«

»

Pena Emas dari PWI

27 September 2018

Pada 21 September 2018 lalu, di hadapan 12 panelis yang juga pengurus inti PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat yang datang ke Padang saya menyampaikan pokok-pokok pikiran saya tentang pers yang berjudul “Minangkabau dalam Jati Diri Pers Nasional”.

Beberapa pokok pikiran saya tersebut menceritakan bagaimana orang Minang memiliki karakter yang mendukung mereka berprofesi di dunia pers, dan kemitraan antara pemerintah dengan pers. Jika melihat kembali sejarah, sebagian besar pahlawan nasional dari Sumbar adalah para wartawan atau penulis, dan juga ada yang memiliki koran atau media cetak lainnya. Sebut saja, Hamka, M. Natsir, Abdul Muis, M. Yamin, H. Agus Salim, M. Hatta, Rasuna Said. Selain pahlawan nasional, tokoh-tokoh Minang yang menasional juga banyak berasal dari kalangan wartawan atau sastrawan.

Dari dulu hingga kini, orang Minang memiliki lingkungan yang mendukung untuk melahirkan berbagai karya tulis. Lingkungan yang egaliter, menjadikan orang mudah melakukan kritik, menyebarkan ide dan pemikiran secara independen, memunculkan kecerdasan yang dimiliki, dan bebas berbicara. Hal ini menjadikan banyak orang Minang berprofesi sebagai penulis, wartawan, sastrawan, guru, ulama, politisi, dosen, pedagang, diplomat, dan lainnya.

Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Pena Emas PWI, tentang Aur dan Tebing” Bpk Teguh Santosa yang juga salah satu panelis mengutip isi orasi saya. Beliau menjadikan aur dan tebing sebagai salah satu cara pandang saya terhadap pemerintah dan pers. Keduanya adalah mitra sejajar. Keduanya saling membutuhkan, sehingga fungsi masing-masing harus dijaga dan dihormati.

Aur adalah tanaman yang melindungi tebing sehingga tidak mudah runtuh. Sebaliknya tebing yang kokoh merupakan tempat yang baik bagi aur untuk tetap tumbuh. Jika tebing tidak kokoh, ia pun akan tumbang.

Agar kemitraan antara pemerintah dengan pers bisa berjalan dengan baik, maka kedua pihak harus mengetahui hak dan kewajibannya. Serta satu sama lain saling memahami fungsi dan tugasnya. Jika pemerintah menyediakan fasilitas, program, anggaran, untuk kemitraan dengan pers, maka dari sisi pers sendiri juga harus mengikuti aturan yang ada, baik aturan terkait UU Pers, aturan dari Dewan Pers dan aturan yang berlaku lainnya. Demikian pula wartawannya, telah memiliki pengakuan resmi dari instansi terkait seperti sertifikat wartawan. Sehingga bisa bekerja secara profesional. Maka dengan demikian kemitraan bisa berjalan dengan baik.

Sebaliknya, jika ada di antara salah satu pihak tidak memenuhi apa yang seharusnya dijalankan, maka akan terjadi kepincangan sehingga kemitraan tidak berjalan. Misalnya saja, ada wartawan yang terkait kasus hukum, atau ada media yang diadukan ke dewan pers. Untuk itu ke depannya, dalam suasana demokrasi yang selain memberi kebebasan berpendapat juga dikeluarkan aturan agar tertib. Maka kemitraan pemerintah dengan pers pun perlu aturan yang bertujuan menciptakan suasana tertib.

Ibarat adanya jalan raya, di mana setiap pemilik kendaraan berhak melintasi jalan raya, dikeluarkan aturan dalam bentuk rambu lalu lintas, marka jalan, lampu lalu lintas, dan UU Lalu Lintas. Tujuannya agar tercipta ketertiban dan kelancaran arus kendaraan, dan bukan untuk menghambat. Sehingga semua pengendara bisa terpenuhi haknya sekaligus menjalankan kewajiban sebagai pengguna jalan raya. Dengan demikian, jalan raya bisa dilalui berbagai kendaraan dengan memperhatikan aturan yang berlaku. Maka aturan yang berlaku terhadap pers, di antaranya media dan wartawan adalah untuk menjadikan kondisi lebih tertib.

Setelah saya selesai menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang pers, maka panelis berdiskusi dan kemudian memberikan penilaian isi pokok-pokok pikiran saya tersebut dengan nilai “cumlaude”. Dan kemudian disusul pemberian penghargaan Pena Emas.

PWI Pusat memberikan penghargaan tertinggi mereka yaitu Pena Emas kepada saya selaku gubernur karena dianggap memiliki peran dalam pengembangan pers nasional dan mendukung suasana kebebasan pers di Sumbar serta berkontribusi besar memajukan pembangunan daerah. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PWI Pusat atas penghargaan ini. Terus terang, penghargaan ini belum pernah terpikirkan oleh saya akan mendapatkannya. Dan sejauh ini dari Sumbar menurut Bpk Margiono (Ketua PWI Pusat) baru 2 orang yang mendapatkannya, yaitu Bpk. Rosihan Anwar (alm) dan saya sendiri. Maka penghargaan ini sesungguhnya merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sumbar.

Penghargaan Pena Emas ini bagi saya, semakin memotivasi untuk menjalin hubungan dan komunikasi yang lebih baik lagi, serta berkontribusi dan bermitra dalam artian positif dengan pers. Kerja sama dan kemitraan pemda dengan pers ini jika berjalan baik, maka akan memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi kalangan pers sendiri maupun pemerintah. Tetapi juga semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan karena menerima informasi dari media yang kredibel. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 27 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>