«

»

Nusantara Marandang

6 Desember 2018

Pada 2 Desember 2018 lalu saya menghadiri acara Nusantara Marandang di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Di acara ini diperagakan memasak randang dari 33 provinsi. Maka disebut sebagai “Nusantara Marandang”. Acara ini merupakan ajang sosialisasi randang sebagai makanan khas Indonesia yang berasal dari Ranah Minang. Di mana kita mengetahui bahwa randang sudah menjadi makanan favorit dunia. Dan sudah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia.

Randang memang merupakan makanan atau masakan khas dari ranah Minang. Proses memasaknya pun hanya bisa dilakukan dengan baik oleh orang Minang sehingga menghasilkan rasa yang lezat. Dengan adanya orang Minang yang merantau ke berbagai tempat seperti Malaysia menyebabkan randang pun didapati di Malaysia dan wilayah lain. Sehingga randang pernah diklaim sebagai masakan Malaysia.

Acara Nusantara Marandang juga memperkenalkan bagaimana prosedur pelaksanaan standar (SOP, standard operating procedure) dalam memasak randang yang sudah dilakukan oleh orang Minang turun-temurun. Sehingga kelezatannya tetap terjaga dengan baik dari masa ke masa. Dengan mengikuti SOP, maka siapa saja bisa memasak randang dan menghasilkan masakan yang lezat.

Di hotel-hotel Eropa atau Amerika, randang bahkan sudah dijadikan salah satu menu dengan harga yang cukup mahal. Karena cita rasanya yang bisa mengalahkan steak dan makanan Barat lainnya. Orang Barat memakan randang seperti halnya mereka makan steak, sehingga lebih banyak daging yang dimakan. Berbeda dengan orang Indonesia, jika memakan randang dengan nasi, biasanya nasinya yang lebih banyak.

Nusantara Marandang juga merupakan salah satu upaya Pemprov untuk semakin memajukan UMKM di Sumbar. Beberapa waktu lalu Pemprov Sumbar melibatkan UMKM menyediakan randang untuk disalurkan ke Lombok dan Palu. Ini juga merupakan bagian dari melibatkan UMKM yang bergerak di bidang produksi randang.

Jika randang semakin dikenal lebih baik oleh masyarakat dan menjadi bagian dari menu makanan harian maka diharapkan permintaan randang akan meningkat di Indonesia. Untuk mengantisipasi permintaan randang semakin meningkat, maka penjualannya bisa dilakukan melalui marketplace seperti Tokopedia, Buka Lapak dan lainnya, yang saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup online sebagian masyarakat Indonesia.

Salah satu kekuatan randang dibanding makanan lain adalah, randang merupakan “makanan adat”. Sebagai makanan adat, di masa dahulu randang dimasak secara bersama-sama dengan semangat kekeluargaan. Sehingga randang selalu hadir dalam berbagai acara adat, agama dan sosial. Randang yang terdiri dari daging, santan, lada dan bumbu mengandung filosofi adanya unsur ninik mamak dan pemangku adat, cadiak pandai, alim ulama, dan masyarakat dalam sebuah sistem sosial. Maka tak heran pewarisan secara turun temurun ini tetap terjaga hingga kini. Karena merupakan paduan antara kuliner yang lezat dan filosofi yang hidup dan tumbuh di masyarakat.

Sedikitnya, dari data yang ada, ada 400 jenis randang di Sumbar. Sementara di sisi lain, berdasarkan alokasi atau fungsi, ada randang untuk batagak penghulu, randang untuk sunatan, randang untuk manjalang bako, randang untuk pesta pernikahan, dan lainnya.

Selain itu, bentuk atau warna randang sesungguhnya beragam. Randang yang dimasak di Padang, Pariaman, Payakumbuh, Bukittinggi, Pesisir Selatan, Batusangkar, Solok dan wilayah lain warnanya bisa berbeda, rasanya juga bisa berbeda, dan juga ada yang kering maupun basah. Ini merupakan bentuk keragaman dan kekhasan dari tiap daerah.

Semoga dengan diadakannya Nusantara Marandang, semakin banyak wisatawan yang datang ke Sumbar berbelanja randang. Juga semakin meningkat permintaan randang dari penjuru tanah air. Selain itu, semoga randang pun bisa menjadi identitas Sumbar sehingga tidak ada lagi klaim yang bisa meresahkan masyarakat. Dan juga, semakin banyak masyarakat Indonesia yang tahu SOP memasak randang yang baik.

Sebagai upaya mempromosikan randang, dalam setiap sambutan yang saya berikan di depan para peserta kegiatan tingkat nasional yang diadakan di Padang, saya selalu sempatkan mengajak mereka yang hadir untuk membeli randang sebagai oleh-oleh dari Sumbar, selain kripik balado dan lainnya.

Semoga berbagai upaya yang sudah dilakukan Pemprov Sumbar dalam memajukan UMKM yang memproduksi randang mendapat sambutan baik dari berbagai elemen masyarakat. Baik di Sumbar sendiri maupun Indonesia. Sehingga kesejahteraan bisa semakin meningkat dan memberikan kebaikan bagi masyarakat. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 6 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>