«

»

Ramadan, Jihad Lawan Corona

30 April 2020

Bulan Ramadan adalah bulan bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Karena Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat 9 Ramadan 1364 Hijriah. Artinya proklamasi dilaksanakan di tengah umat Islam menjalankan ibadah puasa. Para proklamator dan pejuang yang mempersiapkan proklamasi di kala itu tengah melakukan suatu jihad di saat berpuasa. Bung Karno bahkan tengah diserang gejala malaria sehingga ia merasakan badannya demam menjelang proklamasi.

Sementara jika melihat sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw, perang Badar terjadi pada bulan Ramadan tahun 2 Hijriah. Malam ketika perang Badar Rasulullah Saw tak putus berdoa kepada Allah Swt agar kaum muslimin dimenangkan.

Sedangkan penaklukan Kota Mekah terjadi pada bulan Ramadan tahun 8 Hijriah. Dan menjelang penaklukan Kota Mekah, banyak yang menyatakan dirinya masuk Islam. Mekah ditaklukan tanpa pertumpahan darah. Dua peristiwa ini merupakan tonggak penting perjuangan Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin.

Bulan Ramadan saat umat Islam berpuasa kadang dimaknai dengan istirahat, tidur, produktivitas yang berkurang. Namun ternyata dalam sejarah, di bulan Ramadan justru umat Islam berjihad sehingga meraih kemenangan. Perut yang lapar dan tenggorokan yang haus tidak menjadi alasan untuk tidak berjihad.

Hari ini jihad umat Islam untuk konteks Indonesia bukan lagi berperang. Karena saat ini kita sudah merdeka. Namun saat ini jihad umat Islam di bulan Ramadan adalah menunjukkan kesungguhan untuk menghadapi penyebaran wabah Covid-19. Tanpa kesungguhan, kita tidak bisa berhasil. Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan hasilnya.

Bagaimana menunjukkan kesungguhan dalam menghadapi penyebaran wabah Covid-19? Di antaranya sering mencuci tangan, diam di rumah, memakai masker ketika keluar rumah, menjaga jarak fisik dan sosial ketika di luar rumah, menghindari kerumunan, mandi setiba di rumah setelah sebelumnya keluar rumah untuk suatu kegiatan. Jika kita gagal dalam kesungguhan ini, maka wabah Covid-19 berpotensi akan semakin menyebar.

Oleh karena itu, mari kita bersungguh-sungguh menghadapi penyebaran wabah Covid-19 dengan mematuhi aturan dan anjuran. Jika kita bersungguh-sungguh mematuhi aturan, kita akan menyelamatkan banyak orang. Terutama keluarga dan lingkungan terdekat kita, termasuk juga para tenaga medis dan kesehatan yang berjuang mengobati pasien.

Untuk bersungguh-sungguh, kita bisa mendengarkan pernyataan mereka yang terkena Covid-19 dan kemudian sembuh setelah menjalani perawatan. Saran mereka kepada yang tidak terkena, tetap di rumah saja. Mereka yang sudah menjalani perawatan ternyata sangat merindukan rumah mereka ketika mengalami karantina. Ada juga yang sudah terkena Covid-19 baru sadar bahwa apa yang disampaikan oleh pemerintah dan ulama harus dipatuhi.

Allah Swt akan menolong kita jika kita mengubah cara pandang dan perilaku dalam menghadapi wabah Covid-19. Yaitu bersungguh-sungguh taat terhadap aturan yang disampaikan pemerintah dan ulama. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Haluan 30 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>