Oleh Irwan Prayitno
Dulu aksi kriminalitas umumnya dilakukan sebagian preman (biasanya dilengkapi dengan tato). Mereka umumnya kalangan tidak terdidik, putus sekolah atau pengangguran. Jika terjadi pencurian, perampokan, perkosaan dan sebagainya, kelompok inilah yang biasanya menjadi pelaku utama.
Belakangan peta kriminalitas itu bergeser, pelakunya tak lagi kalangan preman, tapi mereka kaum terdididik. Motif kriminalitas yang dilakukan juga makin canggih, membobol bank, penipuan pajak, kurupsi dan lain-lain.
Jika maling atau rampok sasaran kejahatannya hanya sampai beberapa puluh juta rupiah, kriminal jenis ini sasarannya puluhan miliar sampai triliunan rupiah. Sungguh luar biasa. Kejahatan jenis ini populer dengan sebutan kejahatan kerah putih.
Begitu juga kasus krimanalitas lain dan gangguan keamanan. Jika dulu yang jadi biang tawuran antarkampung adalah oknum preman, maka kini yang jadi biang tawuran merupakan oknum pelajar atau mahasiswa.
Sedangkan kasus asusila, perkosaan yang menjadi aktor pelakunya oknum pelajar, mahasiswa atau justru orang yang dianggap tokoh masyarakat.
Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah satu jawabannya, karena kualitas moral dan keimanan mereka yang lemah. Hal ini terjadi umum di semua pelosok negeri ini. Kenapa kualitas moral dan keimanan bangsa ini lemah, tentu kita harus mengevaluasi kembali proses pendidikan yang membentuk karakter mereka.
Tentu kita merasakan, proses pendidikan kita, disengaja atau tidak, telah tergiring lebih mengutamakan proses kognitif terhadap bahan pelajar.
Lebih celaka lagi karena sekedar untuk mengejar nilai dan bisa lulus ujian, proses belajar yang dilakukan siswa hanya sekedar menghafal. Sejumlah pelajar memplesetkan sistem SKS sebagai sistem kebut semalam.
Artinya mereka menghafal semalam saja pelajaran yang akan diuji besok. Setelah ujian mereka lupa lagi apa materi pelajaran yang sudah dipelajari.
Proses pendidikan yang terpadu, memberikan pengetahuan serta perubahan prilaku kepada peserta didik. Dengan demikian mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tapi juga memiliki karakter yang baik.
Secara nasional pentingnya pendidikan karakter telah disepakati dan disadari. Konsensus tersebut diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.
Dari bunyi pasal tersebut terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.
Di Sumatra Barat pendidikan karakter telah dilakukan di sejumlah sekolah, diantaranya SMA 1 Padang Panjang, Yayasan Pendidikan Adzkia, Pesantren Ar Risalah, sejumlah SDIT dan berbagai pesantren lainnya di daerah ini.
Kata kunci kurikulum yang dilaksanakan, keterpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotirik. Siswa tidak hanya dilatih untuk sekedar menghafal, tapi mempraktikkan dan membiasakan siswanya untuk melakukan syariat Islam seperti shalat, puasa, berbuat baik, jujur, disiplin, memahami adat dan budaya, memiliki nasionalisme dan seterusnya.
Alhamdulillah, banyak pihak yang memuji kurikulum yang diterapkan memang mampu membentuk karakter lulusan sekolah tersebut. Di lapangan memang terbukti, lulusan sekolah tersebut seperti Adzkia, berbeda dengan sekolah lain umumnya.
Masyarakat dari berbagai kalangan, kelompok bahkan berbagai partai politik, mengamanahkan putra-putri mereka untuk dididik di sekolah tersebut.
Alhamdulillah, selama ini tidak ada komplain dari pihak manapun bahwa di dalamnya ada kepentingan politik. Karena memang tidak ada kepentingan politik di sana, dan memang tidak akan bisa dicampur adukkan.
Membiasakan siswa melakukan ibadah bukan muatan politik, tapi semata untuk membina karakter siswa agar mereka sukses dunia dan akhirat. Insya Allah membangun karakter bangsa bisa dilakukan dari sini dan dimulai dari sekarang! (*)
Singgalang 29 Mei 2012