«

»

Gubernur yang Juga Orang Biasa

14 Agustus 2015

Boleh jadi banyak orang kesal terhadap ulah kepala daerah yang berubah 180 derajat seusai menjadi kepala daerah. Misalnya saja dulu sebelum jadi kepala daerah “ngemis-ngemis” minta dukungan, namun sekarang seakan “haram” mengangkat telepon. Kalau ponselnya mati, atau paling banter harus berhubungan dengan ajudan terlebih dahulu.

Namun anggapan ini tidak berlaku bagi Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Seakan tak ada perubahan mencolok yang terjadi dalam diri suami Nevi Irwan Prayitno pascadilantik jadi gubernur pada 15 Agustus 2010 lalu. Malahan, sejak awal Irwan seakan sudah “memproklamirkan” antiprotokoler. Kalaupun tetap ada protokoler, biasanya bila sedang menghadiri acara resmi atau mengikuti rapat di Istana Negara.

Bagi Irwan jabatan gubernur hanyalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Jadi, bukan menjadi penghalangnya untuk senantiasa dekat dengan masyarakat. Bukan juga membuat dirinya jauh dari orang-orang yang dikenalnya sebelum jadi gubernur. Sebaliknya, dia seakan lebih leluasa menjaga dan membina hubungan silaturahmi dengan masyarakat.

Contoh paling ringan, ketika beliau dihubungi lewat ponselnya. Bila tak diangkat, boleh jadi Irwan sedang mengikuti acara dan tidak bisa diganggu. Makanya, cukup dikirim pesan pendek saja kepada beliau. Tak lama setelah acara, biasanya dia menelepon ulang. Berbeda bila dirinya tak sibuk, pastilah dia mengangkat ponselnya.

Agaknya itulah dirasakan Arfan, wartawan Posmetro Padang. “Jarang kepala daerah yang kooperatif seperti beliau. Biasanya baru saja setelah dilantik, mulai dari situlah terlihat perubahan dalam diri seorang kepala daerah. Bila dulunya gampang dihubungi, sekarang jangan harap seperti itu. Kalau tidak ponselnya mati, atau tidak bakalan diangkat-angkatnya. Bila ngotot juga, harus berhubungan dulu dengan ajudan atau humas,” tuturnya.

Bila sama bapak 10 anak ini, Arfan mengaku sangat leluasa. Bila tak lagi sibuk, pastilah diangkat oleh orang nomor satu di Sumbar itu. Bila tidak, beberapa saat setelah itu, biasanya dihubungi lagi. “Kadang kita segan pula menghubungi beliau malam-malam, namun karena ada yang harus dikonfirmasikan kepada beliau, mau tak mau kita pun menghubunginya. Ternyata, beliau tetap antusias dan bersemangat,” ujarnya.

Menariknya, tambah Arfan, selama menjabat lima tahun terakhir, nyaris tidak ada intervensi dilakukan Irwan terhadap media. Kalaupun ada yang ingin diklarifikasinya, pastilah terlebih dahulu dikonfirmasikannya kepada pimpinan media bersangkutan. “Baginya, apa pun yang diberitakan yang menyangkut dirinya, tak jadi masalah. Cuma saja, harus didukung data yang kuat,” jelas Arfan.

Biasa Naik Pesawat Ekonomi

Dalam berpergian, Irwan sudah terbiasa naik pesawat kelas ekonomi. “Saya sebenarnya tak mau terlalu jauh membahas soal itu (penerbangan di kelas ekonomi). Karena memang tidak ada maksud apa-apa, dan saya juga sudah terbiasa seperti ini. Duduk di kelas ekonomi itulah saya. Nikmatnya naik pesawat itu adalah saat take off tertidur dan ketika landing terbangun,” akunya.
Itulah sebabnya, selama menjadi gubernur, sudah tak menghitung lagi berapa ratus kali dia naik pesawat. Dan selama itu pulalah, dirinya mencatatkan diri sebagai ‘penumpang setia’ di kelas ekonomi. Tanpa harus merasa risih dan canggung ketika berbaur dengan ratusan penumpang pesawat lainnya dari kalangan rakyat biasa.

“Walaupun sebenarnya ada jatah di kelas bisnis. Namun, bagi saya kelas ekonomi atau bisnis itu sama saja, tak ada bedanya. Justru di kelas ekonomi jauh lebih baik, karena saya bisa berkomunikasi dengan masyarakat,” ujar pria yang sudah menghasilkan ratusan artikel itu.

Hal menarik lainnya, selama menjadi gubernur sejak dilantik 2010, dirinya juga baru menikmati fasilitas berupa mobil dinas (mobnas) baru persis di tahun ke-4 kepemimpinannya. Sebelumnya, dia justru lebih sering menggunakan mobil pribadi yang disulapnya menjadi kendaraan operasional kedinasan. Kebijakan pemakaian mobil pribadi ini, juga diberlakukan untuk kepentingan istri dan anak-anaknya. “Dulu pada awal menjabat, masukan untuk pembelian mobil dinas baru, saya tolak. Karena buat apa beli yang baru, toh mobil yang lama masih bisa jalan,” ujarnya.

Dalam kesehariannya, Irwan di berbagai kesempatan juga terlihat tak pernah mengenakan atribut gubernur. “Jangan paksa saya mengubah style hidup saya. Bagi saya, tampil sederhana tanpa atribut dan minim protokoler adalah simbol kedekatan dan tidak adanya pembatas antara pemimpin dengan rakyat. Protokoler dan atribut hanya akan menjauhkan pemimpin dengan rakyatnya. Sungguh, saya tak ingin begitu, karena saya juga manusia biasa,” ujar putra Kuranji Padang itu. (*)

Padang Ekspres, 14 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>