«

»

Menuju Provinsi Energi Hijau

14 Mai 2012

Oleh Irwan Prayitno

Suka atau tidak, krisis Bahan Bakar Minyak  (BBM) pasti akan melanda dunia. Sesuai dengan laju pertambahan penduduk dan tuntutan teknologi , jumlah penggunaan BBM juga terus melaju secepat kilat. Baik BBM yang digunakan untuk pembangkit listrik, industri, transportasi maupun BBM yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Padahal BBM adalah materi yang tidak terbarukan (unrenewable). Maksudnya, BBM adalah energi yang akan habis, bukan energi yang terus menerus (renewable). BBM ditambang dari bumi, diperkirakan dalam waktu yang tidak terlalu lama cadangan/deposit BBM dalam bumi akan habis, tak bisa diproduksi lagi. Berbeda dengan tumbuhan, padi misalnya. Padi setelah dipanen bisa ditanaman lagi dan dipanen lagi, begitu seterusnya. Namun BBM tidak demikian, jika cadangan BBM di perut bumi habis, tidak bisa diperbarui lagi.

Karena itu BBM kian hari kian langka, sementara kebutuhan makin meningkat. Akibatnya harga BBM terus melambung dari waktu ke waktu, sesuai dengan kaidah ekonomi. Jika permintaan meningkat, sedangkan persediaan barang terbatas, maka harga akan meningkat.

Negara kita mengalami dilema yang cukup rumit menghadapi masalah ini. Kebutuhan BBM kita juga terus meningkat luar biasa.

Isu BBM menjadi sangat sensitif. Rencana kenaikan BBM menimbukan gelombang protes dan demonstrasi di seluruh pelosok negeri. Karena itu negara mengalokasi anggaran yang cukup besar untuk mengatasi masalah ini. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2012 subsidi BBMadalah sebesar Rp137 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp64,9 triliun. Jumlah dana yang cukup fantastis, yang jika bisa dialihkan dapat digunakan untuk melakukan pembangunan, membangun berbagai infrastruktur.

Protes, turun ke jalan, caci-maki, atau bakar-bakaran telah terbukti bukanlah sebuah solusi. Aksi ini malah memperkeruh suasana dan menimbulkan efek yang lebih buruk, gangguan keamanan, bahkan  situasi politik dan ekonomi pun ikut terganggu. Kita harus mencari alternatif lain yang lebih bijaksana, elegan dan berdampak nyata mengatasi masalah tersebut.

Energi hijau adalah salah satu solusi bijak untuk keluar dari masalah ini. Energi hijau adalah energi yang tidak berdampak buruk terhadap lingkungan dan terbarukan (bisa diproduksi terus menerus).  Jika BBM suatu saat akan habis dan tidak bisa diproduksi lagi, maka energi hijau tak pernah habis, bisa diproduksi secara terus menerus (renewable).

Dulu, energi nuklir disebut-sebut sebagai sumber energi alternatif yang sangat potensial sebagai pengganti BBM. Energi nuklir, meski memiliki resiko pencemaran radiasi nuklir dianggap potensial karena mampu menghasilkan daya listrik yang sangat besar. Namun setelah terjadi kebocoran reaktor nuklir di Fukuyama akibat gempa dan tsunami dan peristiwa Chernobyl dan berbagai peristiwa lainnya, pembicaraan tentang energi nuklir nampaknya mulai meredup. Pasca peristiwa gempa dan tsunami Maret tahun lalu, Perdana Menteri Jepang memutuskan untuk tak lagi memakai pembangkit listrik tenaga nuklir.

Ada beberapa sumber energi hijau yang saat ini diyakini sangat berpotensi sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan. Karena ramah lingkungan, energi tersebut dijuluki energi hijau (green energy).  Energi hijau menjadi topik penting saat ini di berbagai negara maju dan gencar dikembangkan di sejumlah negara, terutama negara Eropa.

Energi hijau tersebut diantaranya adalah tenaga air, angin, gelombang laut, tenaga matahari, geothermal , bio diesel dan bio massa.  Tenaga air sangat potensil digunakan untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Listrik tersebut bisa disimpan dalam baterai sehingga juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Begitu juga gelombang laut, tenaga angin, cahaya matahari bisa diubah menjadi listrik sehingga kebutuhan BBM atau batubara yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik bisa dikurangi.

Geothermal (panas bumi) juga merupakan sumber energi hijau yang sangat potensial yang disediakan oleh alam. Geothermal juga bisa dimanfaatkan untuk membangkit tenaga listrik dan teknologi pemanfaatan geothermal di Eropa sudah berkembang baik dan siap digunakan.

Teknologi Biodiesel adalah teknologi yang mampu mengubah produk tumbuhan menjadi bahan bakar sebagai pengganti BBM. Buah jarak, misalnya, bisa diolah menjadi minyak sebagai pengganti bahan bakar. Begitu juga singkong, tebu, nira bisa diolah menjadi etanol yang bisa berfungsi sebagai bahan bakar mesin atau kendaraan bermotor.

Bio massa seperti kotoran sapi atau sampah juga bisa diolah menjadi sumber energi.  Akibat proses fermentasi, biomassa akan menghasilkan gas metan, gas ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Begitu juga gelombang laut, bisa diubah menjadi energi listrik.

Sumbar memiliki semua potensi tersebut.  Ada empat negara yang memiliki potensi geothermal terbesar di dunia, salah satunya adalah Indonesia. Sumbar adalah pemilik potensi  geothermal terbesar di Indonesia.  Sumbar juga memiliki potensi sumberdaya air terbesar di Indonesia. Selain PLTA yang sudah ada, masih berpotensi dibangun PLTA lain dan puluhan mikro hidro pembangkit listrik tenaga air. Begitu juga sumber energi hijau lainnya, Sumbar punya potensi itu semua.  Yang belum cukup kita punya adalah ilmu, teknologi dan dana untuk mengolahnya.

Dalam kondisi demikian, tentu solusinya adalah belajar ke daerah lain yang memiliki ilmu, teknologi dan juga melakukan lobi agar mereka bersedia berinvestasi di Sumbar. Bavaria Jerman saat ini sedang melaksanakan seminar tentang energi terbarukan. Sebanyak 19 orang utusan Sumbar dikirim untuk belajar di sana, begitu juga di London Inggris sedang dilaksanakan beberapa pertemuan dengan pengusaha yang berminat mengembangkan energi terbarukan di Sumbar.

Dengan demikian potensi yang ada, tidak hanya terkubur sebagai  potensi yang tidak termanfaatkan. Jika potensi yang luar biasa itu bisa diolah dan dimanfaatkan tentu masalah krisis BBM yang krusial tadi tak jadi masalah lagi. Tidak hanya itu, jika semua potensi itu tergarap optimal, Sumbar bisa menjual listrik ke provinsi tetangga bahkan ke pulau Jawa yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kita bulatkan niat untuk menjadi Provinsi Energi Hijau pertama di Indonesia. Insya Allah, jika dilakukan dengan serius dan bekerja keras tentu Allah akan mengabulkan dan mimpi itu akan menjadi kenyataan. ***

Padang Ekspres 14 Mei 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>