«

»

Cuaca Ekstrem

20 Desember 2018

Pada 12 Desember 2018 lalu, saya mengunjungi lokasi jembatan yang runtuh di Korong Pasar Usang, Nagari Kayu Tanam, Kab. Padang Pariaman. Saya datang bersama Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR dan Kepala Dinas PUPR Sumbar. Jembatan yang runtuh ini berada di jalur jalan negara rute Padang – Bukittinggi. Hujan lebat dengan intensitas tinggi menyebabkan jembatan tersebut runtuh diterjang arus air yang sangat besar dari Batang Ulakan. Di titik lain, dalam waktu yang tidak jauh berbeda juga ada jembatan yang terkena curah air yang sangat besar, sehingga menimbulkan kerusakan, namun tidak sampai runtuh.

Selain itu, hujan dengan intensitas tinggi ini juga menyebabkan terjadinya tanah longsor di beberapa titik di Sumbar. Terakhir pada 13 Desember 2018 malam kembali terjadi longsor di jalur Padang – Solok. Saya turut menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang meninggal dunia. Semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya, dan keluarga yang ditinggal diberikanNya kesabaran dan kekuatan. Dan bagi yang cedera dan luka, semoga Allah Swt sembuhkan segera.

Jika kita lihat lagi, di Sumbar memang banyak titik rawan yang berpotensi muncul bencana, yaitu banjir bandang dan longsor. Salah satu penyebabnya adalah seringnya terjadi gempa yang menyebabkan guncangan yang hebat. Guncangan yang sering ini menyebabkan tanah menjadi semakin rawan longsor karena semakin tidak stabil. Dan di daerah hulu sungai, batu-batu banyak berjatuhan akibat guncangan, sehingga paduan antara batu dan tanah yang runtuh menjadikan terbentuknya bendungan alami.

Ketika cuaca ekstrem, curah hujan tinggi di hulu menyebabkan bendungan alami jebol, lalu air turun dengan cepatnya dengan membentuk lidah air yang merusak daerah yang dilaluinya. Sementara curah hujan tinggi yang menimpa tanah yang sering terkena guncangan gempa menyebabkan terjadinya longsor. Di kawasan pegunungan kadang bekas longsor tersebut terlihat dari jauh. Tapi tidak membahayakan manusia. Namun ketika longsor terjadi di lintasan jalan, maka barulah terasa dampaknya kepada manusia.

Dengan kondisi demikian, maka infrastruktur di Sumbar memang sering terkena dampak dari air bah dan longsor, sehingga ada jembatan terputus, jalan tertutup longsor, atau jalan yang amblas karena longsor.

Kami mengimbau kepada masyarakat agar ketika terjadi cuaca ekstrem segera melakukan tindakan antisipasi. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan seperti pinggir sungai maupun di lereng atau pinggir bukit dan sejenisnya. Selain itu, di tengah cuaca ekstrem, masyarakat agar lebih memprioritaskan perjalanan daratnya pada siang hari. Jika terjadi hujan deras di siang hari maka agar segera waspada ketika melintasi jalan yang berada di kawasan perbukitan.

Dengan kondisi yang sering mengalami bencana, maka kami di pemerintahan sudah memiliki SOP (standard operating procedure) untuk mengantisipasi terjadinya jalan yang tertutup longsor atau jembatan putus. Untuk jembatan yang putus, maka kami segera mengirimkan jembatan darurat setelah jembatan runtuh. Dan ditargetkan bisa dipasang secepatnya. Karena kondisi darurat maka perjalanan kendaraan tidak bisa lancar seperti biasanya, harus bergantian. Namun ini sudah bisa menjadikan arus kendaraan berfungsi kembali.

Jembatan runtuh di Kayu Tanam tersebut, oleh Kementerian PUPR sedang disiapkan desain baru menggantikan jembatan yang hancur. Ini memakan waktu kurang lebih satu bulan. Desain baru ini diharapkan sudah bisa mengantisipasi bencana yang akan timbul sehingga bisa tetap bertahan kokoh.

Setelah desain selesai, maka dilanjutkan dengan proses tender yang memakan waktu kurang lebih dua bulan. Setelah tender menghasilkan pemenang, maka selanjutnya dalam masa 6 hingga 7 bulan dilakukan pembangunan baru jembatan. Diperkirakan bulan Oktober atau November 2019 jembatan baru sudah siap untuk dilewati.

Menjelang selesainya jembatan baru, maka dilakukan pengaturan arus lalu lintas. Karena jembatan hanya dilewati satu mobil dan satu arah.

Dengan pengaturan arus lalu lintas ini menjadikan masyarakat terganggu kenyamanannya. Terutama bagi mereka yang sering melewati jalan Padang – Bukittinggi. Namun karena ini merupakan musibah, dan dari pemerintah sudah berupaya maksimal, maka kondisi tidak nyaman ini memang harus dihadapi dengan sabar. Pembangunan fisik jembatan baru tentu hasilnya harus sebaik mungkin, maka dibutuhkan waktu untuk mewujudkannya.

Tulisan ini juga merupakan sosialisasi kami selaku pemerintah kepada masyarakat tentang upaya menormalkan kembali jalur Padang – Bukittinggi. Juga agar masyarakat mulai biasa menggunakan jalan Sicincin – Malalak. Untuk membantu pengguna jalan Sicincin – Malalak di malam hari, maka pemerintah akan menambah marka jalan sehingga terbantu perjalanannya di malam hari. Hal ini dikarenakan lampu jalan yang sudah dipasang sering dicuri orang yang tak bertanggung jawab.

Dari segi fisik, jalan Sicincin – Malalak kondisinya bagus. Namun di Malalak sering turun kabut, dan ini perlu diperhatikan para pengguna kendaraan. Semoga masyarakat pengguna jalan bisa memahami kondisi ini. Dan mohon doanya agar upaya yang telah dilakukan pemerintah membangun jembatan baru bisa selesai dengan baik dan tepat waktu.

Atas segala pengertiannya, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah Swt mudahkan segala niat baik ini sehingga lalu lintas Padang – Bukittinggi bisa normal kembali. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 20 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>