Didorong niat besar ikut mencerdaskan masyarakat, Irwan Prayitno menolak menjadi pegawai Semen Padang setamat kuliah, 1988 lalu. Walau ditawari posisi aman untuk seorang tamatan kuliah, Irwan memilih mendirikan bimbingan belajar (Bimbel) dengan modal Rp15 ribu.
Dengan susah payah menamatkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), Irwan Prayitno langsung pulang kampung. Di Padang Irwan mendirikan bimbingan belajar yang kemudian menjelma menjadi Yayasan Pendidikan Islam Adzkia dengan aset Rp70 miliar saat ini.
Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal. Melihat peluang itu, Irwan mencari kawan-kawan yang dapat bekerjasama.
“Adzkia saya dirikan dengan uang Rp15 ribu, waktu itu saya dapat mencetak brosur sebanyak satu rim, kemudian dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Padang,” kenang Irwan mengingat perjuangannya membesarkan Adzkia.
Sebenarnya, untuk menamatkan kuliah bagi Irwan cukup panjang, enam tahun sejak 1982 hingga 1988. Lamanya Irwan di kampus bukan kemampuan akademiknya yang kurang. Namun tuntutannya untuk melaksanakan kegiatan di luar kampus membuatnya molor menyelesaikan kuliah.
Dia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk mengajar, berdakwah, berdiskusi, serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Menikah dengan Nevi Zuairina tahun 1985 dengan tanpa modal apa-apa
Begitu lulus sarjana psikologi UI yang terngiang di pikirannya justru ingin berdakwah. Tawaran gaji besar dari perusahaan semen terbesar di Padang, misalnya, ditampiknya. Keyakinan untuk terus berdakwah, menurutnya, bila dilandasi nawaaitu demi menggapai Islam kaffah akan menjadi besar.
Semangatnya bersama teman-teman lalu terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial. Hidup Irwan kemudian dipenuhi warna-warni Adzkia.
Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan.
“Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,” ujarnya.
Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, di antaranya, Prof Syukri Arief, mereka pada umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.
Tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama di PGAI pindah ke jalan Raden Saleh, Jalan Diponegoro, pindah lagi ke Belakang Olo, Simpang Damar. Setelah itu Irwan mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah dibangun. Kemudian membeli tanah di sekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.
Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya akan pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi 7 cabang yang tersebar di kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh.
Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SD, SMP, SMA dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi. “Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,” sebutnya.
Melihat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan guru TK yang profesional, maka YPIC Adzkia pada tahun 1994 membuka Program Diploma I PGTK Adzkia, yang kemudian berkembang menjadi program Diploma 2 PGTK/RA dan PGSD/MI di bawah Naungan Akademi Kependidikan Islam Adzkia (AKIA). Tahun 2003 status Akademi berubah ke arah yang lebih positif yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang dinaungi oleh Departemen Agama Republik Indonesia.
Sudah sangat banyak lulusan yang telah dihasilkan oleh AKIA/STIT Adzkia. Lulusan STIT Adzkia bahkan sudah banyak yang diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil baik di Propinsi Sumatera Barat, maupun di luar provinsi Sumatera Barat. Bahkan keberadaan para alumni AKIA/STIT Adzkia ini tidak hanya menduduki jabatan sebagai guru melainkan juga sebagai kepala sekolah terutama lulusan jurusan PGTK Adzkia.
Tahun 2005 Program Diploma 2 tidak diizinkan lagi untuk dibuka sehingga tahun 2007-2008 perguruan tinggi Adzkia fakum. Alhamdulillah tahun 2009, Adzkia diberikan izin penyelenggaraan STKIP Adzkia program S1 PG-PAUD & PGSD di bawah Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan Nomor izin 111/D/O/2009.
Lanjutkan Pendidikan
Di saat Adzkia mulai menapak maju di kota Padang, Irwan tahun 1995 justru terdampar ke negeri jiran Malaysia untuk melanjutkan pendidikan S-2. Awalnya, banyak universitas yang menolak mengingat IP-nya rendah 2,02 sebelum akhirnya Universitas Putra Malaysia (UPM) di Serdang, Kuala Lumpur mau menampung dengan status percobaan satu semester. Namun Irwan malah menantang Prof Hasyim Hamzah, Pembantu Rektor UPM dirinya bisa menyelesaikan studi tiga semester atau satu setengah tahun dari waktu normal enam semester atau tiga tahun.
Tantangan itu terbukti dan memberinya hak menyandang gelar Msc bidang Human Resources Development. Kuliah S-3 pun di kampus yang sama dicapainya dengan gemilang. Irwan lulus S-2 dan S-3 bidang Training Management kali ini dengan nilai A semua, kecuali mata kuliah mengenai hukum
perempuan. Itupun hanya akibat berbeda pendapat dengan dosennya.
Yang menarik, selama pergulatannya di Negeri Jiran Irwan Prayitno harus bekerja keras untuk menghidupi istri dan lima anak, saat itu, yang ikut diboyongnya. Dibutuhkan minimal 2.000 hingga 3.000 ringgit Malaysia per bulan, 10 hingga 20 persen di antaranya untuk kuliah. Sumber pendapatan tak lain dari berdakwah dan berceramah sampai ke London sekalipun. Pesawat terbang atau kereta api adalah tempat biasa untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Itupun masih belum melepaskannya dari pekerjaan rutin di rumah mencuci pakaiannya, istri, dan anak-anak.
Kini, Adzkia telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas di Kota Padang, Sumbar umumnya. Dengan Adzkia Irwan telah menyumbangkan sebuah perjuangan membangun pendidikan di Sumbar.
“Bagi saya Adzkia bukanlah untuk mengejar profit, namun bagaimana berperan membangun manusia berkarakter di Ranah Minang,†ujarnya. (mul)
Rakyat Sumbar, 6 Agustus 2015