«

»

Pengalaman dengan Wartawan dan Media

9 Februari 2018

• Sapto Andika Candra, Muhammad Nursyamsi

Sejumlah kepala daerah menceritakan pengalamannya dengan media dan wartawan. Mereka mengungkapkan ini terkait dengan pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang pada Jumat (9/2) mendatang.

Bagi Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Irwan Prayitno (IP), wartawan adalah sohib kerjanya sehari-hari, Pengalaman selama nyaris dua dekade sebagai figure publik membuat IP harus rela berurusan dengan wartawan, baik dari media televisi, cetak, daring, maupun radio saban harinya. Ya,pengalaman IP di panggung nasional dimulai sebagai anggota parlemen sejak 1999 silam. IP kembali terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan selama dua periode berikutnya.Tahun 2010, ia kembali ke Sumatra Barat untuk memimpin daerah dengan 5 juta penduduk tersebut. Pada Pemilihan Gubernur Tahun 2016, IP kembali terpilih untuk kedua kalinya.

Pengalaman panjang sebagai tokoh publik,diakui IP,memberinya pandangan baru tentang kinerja wartawan. Ibarat seorang guru, lanjutnya, saat ini IP bisa memberi nilai kepada wartawan-wantawan yang menanyainya, IP mengaku sudah terbiasa dengan pola pertanyaan yang diajukan wartawan kepadanya.

“Kalau saya ibarat guru, pertanyaan mereka sudah bisa saya nilai. Kamu dapat 10, kamu dapat sembilan, dia lima, dia empat. Kenapa ? Karena saya narasumber ujar IP kepada Republika, belum lama ini,

Komunikasi yang terjalin sekian lama bersama wartawan itu, ujar IP, memberikan gambaran bahwa kualitas wartawan belum merata. Hal itulah yang menurutnya bisa diperbaiki melalui uji kompetensi wartawan.

Meski begitu, IP juga kalau ibarat guru, menyadari bahwa baik pihaknya maupun wartawan sama-sama berjalan menuju arah perbaikan.

IP memandang bahwa media merupakan mitra pemerintah dalam menjalankan pembangunan. Tanpa ada media lanjutnya, pemerintah akan sulit melibatkan masyarakat dan menyosialisasikan pembangunan yang dilakukan.

Kalau gubernur ngomong di podium, yang dengar paling segelintir. Tapi, dengan media yang ikut hadir, bisa ratusan ribu orang mendengar. Nah, jadi ini peran media,yang tak bisa dipungkirilah,jelas nya.

IP juga menyebut Sumbar sebagai arena kaderisasi wartawanw-wartawan andal pada masa lalu. Menurut dia, tak terhitung wartawan yang memulai kariernya di Sumatra Banat, lantas hijrah ke daerah lain dan sukses mengembangkan karier di sana. “Wilayah jangkauannya menyebar hampir ke seluruh pelosok Indonesia” katanya.

Sementara, Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan ucapan selamat HPN yang jatuh pada 9 Februari. Menurut TGB, HPN merupakan momentum bagi seluruh insan pers untuk kembali mengingat esensi jurnalistik yang baik dan menghadirkan informasi yang objektif dan bermanfaat.

TGB menilai, insan pers harus menjaga objektivitas, akurasi, dan kesahihan berita. Bagi TGB, insan pers memiliki peran penting dalam memberikan edukasi dan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Dalam penjalanannya, dunia pers terus berkembang diTanah Air. TGB memandang perkembangan pers di Indonesia sudah cukup baik TGB membandingkan dengan kondisi saat masa-masa awal setelah Reformasi, Saat ini, kata TGB,insan pers di Indonesia sudah jauh lebih bentanggung jawab dibanding pada masa-masa awal Reformasi.

“Sekarang berita-berita sudah semakin berkualitas dan hamper tidak ada di media mainstream itu berita-berita yang hoaks dan ini kabar baik, ujar TGB.

Persoalan menangkal berita hoaks, lanjut TGB, menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi insan pers, mengingat merebaknya informasi yang datang dar media sosial (medsos),TGB menilai, insan pers berkontribusidalam memberikan penjelasan dan informasi yang utuh dalam menjawab pertanyaan publik. TGB meyakini, masyakarat akan percaya pada insan pers selama mampu menjaga objektivitas dan kesahihan sebuah berita, meski marak informasi yang datang dan medsos. Menurut TGB, masyarakat masih memerlukan media mainstream untuk mengetahui kebenaran informasi yang muncul dari medsos.

“Boleh saja media sosial berkembang, tetapi kalau media mainstream mampu menjaga objektivitas dan kesahihan berita, masyarakat akan kembali (ke media mainstream) untuk mengonfirmasi apa yang mereka baca dan dengar di medsos”, kata TGB.

Republika, 09 Februari 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>