«

TdS: Promosi Pariwisata

15 November 2018

Alhamdulillah, perhelatan besar pariwisata Tour de Singkarak (TdS) 2018 telah berjalan dengan baik, dan ditutup secara resmi oleh Menteri Pariwisata Bpk Arief Yahya. Di hari penutupan, pembicaraan tentang TdS menjadi trending topic di media sosial. Ini memperlihatkan bahwa gema TdS telah menyebar ke berbagai penjuru sehingga menjadi salah satu pembicaraan terbanyak di media sosial.

Pada tahun 2018 ini, pelaksanaan TdS memasuki usia ke-10 sejak dimulai pada 2009, dan diikuti oleh 20 tim dari 26 negara. Setelah terjadi gempa 2009, gema TdS sempat meredup, meskipun tetap berjalan. Kemudian bangkit kembali pada 2011 bersamaan dengan pelaksanaan rehab-rekon akibat gempa di Sumbar.

Gempa 2009 yang banyak meluluhlantakan rumah penduduk, jalan dan jembatan, sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintah, pasar, juga ikut meredupkan pariwisata dan ekonomi Sumbar. Wisatawan dari Malaysia dan Singapura pun jumlahnya turun drastis. Diikuti penurunan jumlah wisatawan nusantara. Namun dengan terus berjalannya kegiatan TdS, telah mendorong pulihnya ekonomi dan pariwisata Sumbar.

TdS merupakan kegiatan olahraga sekaligus promosi wisata. TdS dilaksanakan dengan mencontoh pelaksanaan Tour de France di Prancis dan Tour de Langkawi di Malaysia yang memadukan sport and tourism. TdS di Indonesia adalah pelopor penyelenggaraan kegiatan sport and tourism. Beberapa wilayah lain mengikuti pelaksanaan TdS seperti Banyuwangi dan Lombok.

Konsep olahraga dan promosi wisata ini adalah dengan memulai start dari kawasan wisata dan finish di kawasan wisata, di mana rutenya juga dipilih melintasi kawasan wisata. Dengan hal tersebut, peliputan yang dilakukan oleh media nasional maupun internasional akan menyorot kawasan wisata tersebut. Sehingga ketika dipublikasi di berbagai media tersebut, baik kegiatan olahraga maupun kawasan wisata muncul dan dilihat oleh publik.

Kamera media dengan berbagai macam sudut pandang dan gaya masing-masing telah menjadikan berbagai kawasan wisata yang disorot tersebut tampil semakin menawan di mata publik. Hal ini yang kemudian menjadikan kegiatan TdS sebagai kegiatan olahraga sekaligus promosi wisata.

Promosi wisata dari TdS bukan ketika perlombaan tersebut berjalan, karena memang tidak banyak wisatawan yang datang, kecuali bagi masyarakat Sumbar yang menjadikan TdS sebagai tontonan yang menyenangkan. Ini terlihat dari antusiasnya masyarakat Sumbar menonton TdS sehingga menurut Amouri Sport Organization (ASO) jumlah penonton TdS masuk ke urutan lima terbesar di dunia.

Sementara dari sisi pelaku olahraganya sendiri, sejauh ini para juara di setiap etape masih banyak dikuasai oleh pembalap mancanegara dibanding yang berasal dari Indonesia. Sehingga dari sisi olahraga belum memberikan dampak signifikan bagi Indonesia. Namun kegiatan TdS telah memberikan dampak bagi kemajuan pariwisata di Sumbar. Sumbar semakin dikenal di Indonesia dan dunia.

Selain itu, kliping pemberitaan TdS yang pernah dikumpulkan oleh Kementerian Pariwisata jika ditumpuk maka tingginya tidak kurang dari 1 meter. Jika tumpukan berita tersebut dianggap sebagai hasil pemasangan iklan, maka disebut oleh Bpk Sapta Nirwandar nilai pemasangan iklan tersebut bisa mencapai trilunan rupiah.

Promosi wisata adalah upaya memperkenalkan potensi wisata atau destinasi wisata kepada publik. Kawasan wisata yang bagus atau kuliner yang lezat tidak akan didatangi banyak orang jika tidak dipromosikan, baik promosi dari mulut ke mulut maupun promosi bentuk lainnya. Contohnya adalah Malaysia yang mempromosikan potensi wisatanya melalui iklan di media dengan slogan “Truly Asia”. Iklan tersebut mengeluarkan biaya setara triliunan rupiah. Hasil dari promosi Malaysia tersebut di antaranya adalah, selama delapan tahun berturut-turut Malaysia ada di peringkat teratas indeks wisata halal dunia dari 130 negara yang disurvei dalam Global Muslim Travel Index oleh Mastercard-CrescentRating.

Dengan melakukan promosi, berbagai potensi dan destinasi wisata bisa diinformasikan. Baik danau, gunung, bukit, air terjun, desa, lembah, ngarai, pulau, ombak yang besar untuk surfing, kuliner, budaya, sejarah, semuanya bisa diketahui publik jika sudah dilakukan promosi.

Bali yang sudah dikenal lebih dulu oleh wisatawan mancanegara, telah dipromosikan sejak 1930an. Promosi yang dilakukan pada waktu itu awalnya adalah dari mulut ke mulut oleh mereka yang sudah datang ke Bali. Terutama oleh para tokoh terkenal seperti para pelukis dunia. Sedangkan Sumbar untuk skala nasional dan internasional, mungkin baru melakukan promosi yang terorganisasi sejak adanya TdS. Sehingga dari segi waktu memang kalah lama dengan Bali. Dari segi keindahan alam, Sumbar bisa bersaing dengan Bali. Maka jika dilakukan promosi yang terus menerus, jumlah wisatawan yang datang akan semakin meningkat.

Dan sejak kemunculan TdS sebagai promosi wisata nasional dan internasional, juga bermunculan promosi wisata lainnya dari Sumbar dalam skala nasional dan internasional, seperti Sawahlunto International Music Festival yang turut memperkenalkan Heritage City dipadu dengan pagelaran musik.

Beberapa kegiatan di Sumbar sudah masuk ke dalam agenda nasional kementerian pariwisata. Sementara TdS sendiri sudah masuk ke dalam agenda internasional dari UCI. Amplifikasi dampak dari kegiatan TdS yang sudah memasuki usia ke-10 bisa dibilang cukup memiliki pengaruh yang signifikan. Misalnya dari segi bertambahnya hotel, bertambahnya wisatawan yang datang baik nusantara maupun mancanegara, bertambahnya destinasi wisata, peningkatan kualitas destinasi wisata, penyiapan infrastruktur menuju lokasi wisata, bertambahnya jadwal penerbangan dari dalam dan luar negeri ke Sumbar.

Kenaikan pendapatan perkapita dari 15 juta rupiah di 2010 menjadi 37 juta rupiah di 2017 salah satunya disumbangkan dari sektor pariwisata. Dan ini dibarengi dengan menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran, yang juga disumbang oleh sektor pariwisata. Dan investasipun juga meningkat di sektor pariwisata, baik yang langsung terkait maupun yang mendukung.

Meskipun TdS 2018 lebih banyak dianggarkan dari APBD Sumbar dan kabupaten/kota, pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata tetap memberikan dukungan dan bantuan baik anggaran maupun lainnya kepada Sumbar. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah pusat, terutama Kementerian Pariwisata.

Selain itu, saya juga turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para bupati dan wali kota di Sumbar atas kerja samanya dalam menyukseskan TdS 2018. Dan juga kepada para pemangku kepentingan lainnya, termasuk juga media, komunitas, dan masyarakat. Semoga di tahun berikutnya bisa lebih baik lagi dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Sumbar. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 15 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>