«

»

Cintai Lingkungan Kita

7 Juni 2012

Oleh Irwan Prayitno

Tentu kita masih ingat lagu berjudul “Kolam Susu” yang diciptakan grup band Koes Plus tahun 1970an.  Lagu itu mengisahkan betapa subur dan indahnya Indonesia. Alamnya kaya, indah, bersahabat, memberikan kenyamanan dan ketentraman kepada rakyatnya.

Memang demikianlah kenyataan yang terjadi di Indonesia saat itu. Sungai-sungai  mengalir lancar di seluruh pelosok negeri, seperti nadi yang mengalirkan denyut kehidupan bagi penduduk sekitarnya. Anak-anak bersenda gurau dan tertawa riang sambil bermain dan mandi di sungai berair sejuk dan jernih.

Seperti yang dikatakan dalam syair lagu di atas, laut yang membentang di sepanjang wilayah Indonesia adalah lautan yang indah dan mempesona, keelokan itu digambarkan Koes Plus sebagai kolam susu, bukan lautan. Ikan dan udang tersedia berlimpah di sana. Ikan dan udang datang menghampirimu. Tongkat dan kayu pun, jika ditancapkan ke tanah bisa tumbuh subur menjadi tanaman.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Lautan kolam susu telah berubah menjadi lautan sampah.  Terutama di kota-kota besar, umumnya sepanjang pantai dan lautnya terhampar pemandangan memilukan, sampah beraneka ragam berjejal di mana-mana, bau busuk menyengat hidung.  Sungai tak lagi mengalirkan air jernih, tapi telah berganti dengan sampah, air jorok dan berbau busuk.

Ikan datang menghampiri? Jangan diharap lagi bisa tersua. Setelah berjuang antara hidup dan mati menghadang ombak dan gelombang ganas sekali pun, belum tentu nelayan kita bisa membawa ikan pulang yang cukup untuk bekal hidup anak dan istri mereka.

Dulu tak ada badai dan topan yang datang menghampiri. Kini badai dan topan seperti sudah menjadi agenda rutin sehari-hari. Fenomena baru yang terjadi saat ini, di kala matahari sedang bersinar cerah, tiba-tiba berubah kelam. Badai dan topan tiba-tiba datang menerjang, disertai hujan deras seperti ditumpahkan dengan amarah dari langit. Lalu bencana longsor, banjir, galodo datang melanda seperti menghantui.

Petani juga makin mengeluh, mereka makin dihimpit kemiskinan. Lahan yang mereka tanam makin tak subur, keras dan bantat. Sedangkan luas tanah yang mereka jadikan sawah dan ladang juga makin sempit karena telah ditimbun untuk dijadikan rumah dan berbagai bangunan.

Memang itulah kenyataan yang kita hadapi hari ini. Apa yang ditangisi dan dikhawatirkan para ilmuwan dan pemerhati lingkungan beberapa dekade lalu telah menjadi kenyataan di depan mata. Perubahan iklim (climate change)  yang dulu tak banyak orang yang mempercayainya, telah menjadi kenyataan hari ini. Dulu di negara kita jarang, bahkan hampir tak ada topan dan badai, kini telah menjadi agenda rutin hampir setiap hari. Dulu musim hujan dan musim panas terjadi seimbang sepanjang tahun, kini menjadi tak menentu.

Kini, musim kemarau terjadi berkepanjangan sehingga terjadi kekeringan ekstrim di berbagai wilayah yang disusul dengan musibah kebakaran, kabut asap, gagal panen dan kelaparan (kekurangan pangan). Sebaliknya musim hujan juga menjadi ekstrim dan luar biasa. Banjir, longsor, galodo adalah derita selanjutnya yang harus ditanggung bersama.

Kini tentu kita telah mengalami sendiri bahwa bencana akibat kerusakan lingkungan tak lagi sekedar wacana, tetapi telah berada dalam kehidupan kita sehari hari.

Kita bersyukur kepedulian masyarakat Sumbar terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup mulai tumbuh. Tahun lalu Sumbar hanya mendapat tiga penghargaan di bidang lingkungan hidup tingkat nasional. Namun hanya dengan sedikit memberikan semangat dan motivasi, masyarakat bersama aparat pemerintah bergerak cepat. Tak tanggung-tanggung tahun ini Sumbar memperoleh 28 penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional.

Yang lebih menarik, penghargaan itu terbanyak diperoleh oleh sekolah-sekolah. Ini berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup dengan cepat terserap oleh anak didik dan insya Allah akan mengubah  pemahaman, kesadaran dan perilaku mereka terhadap lingkungan hidup. Perubahan itu diharapkan juga segera menular kepada seluruh masyarakat.

Lingkungan hidup adalah keniscayaan bagi manusia, bahkan merupakan hak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Lingkungan menjadi isu dunia disamping isu HAM dan demokrasi. Bagaikan makan, minum, tidur adalah hak manusia yang tidak perlu diatur karena sudah pasti kita akan penuhi begitu juga dengan lingkungan hidup. Semoga rakyat sumbar dengan berbagai upaya dari pemerintah akan menjadikan lingkungan hidup yang baik dan menyatu dalam dirinya.

Mari kita mengubah prilaku kita untuk peduli dan mencintai lingkungan kita dan bersama-sama bahu membahu menjaga dan memelihara rahmat Allah tersebut  untuk kemaslahan kita bersama. ***

Padang Ekspres 7 Juni 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>