«

»

Ketika Istri Pejabat Pakai Suntiang

7 November 2017

PADANG – Ada 400 sampai 600 jenis pakaian tradisional perempuan Minang, yang paling terkenal suntiang dan perangkatnya. Itulah yang diperagakan oleh istri gubernur, bupati dan walikota di Padang. Anggun. Lucu karena seolah mereka jadi nak daro lagi.

“Suntiangnya berat sekali, tolong bilang bapak cepat ke sini ya,” pinta Nevi Irwan Prayitno, pada sekretaris pribadinya Jumat sore (3/11). Ketika itu istri orang nomor satu di Sumbar itu memakai suntiang nak daro khas Padang, pada kegiatan pendokumentasian warisan budaya tak benda pakaian tradisi perempuan Minang yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Sumbar.

Kala itu Nevi, layaknya seperti anak daro. Dia tak sabar untuk bertemu marapulai. Bukan karena rasa rindu tapi karena beratnya suntiang yang ia junjung.

“Dulu saya, tidak pakai suntiang begini. Saya pakai pakaian adat Solok. Jadi ini baru pertama saya merasakan pakai suntiang. Benar benar berat, tidak kuat saya,” ujar Nevi, sambil tertawa lepas. “Iya suntiangnya berat, sama beratnya saat jadi penganten dulu,” ujar Ny. Lisda Hendra Joni, dia juga terlihat merasa berat memikul suntiang di kepalanya.

Ya, hari itu para istri kepala daerah, bundo kandung dan jajaran istri pejabat lainnya di Sumbar menggunakan suntiang, pakaian sumandan, baju kurung basiba ala bundo kanduang dan lainnya. Mereka terlihat cantik, bak anak daro yang sedang merayakan hari pernikahannya.

Selaku Ketua Penasehat Bundo Kanduang, Veni menjelaskan, adanya pendokumentasian dapat memberikan pengetahuan kepada generasi penerus, pakaian tradisi Minang yang asli seperti ini, sehingga, jika ada inovasi ataupun kreasi yang dibuat modern tentunya tidak keluar dari unsur yang aslinya.

“Meskipun ada yang melakukan kreasi yang lebih modern, namun keaslian pakaian tradisi perempuan Minang jangan sampai dihilangkan, harus sesuai dengan aslinya, sehingga, dengan adanya pendokumentasikan dalam bentuk buku oleh Dinas Kebudayaan dapat menjadi referensi dan pengetahuan bagi generasi penerus seperti ini pakaian tradisi perempuan Minang yang asli,” ujar Nevi.

Disebutkannya, pakaian tradisi perempuan Minang ini cukup banyak di setiap kabupaten/ kota di Sumbar. Baik itu juga mencakup nagari/desa, sehingga sangat penting pendokumentasian ini.

“Jika tidak dilakukan dokumentasi dari sekarang sangatlah rugi. Karena, ini merupakan warisan yang bernilai dan supaya tidak hilang begitu saja. Karena kita masyarakat Sumbar mesti bangga memiliki pakaian tradisi yang merupakan bagian dari budaya bangsa,” ulasnya.

Gubernur Irwan Prayitno dalam sambutannya mengatakan pakaian tradisi perempuan Minang merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang patut dilestarikan. Karena, telah melalui proses panjang sejak ratusan tahun yang lalu hingga menjadi pakaian yang dipakai oleh perempuan sekarang ini.

“Ini merupakan pakaian tradisi perempuan Minang yang telah melalui proses pembuatan ratusan tahun lalu dan masih dipakai hingga sekarang. Untuk itu pendokumentasian pakaian tradisi ini sangat diperlukan,” sebut Irwan.

Dikatakannya, pendokumentasian yang dilakukan Pemprov Sumbar ini melalui Dinas Kebudayaan Sumbar yang membawahi tentang kebudayaan patut diapresiasi. Sebab, adanya pendokumentasian akan menjaga aset pakaian tradisi perempuan Minang ini.

“Jadi, pendokumentasian akan di foto lalu dibuatkan semacam buku, yang nanti akan ada narasi dalam tiga bahasa yakni, bahasa Indonesia, Inggris dan Minang yang menunjukan asal daerah pakaian serta maknanya. Contohnya yang dipakai istri gubernur merupakan pakaian tradisi perempuan Minang asal Padang,” ungkapnya.

Ditambahkannya, dengan telah terdokumentasi dalam bentuk buku, sehingga, nanti dapat dilihat anak-anak generasi penerus bahwa pakaian tradisi perempuan Minang yang asli itu seperti ini. Serta, nanti juga dapat menjadi rujukan bagi perancang-perancang pakaian untuk mencontoh dalam pembuatan pakaian tradisi Minang yang dikombinasikan tanpa menghilangkan unsur pakaian tradisi yang aslinya seperti yang telah didokumentasikan.

“Jadi anak-anak generasi penerus dapat melihat seperti apa baju tradisi perempuan Minang yang asli itu dan perancang pakaian dapat jadikan ini sebuah referensi untuk membuat pakaian tradisi perempuan Minang yang modern tanpa menghilangkan keasliannya baik itu pakaian maupun pernak-perniknya,” katanya.

Selain itu, Gubernur mengimbau masyarakat untuk dapat mengenakan pakaian tradisi Minang dalam kehidupan sehari- hari. “Masyarakat bisa berkreasi untuk menjadikan bentuk pakaian maupun pernak-pernik untuk dipakai dalam keseharian,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Taufik Effendi menyebutkan pendokumentasian pakaian tradisi perempuan Minang ini penetapannya dilakukan dengan cara bermitra dengan Bundo Kanduang yang ada di kabupaten/ kota.

“Hasil dari penetapan Bundo Kanduang ini yang akan dibawa untuk didokumentasikan. Saat ini baru terdata sekitar 400 pakaian tradisi Minang, dan yang dapat terdokumentasi baru 200 pakaian tradisi Minang, sehingga, akan berlanjut terus pendokumentasian ini,” terangnya.

Lanjutnya, pakaian tradisi Minang ini merupakan warisan turun temurun dari keluarga pemiliknya. Sehingga, yang ditampilkan merupakan karya asli.

“Jadi ini merupakan pakaian asli turun temurun, contoh pakaian puti Dharmasraya. Keluarga kerajaan yang menyimpan, sehingga tidak ada duplikasi. Oleh karena itu kita lakukan pendokumentasian,” pungkasnya.

Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Prof Raudah Thaib mengatakan hampir setiap negeri punya pakaian. Dalam konsep filosofinya pakaian perempuan tidak mengikut pada pakaian laki-laki.

“Jika dihitung, jumlah pakai anak daro dan adat Minang mungkin sampai 600 macam. Belum lagi pakaian harian, tentu akan lebih banyak lagi,” sebutnya.

Dijelaskannya Raudah, dalam pandangan orang secara umum pakaian pengantin itu suntiang. Suntiang umumnya orang tahu punya orang Pariaman dan Pesisir. Padahal suntiang pakaian tutup kepala.

“Jadi ada bermacam-macam suntiang di setiap nagari. Seperti suntiang Payakumbuh namanya pisang saparak, Solok Selatan terkenal dengan taikonde, makuto dari Sungayang, ada pula serak dan lainnya,” beber Raudah.

Dikatakannya, pengenalan pakaian Minang pada kegiatan tersebut memberikan pengayaan pada masyarakat khususnya generasi muda, tentang kekayaan adat yang ada.

Di semua pakaian Minang yang asli, banyak sekali emas murni. Itu menandakan kehidupan perempuan Minang begitu mapan. Artinya perempuan Minang tidak akan pernah hidup miskin karena banyak sekali harta pusakanya.

Singgalang, 7 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>