«

»

Inilah Fakta Asal Usul Irwan Prayitno

6 September 2015

Oleh Zamri Yahya, SHI

“APALAH arti sebuah nama ?” Ucapan itu sering terlontar dari mulut anak muda sekarang. Bagi mereka, nama itu tidaklah memiliki arti penting, karena hanya sebagai identitas panggilan. Dan menurut konsep Islam, “Al ismu ad-du’a,” nama itu adalah doa. Maka ketika memberikan nama bagi anak, kedua orang tuanya memiliki harapan sesuai nama itu.

Sudah umum orang Minang memberi nama anak dengan kearab-araban. Sebab, orang Minang pemeluk agama Islam, sehingga tak asing lagi kita mendengar nama orang Minang yang kearab-araban tersebut. Misalnya nama Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Muhammad Yamin, As’ad, Khairul Ikhwan, dan Adib Alfikri (dua nama belakangan adalah nama adik kandung Irwan Prayitno, red). Nama – nama tersebut tentu memiliki arti tersendiri dalam bahasa Arab.

Dari Abu Darda’, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi dan Baihaqi).

Dan sangat jarang orang Minang memberi nama anak mereka dengan bahasa Jawa atau kejawa-jawaan. Biasanya, kalau ada orang Minang yang memiliki nama kejawa-jawaan, kemungkinan besar ayahnya orang Jawa atau memiliki sejaran tersendiri. Lucunya, nama kejawa-jawaan tersebut menjadi isu politik yang terbilang hots pada Pemilihan Gubernur Sumatera Barat.

Penulis masih ingat, pilgub tahun 2005, dan 2010, isu itu dilontarkan oleh lawan-lawan politik Irwan Prayitno yang maju sebagai gubernur Sumatera Barat pada waktu itu. Irwan Prayitno dikatakan bukan orang Minang asli, melainkan diisukan sebagai orang Jawa. Pada pilgub 2005, isu itu sangat santer sekali. Dan pada pilgub 2010, sudah mulai agak berkurang, karena orang sudah tahu, bahwa Irwan Prayitno adalah asli Minangkabau. Lucu saja, pada pilgub 2015 ini masih ada orang-orang yang melakukan fitnah murahan dengan mengatakan Irwan Prayitno adalah orang Jawa.

Sebagai orang Minangkabau, Irwan Prayitno bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa jaleh sasok jarami-nya. Dia adalah putra asli Pauh IX Kecamatan Kuranji, bersuku Tanjung, dan dari gelar adat yang dia sandang orang tahu kalau dia adalah termasuk golongan ‘bangsawan’ Minangkabau di Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh (Pauh IX dan Pauh V). Dia merupakan penghulu suku Tanjung tapian Ampang. Ibunya asli orang Taratak Paneh Kuranji Kota Padang, ayahnya merupakan orang Tanah Datar, Sumatera Barat.

Lantas, kenapa orang tuanya memberikan nama Irwan Prayitno, bukan nama keminang-minangan. Tentu orang tuanya punya alasan tersendiri. Ketika ayahnya Drs H. Djamrul Djamal SH (dosen ilmu hukum dan Ketua Jurusan Jinayah Siyasah penulis ketika menuntut ilmu di Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, red) mengambil program tugas belajar sebagai pengajar ke PTAIN di Yogyakarta, Ia memboyong serta istrinya Dra Hj. Sudarni Sayuti. Di Yogyakarta, Sudarni hamil dan melahirkan. Nuansa Jawa di Yogya agaknya membuat Djamrul Djamal memilih nama itu.

Sebuah nama tentu memiliki arti tersendiri. Dan tentunya pemberian nama Irwan Prayitno oleh orang tuanya bukan tanpa alasan. Apatah lagi kedua orang tuanya merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi Islam kenamaan di negeri ini. Tentu tidak asalan memberi nama anak. Irwan sendiri memiliki arti perasaan pada keadilan dan Prayitno memiliki arti bijaksana. Jadi, kalau digabung memiliki arti perasaan pada keadilan dan kebijaksanaan.

Arti itu tak lebih tak kurang, juga pernah penulis dengar langsung dari kerabat dari pihak ayah Irwan Prayitno ketika berkunjung ke Batu Sangkar. Irwan Prayitno memanggil beliau dengan sebutan pak Uwo. Nah, pak Uwo ini menjelaskan kalau nama Irwan Prayino itu memiliki arti seorang lelaki yang memiliki rasa keadilan dan kebijaksanaan. Tapi penulis rasa, orang tuanya juga tak bakalan menduga, kalau Irwan Prayitno ternyata karir politiknya di Partai Keadilan (PK) atau sekarang ini bertukar nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), karena waktu Irwan Prayitno dilahirkan PK atau PKS belum ada.

Menilik artinya, nama Irwan Prayitno memiliki makna yang bagus. Dan mungkin itulah doa kedua orang tuanya. Si Buyung harus menjadi lelaki yang memiliki perasaan keadilan dan penuh kebijaksanaan. Dan kini, Irwan Prayitno telah menjadi pemimpin dan pembesar negeri. Dengan itu Ia diharapkan mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, tak hanya bagi orang-orang yang dekat dengannya, tetapi tentu bagi semua golongan.

Bersikap adil dan bijaksana sebagai pemimpin merupakan suatu keharusan dalam Islam. Ada contoh teladan yang baik dari Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika mendapat laporan bahwa gubernurnya di Mesir dijamu makan oleh para pengusaha setempat, dia menjadi khawatir dan memperingatkan:

”Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan pada diri Anda sendiri, dan carilah kepuasan rakyat, karena kepuasan rakyat memandulkan kepuasan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu tak akan mendekati Anda ketika Anda dalam kesulitan.”

Dan tentu, sikap adil dan bijaksana akan berujung kepada amanah dalam memimpin negeri. Dan Irwan Prayino dihati kader partai dan pendukungnya merupakan pemimpin yang amanah. Bahkan singkatan Irwan Prayitno – Nasrul Abit, yaitu IP-NA diberi kepanjangan IRWAN PEMIMPIN NAN AMANAH.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus dalam pemilihan Gubernur Sumatera Barat tanggal 9 Desember 2015 mendatang. Amin.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Alumnus Jinayah Siyasah IAIN Imam Bonjol Padang

bentengsumbar.com, 6 September 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>