«

»

Primordialisme untuk Membangun

2 Februari 2016

Oleh Irwan Prayitno

 

Menjelang pertandingan final piala Sudirman antara Semen Padang FC dan Mitra Kukar tanggal 24 Januari 2016 lalu, hiruk pikuk pendukung klub kesayangan urang awak ini begitu luar biasa, baik di offline (dunia nyata) maupun online (dunia maya). Di dunia maya, banyak beredar gambar-gambar pelatih Semen Padang, Nil Maizar yang berbicara dengan pelatih Mitra Kukar, Jafri Sastra tentang “perang” antara kedua pelatih berdarah Minang ini. Di dunia nyata, diberitakan Wali Kota Padang ikut membantu memfasilitasi pendukung Semen Padang FC berupa bus untuk suporter ke Jakarta.

 

Bisa dikatakan, berbagai pihak yang ada di Sumbar bersatu mendukung kemenangan Semen Padang FC. Tidak hanya mereka yang ada di Sumbar, masyarakat Minang yang di rantau hingga luar negeri pun antusias memberi dukungan kepada Semen Padang FC. Para pedagang Minang yang ada di Jakarta dikabarkan cepat menutup tokonya supaya dapat memberi dukungan langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

 

Pada saat pertandingan berjalan di Stadion Utama GBK, pendukung Semen Padang FC dengan semangat memberikan dukungan, sekaligus mampu menjaga ketertiban. Ini terbukti hingga selesai pertandingan. Dukungan di luar stadion juga datang dari berbagai lapisan masyarakat. Tanpa sekat politik, sosial, ekonomi, seluruhnya bersatu memberikan dukungan kepada Semen Padang FC, seolah tiada konflik, padahal ajang pilkada serentak baru saja dilewati. Hingga pertandingan usai, esoknya sudah bermunculan beberapa video kreatif yang membicarakan hasil pertandingan. Di situ nampak ada kebanggaan orang Minang akan klub sepakbola mereka. Tidak hanya ketika mendukung, tetapi juga ketika ikut merasakan hal yang dirasakan oleh pemain dan pelatih saat menelan kekalahan. Dukungan dan empati banyak mengalir. Aura primordialisme di sini terlihat menguat.

 

Primordialisme menurut wikipedia adalah pandangan yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, seperti tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia primordialisme diartikan sebagai perasaan kesukuan yang berlebihan.

 

Primordialisme dalam realitas kehidupan masyarakat bisa dilihat dari survey yang dilaksanakan menjelang pilkada serentak. Calon kepala daerah yang berasal dari daerah A akan didukung sebagian besar masyarakat dari daerah A, calon kepala daerah yang berasal dari daerah C didukung oleh sebagian besar masyarakat daerah C.

 

Primordialisme seperti ini dan juga dalam dunia olah raga tidak bisa dipandang negatif, karena terjadi di banyak daerah, di mana jika mampu dimanfaatkan sebaik mungkin potensi ini maka justru akan memacu akselerasi pembangunan sebuah daerah.

 

Contoh nyata yang berasal dari masyarakat Minang sendiri. Begitu banyak dana dari perantau yang dikirim ke kampung halamannya untuk membiayai pembangunan masjid, jalan, sekolah, pasar, air bersih dan fasilitas umum lainnya, selain membangun rumah gadangnya atau kemenakannya. Begitu pula mereka yang sudah berhasil di ranah, serta tokoh-tokoh masyarakat, antusias membangun kampungnya.

 

Mereka dengan kesadaran sendiri dan antusiasme memiliki kebanggaan bisa membangun kampung halamannya sebagai bukti kecintaan kepada kampung kelahiran. Namun untuk hal ini ada batasan tertentu, perantau dari daerah A biasanya hanya akan membangun daerah A saja. Perantau daerah A belum tentu mau diminta membangun daerah B, meskipun sama-sama masih di Sumbar. Demikian pula orang-orang di ranah yang sudah berhasil, hanya berkeinginan membangun kampung mereka saja. Maka jika dibentuk sebuah lembaga yang mewadahi perantau seluruh daerah untuk membantu membangun Sumbar, kemungkinan sulit berhasil, karena kecenderungan dari perantau sendiri dan juga masyarakat di Sumbar, hanya terfokus kepada kampungnya saja atau sekitar kampungnya.

 

Untuk itu, potensi primordialisme yang positif di masyarakat ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan memberi dukungan potensi tersebut sesuai dengan kecenderungan yang ada, tidak bisa disatukan untuk seluruh daerah dalam satu wadah atau dilembagakan. Masing-masing perantau daerah diberikan dukungan untuk membangun daerahnya.

 

Semakin banyak daerah-daerah pelosok dengan jalannya yang bagus serta bangunan masjid megah dan fasilitas umum lainnya yang tersedia, adalah bukti betapa hebatnya potensi primordialisme masyarakat ikut berkontribusi membangun Sumbar.

 

Begitu banyak potensi yang bisa dibangkitkan untuk membangun Sumbar, di antaranya potensi primordialisme yang bisa diarahkan kepada hal positif. Masih banyak lagi potensi yang ada di Sumbar bisa dimanfaatkan untuk membangun Sumbar. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang mesti diperhatikan, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Hal yang menurut pengertian bahasa negatif, jika dimanfaatkan potensi kebaikannya, ternyata banyak memberikan manfaat yang luar biasa. ***

 

Padang Ekspres, 2 Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>