingga mereka senang dan kami pun senang.

Bagaimana pula dengan ASN di Pemprov, apakah sedih berpisah? Jawabnya ya. Tetapi kami pun merasa senang berpisah dengan ASN. Senang berpisah karena tidak meninggalkan luka dan tidak meninggalkan kekecewaan di hati ASN. Sebagai pribadi, saya tidak pernah menyakiti mereka, tidak pernah menyusahkan mereka, tidak juga pernah marah. Kalaupun ada ASN yang mungkin kurang senang, hal itu bisa dijawab dengan aturan. Tidak senang karena tidak bisa jadi pejabat atau tidak puas karena diberi sangsi. Tetapi semuanya ikut aturan dan insya Allah adil. Senang berpisah dengan ASN, karena mereka telah bekerja baik, bekerja sungguh-sungguh, bekerja benar dan mampu bekerja sama dengan pimpinan. Terbukti dari prestasi yang kami dapat bisa mencapai 360 penghargaan yang tercatat, belum lagi yang tidak tercatat. Ini yang membuat senang berpisah karena mereka telah ‘bekerja yang menghasilkan’ dan melayani masyarakat dengan prima.

Saya juga ditanya wartawan, “Apakah Bapak puas dengan hasil kerja selama menjabat 10 tahun?” Jawab saya, “Bertanya hasil, kita serahkan kepada Allah dan biarkan masyarakat yang menilai.” Tetapi bagi saya, bekerja sungguh-sungguh untuk rakyat sudah saya kerjakan. Tidak saja bekerja di hari kerja tetapi juga di hari libur tetap bekerja bahkan hingga malam pun tetap bekerja untuk rakyat. Alhamdulillah puas karena selama 10 tahun bekerja tidak ada sakit, semua kegiatan dipenuhi dengan tepat waktu walau kegiatan di luar kota. Untuk menjalani tugas tersebut banyak yang menemani saya termasuk tim humas, Patwal dan OPD. Dan kini kami pun berpisah.

Selain itu, tidak lagi menjabat tentu tidak ada lagi protokoler. Jadwal diatur sendiri. Insya Allah akan lebih bebas dan bisa membuat apa pun rencana. Berpisah bukanlah bercerai, memang saya berpisah dengan orang yang selama ini bekerja dan menemani saya sebagai gubernur dulu. Tetapi tidak bercerai, karena datang dan pergi dalam suasana baik. Ibarat ungkapan di Minangkabau, “Datang tampak muka, pulang tampak punggung.”

Rangkaian acara perpisahan sudah dilakukan dengan Forkopimda dan pejabat vertikal, pejabat pemprov, ASN, BUMD, bahkan dengan pemred media di Sumbar. Ungkapan kata maaf bila selama bergaul ada yang salah. Ungkapan terimakasih atas kerjasama selama ini membangun Sumbar. Ungkapan doa agar sukses menjalani tugas baru ke depan. Dan terakhir ungkapan untuk tetap jalin silaturahmi.

Insya Allah saya akan tetap beraktivitas di Padang. Mengajar di UNP Jurusan Psikologi sebagai Profesor Luar Biasa Bidang Psikologi. Juga mengajar di S3 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unand. Kembali mengelola Lembaga Pendidikan Adzkia yang dalam waktu dekat insya Allah akan berdiri Universitas Adzkia.

Kita memang berpisah tetapi tetap bertemu di urusan lain. Semoga kita tetap bertemu di dalam kebaikan. Di mana saja berada dan berkegiatan, kita akan tetap berbuat kebaikan bagi masyarakat, insya Allah. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Singgalang 11 Februari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>