«

»

Doyan Makan di Tepi Jalan

30 November 2015

BANYAKNYA pejabat negara dan pejabat publik di negeri ini yang doyan hidup mewah, sudah menjadi rahasia umum. Semua fasilitas dan kemewahan yang dia dapat dari jabatannya benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bahkan, untuk mempertahankan gaya hidup serba wah tersebut, mereka terpaksa melakukan korupsi.

 

Seakan tidak peduli dengan penderitaan rakyat badarai, bagi mereka fasilitas yang ada harus dimanfaatkan. Tak jarang pula mereka mengeluh terhadap fasiltas yang diberikan negara dan instansi tempat mereka bekerja, walau terkesan fasilitas yang diberikan sudah lengkap bagi orang kebanyakan, tetapi mereka masih menganggap kurang jika dilihat dari jabatan yang mereka sandang.

 

“Dijadikan indah pada¬† manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak¬† dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14).

 

Termasuk dari segi makanan. Kebanyakan pejabat di negeri ini doyan makan di restoran mewah. Makan di restoran mewah tentu saja menunjukan prestise kepada publik, bahwa mereka seorang pejabat dan berpantang makan di emperan jalan. Seakan mereka tidak sadar, bahwa mereka digaji rakyat dan diberi fasilitas, bukan untuk mempertontonkan gaya hidup mewah, tetapi menjadi pelayan rakyat, pembantu rakyat dan mengurusi urusan rakyat.

 

Ketika ada pejabat negara dan publik yang makan di emperan atau di tepi jalan, pejabat yang doyan hidup mewah tadi mencibir dan mengatakan pejabat yang hidup sederhana dan makan di tepi jalan tersebut sebagai pejabat kampungan, pejabat yang doyan pencitraan, pejabat munafik, pejabat sok suci dan segala macam gelaran yang ditujukan untuk menghina pejabat yang bersahaja tersebut.

 

Sebagaimana dialami oleh Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc., Datuk Rajo Bandaro Basa. Sebagai orang Kuranji yang dilahirkan dari keluarga yang islamis dan hidup sederhana, makan di tepi jalan atau di emperan sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari sejak kecil, sehingga ketika menjadi pejabat negara dan publik, dirinya tidak canggung makan di tepi jalan dan emperan.

 

Kedua orang tuanya mengajarkan Irwan Prayitno sejak kecil untuk hidup sederhana, rajin menabung, berusaha dengan sungguh-sungguh dan menjalankan gaya hidup dengan meneladani akhlak Rasulullah saw. Walau mampu makan di restoran mewah, tetapi Irwan Prayitno tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, apatah lagi menjadikannya prestise pertanda dirinya pejabat negara atau publik.

 

Selama lima tahun menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno selalu berpenampilan bersahaja, jauh dari prestise sebagai pejabat daerah. Dia tidak suka pakai atribut kebesaran sebagai gubernur karena ingin dekat dengan rakyat tanpa ada jarak yang memisahkan. Baginya, semua kemewahan sebagai pejabat merupakan jurang pembatas antara dirinya dengan rakyat. Termasuk dari segi memilih tempat makan dan jenis makanan, Irwan Prayitno lebih doyan memakan makanan seperti yang dimakan rakyatnya. Dia tak berpantang memakan makanan apa pun dan dimana pun.

“Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39). “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17).

 

Jakarta, 30 November 2015

Ditulis Oleh:

Zamri Yahya

Salah Seorang Pimpinan Bara Online Media (BOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>