«

»

Juara dan Sebuah Proses

6 Oktober 2016

Pada 23 September 2016 lalu saya menerima atlet binaraga Sumbar yang meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat, Iwan Samurai di Gubernuran Padang. Emas pertama kontingen Sumbar di PON XIX dipersembahkan oleh Iwan Samurai. Saya mengucapkan selamat dan menyampaikan apresiasi kepada Iwan yang telah mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional. Terlebih lagi, Iwan tetap memilih bertahan bekiprah atas nama Sumbar meskipun ada tawaran kepada dirinya untuk pindah daerah dengan iming-iming bayaran yang lebih besar.

Pada PON XVIII 2012 lalu Iwan meraih medali emas binaraga pada kelas 70 kg. Dan pada PON XIX 2016 Iwan berkompetisi di kelas 75 kg dan meraih medali emas. Pada PON 2012 Iwan diprediksi tidak meraih emas, namun karena semangatnya yang tak mudah menyerah akhirnya ia meraih medali emas. Pada bulan Ramadhan 2012 Iwan bersama pelatihnya menjalani latihan di malam hari hingga jam 3.00 dinihari. Di saat orang tidur, Iwan justru berlatih. Latihan dengan disiplin tinggi yang dijalani Iwan selama sekitar satu bulan ini membuahkan hasil. Ia meraih medali emas binaraga kelas 70 kg di PON 2012.

Dan pada PON XIX 2016, Iwan tetap berlatih keras. Ia hanya akan menyelesaikan latihan jika sudah letih. Selama belum letih, ia tetap terus berlatih. Ia akan mengikuti kelas 75 kg. Di kelas ini ia menyadari ada lawan beratnya yang sudah dikenal luas, Syafrizaldi, yang memenangi medali emas di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pra PON. Sedangkan Iwan memperoleh perunggu. Iwan sengaja mengikuti kelas yang lebih tinggi di PON XIX 2016 (75kg) dibanding PON XVIII 2012 (70kg). Dan akhirnya ia memperoleh medali emas. Saingan terberatnya, Syafrizaldi merupakan legenda kelas 75 kg dan juga dikenal sebagai “raja kelas 75 kg” dengan 7 kali medali emas PON dan juga peraih emas WBPF World Championship 2015 di Thailand.

Iwan memang berlatih keras hingga ia bisa menjadi juara. Setiap hari ia harus makan 30 butir telur, daging minimal 1 kg, nasi merah. Makan makanan yang direbus serta tidak makan makanan bersantan dan gorengan. Ini ia lakukan intesif selama enam bulan sebelum bertanding. Dan 1 bulan sebelum bertanding ia tidak minum air kecuali apel dan anggur. Sauna dan berjemur juga ia lakukan setiap hari agar air tubuh keluar. Latihan fisik dan nge-gym ia lakukan dari pagi hingga sore. Iwan Samurai menjalani latihan ketat, disiplin, sehingga ia berhasil mendapatkan emas. Proses menjadi juara ia lewati dengan baik.

Sementara itu Yaspi Boby, pelari yang juga turut mengharumkan nama Sumbar meraih medali emas 100 m dan 200 m pada PON XIX. Boby, begitu ia sering disapa, oleh sebuah media online disebut sebagai Usain Bolt Indonesia. Usain Bolt adalah pemegang rekor dunia lari 100 m dan 200 m. Dan Boby oleh sebuah media online lainnya dinobatkan sebagai manusia tercepat di Indonesia.

Juara yang diraih Boby tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang harus dilaluinya sehingga ia bisa menjadi juara. Di antaranya adalah, semenjak kecil Boby harus jalan minimal 5 km karena jarak rumah dengan sekolahnya adalah 2,5 km. Kondisi rumahnya pun di atas bukit. Dengan kondisi demikian, kaki dan fisik Boby sudah terlatih setiap hari.  Pada waktu kuliah di Univesitas Negeri Padang (UNP) Boby mulai menekuni lari jarak pendek. Dan pada PON XIX Boby melakukan persiapan selama 3 tahun dengan latihan minimal 4-5 jam sehari pada pagi dan sore. Boby sangat disiplin. Makan dan istirahat pun diatur sedemikian rupa.

Setiap atlet memiliki peluang untuk berproses menjadi juara. Juara memang tidak datang tiba-tiba. Ia harus mengikuti proses yang ada. Kedisiplinan, keseriusan, kesungguhan, ketaatan, percaya diri, dan berbagai karakter positif lainnya adalah syarat agar proses yang dilalui bisa mencapai keberhasilan yaitu menjadi juara.

Bagi atlet yang belum berhasil meraih medali, semoga bisa melakukan evaluasi bersama pelatih dan official agar ke depannya bisa lebih mematangkan persiapan. Evaluasi juga penting dilakukan oleh atlet yang telah meraih medali. Karena tantangan ke depan akan semakin berat.

Saya juga mengapresiasi raihan medali dari cabang eksebisi pada PON XIX yaitu Barongsai (1 emas, 2 perak, 1 perunggu), Muaythai (1 perak, 1 perunggu), Soft Tenis (1 perak, 1 perunggu), Basket 3×3 (1 perak), dan Yong Moo Do (1 perunggu).

Saya turut mendoakan agar pada PON XX atlet Sumbar meraih prestasi yang lebih baik dari yang sudah didapat dengan tetap menjaga kekompakan, solidaritas dan soliditas, kesungguhan, disiplin, dan kepercayaan diri yang makin kokoh. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 6 Oktober 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>